Kehidupan, Pemikiran

Sedikit Tentang Ikhlas dan Amal

Sebuah peribahasa Melayu yang cukup sering kita dengar tiba-tiba melekat di pikiran saya. “Gajah mati meninggalkan gadingnya, harimau mati meninggalkan belangnya, manusia mati meninggalkan namanya,” demikian bunyi peribahasa tersebut. Kita semua tentu paham apa yang dimaksudkan dengan peribahasa tersebut.

Manusia mati meninggalkan nama. Hanya sebuah nama di atas nisan. Kira-kira apa arti sebuah nama di atas sebuah nisan tersebut?

Mungkin akan lebih tepat jika peribahasa tersebut dilengkapi dengan sudut pandang seorang Muslim, terutama karena saya seorang Muslim. Dan jika terserah kepada saya, maka saya akan menambahkan ke dalam peribahasa tersebut satu kalimat pelengkap. “Hanya saja Muslim mati membawa amalnya.”

Ya, seorang Muslim mati bisa jadi tidak meninggalkan nama. Ia bisa jadi tidak dikenal oleh dunia, atau bahkan tetangganya. Bisa juga, ia mati tanpa dikenang oleh saudaranya sendiri. Namun tidak mungkin seorang Muslim mati, tanpa membawa amalnya. Amal adalah bekal yang kita bawa setelah mati. Ini adalah janji dari Allah ta’ala dalam banyak ayat-Nya.

Bisa jadi amal tersebut tidak membuatnya dikenal dan dikenang sepanjang masa. Bisa jadi dengan amal tersebut, tidak membuatnya dihormati, disanjung atau dipuji. Bisa jadi amal tersebut tidak dilihat oleh orang lain dan bahkan tidak dimuliakan oleh banyak orang. Tapi tetap amal tersebut adalah bekalnya untuk di akhirat kelak.

Maka itu, seorang Muslim akan beramal terlepas dari apakah amal tersebut membuatnya terkenal, populer atau disanjung. Ia mengorbankan dirinya untuk keluarga, masyarakat, dan umat manusia bukan untuk dipuja layaknya pahlawan, pejuang, artis dan selebriti. Ia bekerja dan beramal bukan untuk mencari penghormatan dari siapapun yang disekelilingnya. Melainkan, ia mengerjakan semua itu agar ia dapat membawa amal sebanyak-banyaknya sebagai bekal kelak di akhirat. Sebuah alasan yang bisa jadi egois, namun beranjak dari keimanannya akan keberadaan akhirat yang kekal.

Tanggung jawab dan kewajibannya, ia emban tanpa ia berbagi kepada siapapun. Jikapun ada yang bersedia menanggung tanggung jawab dan kewajibannya tersebut, maka ia memuji Allah dan juga berterima kasih kepada mereka itu. Namun ia tidak menjadikan orang lain sebagai bantalan untuk mengerjakan kewajiban dan tanggung jawabnya, karena ia tahu setiap kewajiban yang terlaksana dan tiap tanggung jawab yang terpenuhi akan menuai amal bagi dirinya sendiri, bukan untuk orang lain.

Lain halnya dengan hak yang ia miliki dan dapatkan dari imbalan atas kewajiban dan tanggung jawab tersebut. Haknya ia rasakan sebagai sesuatu yang murah dan rendah. Ia tidak menyanjung apa yang ia miliki, tidak ia sayangi juga tidak merasakannya sebagai miliknya seorang. Karena ia tahu, bahwa tiap hak yang ia miliki saat ini, adalah pemberian dari Dia yang Maha Pemberi Rezeki. Dan adalah firman-Nya yang mengatakan bahwa ada hak orang lain yang terdapat dalam apa yang ia miliki. Maka itu, berbagi haknya adalah perkara yang mudah.

Apa yang ia miliki, seringkali juga milik orang lain. Entah dengan cara apa ia berbagi. Bisa ia belanjakan hartanya untuk memberi makan anggota keluarga atau saudaranya. Bisa juga ia keluarkan sebagian untuk teman, kerabat dan orang lain yang sedang membutuhkan. Seberapapun kecilnya ia bisa berbagi, dengan cara apapun ia bisa memberi, maka itu ia lakukan. Karena dengan membagi haknya, ia juga menumpuk bekal untuk kelak di akhirat.

Sekali lagi, bisa jadi apa yang ia lakukan tidak akan mendapatkan penghargaan dan penghormatan dari orang banyak. Bisa jadi apa yang ia lakukan malah mendapatkan cibiran dari mulut-mulut yang dengki. Bisa juga apa yang ia kerjakan menuai kecaman dari kebodohan masyarakat. Tapi ia tetap kerjakan karena satu tujuan, menumpuk bekal untuk akhirat yang kekal.

Semoga tulisan ini senantiasa mengingatkan saya akan arti dari amal dan keikhlasan untuk beramal. Dan dengannya saya bisa beramal dengan penuh keikhlasan. Agar kelak saya bukan hanya sekedar manusia yang mati meninggalkan nama, melainkan juga menjadi seorang Muslim yang mati dengan membawa amal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s