Kehidupan

Bersikap Dewasa

Apa gunanya berteriak kepada mereka yang ‘tuli’? Mereka menutup diri atas suara yang memberikan peringatan atas sikap dan langkah mereka. Telinga mereka pekak dengan syahwat yang mereka buat sendiri, habislah suara kita sebelum kita meraih manfaat apapun.

Apa gunanya menunjukkan jalan kepada mereka yang menutup matanya sendiri? Mereka mengenakan kacamata kuda sehingga hanya dapat menatap satu arah ke depan, menghiraukan rambu-rambu jalan yang ada di samping kanan dan kiri. Yang terpenting bagi mereka adalah tujuan syahwat mereka, bukan kebenaran, bukan pula keadilan.

Bahkan mereka rela menutupi kebenaran jika kebenaran itu menghalangi mereka dari syahwatnya. Mereka rancukan makna, perbedaan pendapat dan fakta demi meraih kepentingan mereka.

Mereka juga rela mengesampingkan keadilan, menyisihkan kebaikan yang ada dan mengeksploitasi keburukan sekecil apapun. Mereka menolak apapun yang menutupi syahwat mereka, dan berpegang kepada apapun yang melanggengkan kepentingan mereka.

Jika kedewasaan adalah menerima konsekuensi dari pilihan yang kita buat, maka mereka justru menutup konsekuensi tersebut rapat-rapat, membuangnya di pojokan yang sempit dan jauh agar tidak lagi terlihat oleh mata, tercium oleh hidung, dan terasa busuknya oleh indera. Mereka hiraukan apa yang nyata, lalu bertumpu kepada dzon. Di ujung perkara, mereka bersembunyi di balik apa yang mereka sebut sebagai “mashlahat”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s