Pemikiran

Adil Dalam Obyektivitas

Pernah dengar kisah seorang Qadhi Syuraih ibn Harits Al Kindi yang melihat perkara secara jujur dan adil? Sebagai hakim di tengah kaumnya, Syuraih telah memenangkan musuh anaknya di atas anaknya sendiri. Dalam kisah lain, Syuraih memenangkan perkara seorang penjual kuda di atas Umar ibn Al Khaththab RA yang ketika itu menjabat sebagai Amirul Mu’minin. Salah satu kisah yang terkenal lagi adalah bagaimana Syuraih menangkan seorang kafir dzimmi dalam perkara baju zirah melawan Ali ibn Abi Thalib RA yang ketika itu juga menjabat sebagai Amirul Mu’minin.

Terlepas dari perdebatan di balik kebenaran kisah tersebut, kita bisa melihat bagaimana keadilan dalam Islam tidak lagi melihat aqidah, jabatan politik, status hubungan kekeluargaan dst. Keadilan tegak di atas kebenaran Islam, bukan di atas prasangka, bukan di atas pendapat populis mengatasnamakan persatuan umat yang semu, bukan di atas kepentingan dan keberpihakan politik atau untuk menjatuhkan lawan politik dengan muslihat yang licik.

Mungkin jika Syuraih hidup di jaman ini, ia akan dilabeli Ahokers karena ia menangkan seorang kafir dzimmi melawan Ali ibn Abi Thalib RA. Padahal keputusan Syuraih bukan berarti pembelaan atas kafir dzimmi tersebut, namun pandangan obyektif beliau atas kasus perkara yang ada di hadapannya. Pandangan ini bisa jadi bertentangan dengan keyakinannya itu sendiri. Bagaimana mungkin Syuraih menganggap Ali ibn Abi Thalib RA telah berdusta dalam perkara baju zirah tersebut? Tentu tidak. Tapi pembelaan Ali RA lemah dalam hal saksi sehingga Syuraih memenangkan si kafir dzimmi. Adil tidak berarti benar, memang. Tapi dengan berlaku adil, kita hindari diri dari kesalahan.

Ketika saya mengatakan bahwa saya tidak melihat Ahok mencela Islam, itu karena saya berusaha berlaku adil terhadap pandangan obyektif saya. Saya sudah melihat video pernyataan tersebut dan saya menilai Ahok tidak menuduh Al Quran berbohong melainkan ada orang yang menggunakan ayat Al Quran untuk berbohong. Ada subyek yang tidak dijelaskan dalam pernyataan Ahok. Jika Ahok menuding ulama sebagai pelaku pembohongan pun, maka ini tetap bukan penistaan terhadap agama. Ulama bukanlah agama. Apalagi jika yang dimaksudkan oleh Ahok adalah politisi Muslim yang berbohong menggunakan ayat Al Quran. Ini bukan pertama kalinya terjadi.

Jika anda memiliki perbedaan pendapat dan anda membela pendapat anda, maka itu adalah hak konstitusional anda. Demonstrasi 411 kemarin berlangsung damai dan sukses dalam pandangan saya. Perbedaan pendapat mengenai apakah Ahok menghina Al Quran atau tidak, sama sekali bukan urgensi. Faktanya, Ahok adalah seorang kafir yang menempati jabatan strategis sehingga memilihnya menjadi pejabat strategis adalah sebuah keharaman yang jelas dan tidak perlu diperdebatkan.

Yang saya lihat urgen adalah agar pembelaan terhadap ayat Al Quran tidak terhenti di kasus Ahok saja. Ada banyak ayat Allah yang tidak bisa ditegakkan di negara ini karena dicekal dan dilecehkan oleh pembuat hukum negara ini. Ayat riba, ayat hudud, ayat zakat, haramnya pajak, haramnya khamr dst. Riba, khamr, pajak dsb dilindungi praktiknya oleh hukum yang selama ini mengesampingkan ayat Al Quran. Apa ini bukan pelecehan? Apa ini bukan penghinaan?

Jika memang keikhlasan dalam membela ayat Al Quran adalah motor di belakang aksi demonstrasi 411 kemarin, maka mari lanjutkan keikhlasan tersebut untuk membela ayat-ayat Allah yang lain yang selama ini dikesampingkan, disingkirkan, ditidakacuhkan, dilecehkan, dihinakan. Mari bersama-sama menuntut keadilan atas ayat-ayat Allah ini agar Al Quran tegak di dalamĀ konstitusi kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s