Pemikiran

Memilih Untuk Tidak Memilih

2014. Di Indonesia, tahun ini memiliki arti sebuah jadwal periodik dari sistem demokrasi akan mulai berdentang. Pemilu, dari mulai pilpres, pilkada, dan pil-pil lainnya. Ditandai dengan banyaknya spanduk dan foto dari mereka-mereka yang menjagokan diri dalam ajang periodik ini.

Satu isu yang tidak kunjung berhenti dibicarakan menjelang pemilu adalah golput, golongan putih, mereka yang menolak untuk memilih atau memberikan dukungan yang menjadi hak mereka kepada siapapun atau parpol manapun. Tentu ini adalah hak dari setiap warga negara di Indonesia, sampai sejauh ini tidak ada negara demokrasi manapun yang melarang golput.

Setiap pilihan kita sebagai manusia memiliki konsekuensi logis. Ini adalah nilai yang saya jadikan pegangan selama hidup saya. Konsekuensi baik yang akan dirasakan di dunia, maupun di akhirat. Keduanya sama nyatanya, namun yang pertama memiliki bobot yang lebih ringan dari yang belakangan. Kesadaran akan konsekuensi inilah yang menjadikan manusia sebagai mahluk yang penuh dengan pertimbangan, atas setiap sikap dan kebijakan mereka. Dan kesadaran ini jugalah yang menjadikan saya sebagai salah seorang yang memilih untuk tidak memilih.

Belakangan, seiring dengan dekatnya jadwal periodik pemilu, semakin ramai dan semakin banyak propaganda yang mengarahkan rakyat untuk menggunakan hak pilih mereka. Biasanya, yang ramai mengangkat isu ini adalah bagian dari pemerintahan demokrasi yang memang hidup mereka ditunjang dari pemilu ini. Lalu disusul dengan mereka yang turut menjagokan diri mereka dalam ajang pemilu ini, dalam sebuah perhitungan politik yang matang, demi mengambil suara swing voters.

Herannya, belakangan justru tokoh agama juga terlibat dalam penggiringan opini agar rakyat terutama umat Islam untuk menggunakan hak pilih mereka. Bukan berarti saya  tergolong dalam kelompok yang memisahkan agama dari politik, sama sekali tidak. Saya berpendapat bahwa politik tanpa agama adalah politik setan, dan persis itu yang terjadi saat ini di negara ini khususnya. Sehingga memang perlu adanya upaya untuk memasukkan agama ke dalam politik praktis di negara sekuler ini. Namun bukan juga berarti saya mendukung pernyataan semacam “Golput haram!”, “Pilihlah partai Islam”, dan sebagainya.

Pengharaman golput artinya adalah pemilu ini dinilai sebagai sebuah ibadah, yang didalamnya terdapat bab halal dan haram. Artinya pula, pemilu adalah bentuk penghambaan dimana menjalankannya dinilai sebagai sebuah pengabdian kepada Allah ta’ala dan menjauhkan diri darinya adalah perlakuan maksiat terhadap Allah ta’ala. Dan pendapat semacam ini memiliki beberapa kelemahan yang mendasar, yaitu tidak melihat realita akan keadaan umat Islam saat ini.

Tentu memilih seorang pemimpin dan perwakilan dalam parlemen sebagai badan legislatif negara memiliki peran penting dalam agama. Penetapan hukum dan pelaksanaan hukum adalah dua peran penting demi menjaga tegaknya agama di muka bumi ini. Hanya saja, kita juga perlu melihat kenyataan dan memilah ijtihad mana yang urgen dan mana yang tidak, bahkan menjadi mudharat atas diri kita dan umat Islam jika dilakukan bukan pada waktu yang tepat. Dan saya melihat hal ini seringkali diabaikan dalam pembahasan soal pemilu ini.

Faktanya, demokrasi adalah sistem yang menjadikan suara terbanyak sebagai pemenang. Maka itu, perlu kita perhatikan suara terbanyak, mayoritas masyarakat dan pemahaman mereka terhadap Islam sebelum kita dapat mengharamkan pemilu itu sendiri. Tanpa melihat perkara penting ini, keputusan untuk mengharamkan pemilu sama saja dengan menjerumuskan umat Islam itu sendiri kepada hal-hal yang masih rancu dalam akal mereka. Sekedar himbauan untuk memilih caleg yang pro syari’at, Muslim, dan seterusnya, tidaklah cukup untuk menjadikan golput sebagai sesuatu yang diharamkan.

Apakah pemahaman umat saat ini sudah mencapai tahapan dimana mereka sadar akan pentingnya syari’at bagi kehidupan mereka di dunia dan di akhirat kelak? Apakah umat Islam Indonesia saat ini sudah paham akan konsekuensi pilihan mereka? Dan satu hal yang juga penting, adakah calon yang dapat memberikan komitmen akan penegakkan syari’at Islam, memperjuangkannya dengan dukungan rakyatnya, dan rela mengorbankan nyawanya demi kebenaran?

Kepemimpinan dalam Islam bukanlah sekedar jabatan. Namun ia adalah tegaknya seseorang di atas kebenaran, keteladanan yang hidup dalam diri orang tersebut, kecintaan dari rakyat yang mendukungnya, lalu perjuangan untuk mewujudkan tegaknya kebenaran dan menghilangkan kebathilan. Tanpa ini semua, maka itu bukanlah kepemimpinan namun sekedar seseorang yang berada di depan barisan.

Lalu tersisa sebuah pertanyaan kepada tokoh-tokoh agama yang mengarahkan umat Islam untuk menggunakan hak pilih mereka, siapakah yang kalian pastikan atas umat Islam, dapat memimpin untuk kebenaran, menjadi teladan, meraih kecintaan umat, dan memperjuangkan kebenaran dan melawan kebathilan, sehingga dapat kalian tegaskan bahwa golput itu haram atau sama sekali tercela? Mohon jawaban yang pasti, agar pernyataan kalian itu tidak hanya menjadi polemik di tengah kebingungan umat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s