Pemikiran

Muhasabah dan Taubat

Ibnul Jauzi mengatakan bahwa manusia hanya hidup dalam tiga masa. Yaitu masa lalu yang merupakan sesuatu yang tidak bisa diubahnya, masa kini dimana ia sedang menjalaninya dan masa depan yang seseorang tidak akan dapat tahu apakah ia akan bertemu dengannya.

Ada banyak hikmah yang bisa kita petik dari nasihat Ibnul Jauzi di atas. Bahwa apa yang kita benar-benar miliki adalah hanya masa kini. Adapun masa kini terbentuk dan terjadi karena masa lalu kita. Apa yang kita miliki saat ini merupakan kasualitas dari apa yang sudah kita kerjakan, lengkap dengan kesalahan, kekurangan dan juga kelebihannya.

Jika demikian, perlulah kita menilai “modal” yang saat ini ada di tangan kita sebelum kita dapat meneruskan langkah kita. Jika saat ini yang tersedia bagi kita adalah pilihan yang buruk-buruk, maka jelas ada kesalahan pada masa lalu kita yang sengaja ataupun tidak kita sengaja. Jika saat ini kita dalam keadaan tersungkur di hadapan musuh, maka jelas ada permasalahan fatal yang perlu kita evaluasi dan koreksi.

Karena hanya masa kinilah yang kita miliki. Masa lalu adalah sesuatu yang sudah terlepas dari tangan, hilang terbawa waktu. Masa kini adalah titik tolak kita ke depan, pijakan kita untuk melangkah. Evaluasi di masa kini inilah yang perlu kita lakukan agar kita melek kenyataan, bukan hidup dalam angan-angan kejayaan kaum atau pembenaran atas keterpurukan umat.

Bersyukurlah kepada Allah karena masa depan selalu dapat menjadi harapan, hanya jika kita berhasil melakukan evaluasi, muhasabah, bersedia untuk lakukan koreksi. Jika kesalahan di masa lalu tidak dijadikan pelajaran, maka ia akan diulang dan dilakukan kembali. Kalau demikian keadaan kita, tidak dapat dikatakan ada yang namanya taubat. Tanpa taubat, masa depan hanyalah fatamorgana yang akan hilang.

Muhasabah adalah metode kritik diri agar tumbuh sikap mawas diri. Taubat adalah solusi, jawaban atas kesalahan di masa lalu. Menyadari kesalahan yang kita lakukan, lalu merubah kesalahan menjadi sebuah perbaikan.

15 tahun yang lalu, pilihan yang ada adalah yang buruk-buruk. 10 tahun yang lalu, pilihan yang ada adalah yang buruk-buruk. 5 tahun yang lalu, pilihan yang ada adalah yang buruk-buruk. Jika kita tidak segera evaluasi dimana letak kesalahan kita sehingga tiap 5 tahun sekali pilihan yang tersedia hanya yang buruk, maka jangan heran jika 5 tahun yang akan datang, pilihan yang ada hanyalah yang buruk-buruk. Dan demikian seterusnya.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka.” (QS. Ar Ra’d [13]:11)

Bukankah sudah waktunya kita menggunakan jalan yang berbeda dari yang sudah kita coba dan malah menempatkan kita pada posisi yang sama? Berulang-ulang.. berkali-kali..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s