Kehidupan

Sedikit Bertanya

Indahnya ukhuwah, baik dalam lingkup manapun, ditunjukkan dengan kebersamaan dalam pengorbanan yang diberikan oleh semua yang ada didalamnya. Ada kebersamaan dan ada pengorbanan. Keduanya beriringan dan berjalan bersama. Baik dalam keluarga antara suami, istri dan anak-anak, maupun dalam lingkup komunitaa yang memiliki tujuan yang jelas. Atau bahkan dalam lingkup yang jauh lebih luas, yakni dunia internasional.

Walaupun bersama, namun tanpa pengorbanan maka tidak akan ada ukhuwah. Tak akan ada ikatan yang menyatukan jiwa dan raga kepada tujuan bersama. Sehingga kebersamaan itu hanya akan berasa hambar, kaku, dan sekedar formalitas saja.

Ada sebuah fenomena yang saya lihat belakangan ini dalam lingkungan aktivis dakwah. Ukhuwah merenggang dan semakin menjadi kaku. Semua salam dan basa-basi hanya menjadi formalitas tanpa landasan cinta dan kebersamaan. Tidak ada ruh, hanya ada kumpulan manusia dengan tujuan yang jelas namun tak ada pergerakannya.

Contoh saja, kita sibuk dengan musibah yang sedang dialami oleh saudara-saudara kita di belahan dunia lain. Namun kita lalai melihat kesulitan yang mendera saudara-saudara kita yang bisa jadi adalah tetangga kita. Berapa banyak dana dan waktu yang bisa kita luangkan untuk penderitaan saudara-saudara kita nun jauh disana, tapi kita tidak meluangkan dana bahkan waktu sedikit saja untuk sekedar bertanya mengenai kabar ikhwah kita di kota tempat kita tinggal.

Kita bisa berbicara berjam-jam mengenai konflik politik dan jihad yang terjadi di Gaza, Suriah dan Afghanistan. Tapi kita tidak tahu kalau ada ikhwah yang sedang kesulitan dan tidak memiliki penghasilan, sedangkan istrinya sedang hamil tua dan mereka belum memiliki dana sepeserpun untuk biaya persalinan.

Ketika membahas soal Mesir, kita bisa bicara berapi-api menghujat As Sisi dan pemerintahan tiran-nya. Tapi ketika ada saudara kita yang didzalimi oleh sistem demokrasi kapitalis di negara kita sendiri, kita malah melengos dan diam seribu bahasa.

Tentulah bantuan yang kita kirimkan kepada saudara-saudara kita di Suriah, Ghaza, dan belahan dunia lain merupakan amal ibadah yang kita harapkan pahalanya di sisi Allah kelak. Namun, apakah prioritas dan tanggung jawab kita lebih berat kepada saudara kita disana atau justru saudara yang kita kenal secara pribadi?

Pertanyaan ini sering saya ajukan, karena seringkali saya kehilangan prioritas dan lupa akan beban untuk membantu mereka yang dekat dengan saya. Padahal kedekatan mereka baik secara geografis maupun psikologis, memberikan bobot tersendiri dan menjadi beban kewajiban yang juga besar.

Betapa indah ukhuwah yang ditunjukkan oleh kaum Anshar kepada Rasulullah dan para sahabat beliau. Bukankah seperti itu kita diajarkan untuk memperlakukan mereka yang seiman dan seaqidah dengan kita? Lalu mengapa rasanya sulit untuk berikan bantuan kepada mereka yang dekat dengan kita? Apakah kepekaan kita sudah menghilang sehingga kita melupakan mereka yang berjuang bersama-sama dengan kita dalam dakwah?

Ini hanya pemikiran yang saya tuangkan, tentu isinya penuh dengan kesalahan dan terbuka untuk kritik. Wallahu a’lam bish showab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s