Pemikiran

Menolak Rasisme dan Xenophobia

“Kalau menjadi orang Hindu, jangan jadi orang India. Kalau jadi Islam, jangan jadi orang Arab. Kalau jadi Kristen, jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini.”

Megawati menisbatkan kalimat di atas kepada Bung Karno, yang juga adalah ayahnya. Saya tidak pernah mendengar perkataan Bung Karno yang demikian, namun sebagai anak beliau mungkin Bu Mega lebih paham apa yang pernah dikatakan oleh ayahnya sendiri.

Ada masalah dalam kalimat tersebut yang mengganggu akal sehat saya. Sesuatu yang absurd dan tidak masuk akal dimana pemilik kalimat membandingkan agama dengan budaya, lalu antara kebangsaan yang satu dengan kebangsaan yang lain. Ini adalah sebuah masalah.

Mungkin jika dilontarkan oleh tukang parkir di pinggir jalan, kalimat di atas tidak akan menjadi masalah besar menimbang latar belakang pendidikan, luasnya wawasan ybs dan kemampuan berpikirnya; namun ia tetap merupakan sebuah masalah, tidak besar tapi tetap sebuah masalah. Apalagi ini dilontarkan oleh tokoh nasional yang pernah menjabat sebagai wakil presiden dan kemudian menjabat menjadi presiden. Ya, ini adalah masalah besar.

Dimana letak masalahnya? Pertama, agama dan budaya adalah dua hal yang berbeda. Adalah penting untuk memahami hal ini dengan jelas apalagi jika ia kemudian mengatakan bahwa Pancasila adalah “way of life” dimana sila pertama dengan tegas mengakui keberadaan Tuhan. Terlepas dari polemik sila pertama tersebut, Pancasila mengakui keberadaan Tuhan yang artinya agama dalam pemahaman Pancasila bukanlah hasil buatan manusia atau budaya.

Budaya adalah hasil pikir manusia dengan akalnya yang terbatas dan lingkupnya yang juga hanya mencakup sebagian dari wilayah tertentu saja. Adapun agama, diakui oleh Pancasila sebagai ajaran hidup yang diturunkan oleh Tuhan. Derajat agama, dalam hal ini, akan selalu berada di atas budaya. Yang satu adalah kreasi manusia, yang satu lagi adalah sesuatu yang ditetapkan oleh Sang Pencipta manusia.

Jika saja yang mengatakan kalimat tersebut adalah seorang yang menolak Pancasila sebagai dasar negara, maka kalimat tersebut bisa dikritisi namun logikanya tetap bisa dimaklumi. Namun karena kalimat tersebut diucapkan dalam kapasitas resmi, nasional, dan terbuka oleh seorang tokoh nasional yang mengagungkan Pancasila, maka ada derajat absurditas yang perlu dipertanyakan dari kemampuan berpikirnya.

Kedua, kalimat tersebut membandingkan satu kebangsaan dengan kebangsaan lainnya yang kemudian disusul dengan pengagungan budaya Nusantara. Ada pertanyaan yang sangat mendasar bagi si pemilik kalimat yaitu apa salahnya menjadi seorang yang berkebangsaan India, Arab atau Yahudi?

Baik agama maupun akal sehat tidak akan mempermasalahkan kebudayaan dan kebangsaan seseorang. Adalah perbuatan masing-masing individu yang perlu dievaluasi, apakah sejalan dengan etika dan norma sosial kemanusiaan yang diterima sesuai dengan jamannya. Mengatakan “jangan jadi orang India, jangan jadi orang Arab, jangan jadi orang Yahudi” karena budaya Nusantara yang kaya raya adalah sebuah pernyataan rasis yang merendahkan kebangsaan India, Arab dan Yahudi.

Apakah seorang WNI keturunan India tidak boleh menjaga kebudayaan mereka karena budaya Nusantara lebih kaya raya? Sesuatu yang sangat “debatable” karena India pun memiliki kebudayaan yang kaya raya. Apakah WNI keturunan Arab juga harus menanggalkan kebudayaan mereka dengan asumsi budaya Nusantara lebih kaya raya? Sekali lagi, “debatable” karena budaya Arab jauh lebih beragam mencakup asimilasi budaya dari Afrika dengan berbagai suku bangsanya, juga Persia bahkan Eropa.

Lalu apakah WNI yang berkeyakinan Konghucu juga harus menanggalkan kebudayaan Tionghoa karena budaya Nusantara yang kaya raya? Padahal budaya Tionghoa adalah salah satu kebudayaan awal yang tercatat dalam sejarah dunia modern sehingga juga beragam dan kaya raya.

Rasisme semacam ini adalah sebuah kebodohan. Dan sayangnya, malah disuarakan oleh tokoh nasional yang menjadi pimpinan salah satu partai politik terbesar di Indonesia. Ini adalah masalah besar. Hanya karena ia berusaha terlihat adil dengan juga mengkritisi umat Hindu dan Kristen selain daripada umat Islam, tidak menjadikan kalimat di atas luput dari rasisme yang merendahkan derajat kebangsaan lain di atas kebangsaannya sendiri.

Semoga tulisan ini dapat disikapi dengan bijak sebagai sebuah kritik terhadap kebodohan rasisme. Di belahan dunia lain, negara maju dan berkembang sama-sama sedang memerangi kebodohan serupa. Rasisme dan xenophobia adalah produk kebodohan manusia yang melahirkan kekerasan, pengucilan, diskriminasi dan bahkan pembantaian segolongan kaum. Lalu di negara ini, rasisme dan xenophobia malah di-“glorifikasi” demi kepentingan politik. Menjijikan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s