Pemikiran

Soal Dakwah

Apa kepentingan seorang da’i terhadap nama atau bendera kelompok? Padahal nama atau bendera tersebut tidak ditanya kelak di akhirat. Tidak juga nama atau bendera tersebut menambah pahala atau mengurangi dosanya.

Jika gerakan kita terkooptasi dalam sekat yang kita buat sendiri, maka jangan heran jika benturan semakin sering kita hadapi. Bukannya solusi, malah masalah. Bukannya jawaban, malah pertanyaan. Bukannya sampai tujuan, tapi tersesat dalam wacana.

Membebaskan diri dari sekat diperlukan kedewasaan, kematangan dan kebijaksanaan. Mengeluarkan diri dari perangkap fanatisme hanya bisa dilakukan dengan kembali mengingat dan mengkaji perkara-perkara pokok dan mendasar.

Agar langkah kaki tidak terbebani oleh pasung yang kita pasang sendiri, agar ia melangkah bebas ke arah tujuan tanpa beban lebih yang meletihkan. Selama ia sesuai panduan dan tuntunan, kenapa kita ributkan yang sepele?

Ketika sebuah ijtihad tidak terbuka untuk kritik, maka ia akan mati dalam kejumudan, geraknya akan terhambat oleh kakunya langkah dan hasilnya tidak akan sesuai dengan kebutuhan umat. Keterbukaan terhadap kritik bukan berarti liberalisasi prinsip, tapi kesediaan untuk menerima diri sebagai mahluk yang bisa saja salah.
Ketika sebuah ijtihad dibakukan menjadi sesuatu yang tidak bisa berubah, tidak lagi terbuka untuk koreksi, tidak juga bersedia untuk membenahi diri, jelaslah fanatisme telah merasuki pengikut ijtihad tersebut. Membekukan sesuatu yang seharusnya cair sama saja dengan membatasi ruang gerak, menutup diri dari perubahan dan potensi kebaikan.

Ketika sebuah ijtihad disucikan dari perubahan dan perkembangan, ia menjadi sesuatu yang dikultuskan, ditinggikan daripada semestinya, juga diagungkan daripada tempatnya. Dan ketika itu juga, ia menjadi ilaah selain dari Rabbul ‘alamiin.

Tarbiyah tidak berhenti ketika selesai membaca kitab-kitab. Tarbiyah tidak berhenti selepas kita pulang dari medan jihad. Tarbiyah tidak berhenti bahkan ketika label ustadz, kyai, syaikh disematkan di depan nama kita.

Rasulullah berdakwah selama puluhan tahun. Di dalam kurun waktu tersebut, Rasulullah menerima tuntunan Rabbani, wahyu, arahan Ilahi. Di dalam kurun waktu yang sama, Rasulullah juga berjihad, memimpin sholat, mengumpulkan dan menyalurkan zakat, mengajarkan Islam dan nilai-nilai akhlaq. Siapakah yang paling tertarbiyah di antara manusia jika bukan Rasulullah, bahkan gelar yang disematkan kepada beliau bukan sekedar ustadz atau syaikh.

Hingga di penghujung umur beliau, Rasulullah menerima wahyu yang justru sarat dengan arahan, tuntunan dan tarbiyah. Di akhir perjuangan Rasulullah, justru Allah mentarbiyahnya dengan ayat-ayat yang menyiratkan kerendahan hati. Betapa tak henti tarbiyah ruhiyyah dalam hidup seseorang yang ikhlas kepada Allah.

Lalu dimana aktivis dakwah saat ini jika mereka tidak sibuk dalam tarbiyah Islamiyyah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s