Pemikiran, Tadabbur

Toleransi, Tadabbur QS Al Kafiiruun

Sungguh mengagumkan betapa seseorang bisa berada jauh tersesat ketika ia begitu mencintai dan menginginkan dunia. Ia dapat menggunakan ayat Al Qur’an secara tidak utuh lalu membawanya keluar konteks. Menambahkan nilai-nilai moralitas jahil dalam memahami ayat Al Qur’an.

Kemarin ada sebuah artikel yang sangat mencengangkan dan aneh, karena ia datang dari seseorang yang seharusnya memahami Islam dan nilai-nilainya, antara batasan aqidah, ibadah dan muammalah. Isi artikel tersebut adalah mengenai ucapan selamat hari raya kepada umat beragama lain. Artikel tersebut bisa diliha di link ini, http://www.pkspiyungan.org/2013/12/selamat-merayakan-hari-raya-natal-2013.html?m=1

Benarkah apa yang ia sampaikan? Dalam artikel tersebut, ia mengangkat satu ayat yang seringkali dihubungkan dengan pemahaman masyarakat akan toleransi. Yaitu “lakum diinukum wa liya diin,” ayat terakhir dari QS. Al Kafiruun. Artinya kita sama-sama paham, “untukmu agamamu dan untukku agamaku.”

Jelas sekali dalam artikel tersebut, penulis menekankan adalah seakan-akan pemahaman kita terhadap ayat tersebut untuk menyatakan agama Islam adalah yang benar dan agama lain tidak. Tentu saja hal ini ada benarnya, namun apakah benar itu yang diutarakan dalam surah Al Kafiruun?

Kita bisa dilihat dari awal surah, ayat pertama yang kita akan temukan adalah perintah Allah kepada Rasulullah untuk menyerukan kepada orang kafir. “Qul yaa ayyuhal kafiiruun, Katakanlah ‘Wahai orang-orang kafir'”. Ini merupakan kejelasan perintah yang ada dalam ayat tersebut, yaitu memisahkan diri kita dengan orang kafir. Kita sebagai muslim dan lawan bicara kita adalah orang kafir. Ini nampak jelas dalam ayat pertama tersebut.

Perlu kita pahami surah ini secara keseluruhan turun ketika era Mekkah, ketika itu Rasulullah masih mengawali dakwah kepada masyarakat kafir Quraisy. Asbabun nuzul dari turunnya ayat ini bisa kita temukan dalam hadits-hadits masyhur, dengan rawi yang tsiqoh dan sanad yang shahih. Tidak ada perbedaan pendapat mengenai sebab turun ayat ini adalah dalam rangka menolak dan menempatkan tembok aqidah sebagai pembatas antara kaum Muslimin dan kaum kuffar.

Inilah konteks yang biasanya dihilangkan ketika artikel tersebut mengutip ayat terakhir dari surah Al Kafiruun tersebut. Hilangnya konteks pemisahan antara Muslim dengan kuffar membuat moralitas jahil bebas untuk memenuhi akal kita dengan berbagai persepsi yang jahil juga. Contoh saja, kebaikan yang sebatas dinilai dari sisi muammalah tanpa pertimbangkan aqidah yang lalu menghalalkan ucapan selamat hari raya agama lain.

Padahal konteks yang ada ketika ayat “lakum diinukum wa liya diin” adalah penarikan batas dalam toleransi, yaiti dengan pertimbangan aqidah. Muslim – kafir, inilah pembeda jelas antar kedua kubu dalam surah tersebut. Toleransi seorang Muslim tidak akan menyeberangi jurang yang dipisahkan oleh aqidah.

Jadi toleransi dalam Islam bukanlah sebuah jembatan untuk menyeberangi jurang aqidah sebagaimana dipahami oleh kaum sekuler dan atheis. Jika toleransi Islam itu boleh melewati jurang pemisah aqidah, maka Allah tidak akan memberikan ketegasan pemisahan aqidah ini yang tersebar di seluruh ayat. Dari mulai memisahkan antara predikat Muslim-kafir, lalu tujuan peribadahan kedua kubu, dan juga ibadah yang dilakukan oleh masing-masing. Seluruhnya dipisahkan antara satu sama lainnya.

Seorang Muslim berikan toleransi jika seorang Nashrani akan melaksanakan ibadah yang mereka lakukan sesuai keyakinan beragama mereka. Tapi ada jurang pemisah yang tidak dapat dilewati oleh seorang Muslim, yang terkait dengan aqidah keimanan kita. Sekali lagi, toleransi bukanlah jembatan untuk menyeberangi jurang pemisah tersebut.

Rasanya hal ini berlaku universal di seluruh agama. Pernahkah kita melihat seorang Nashrani dipaksa sholat? Atau seorang Muslim yang merasa terhina jika seorang Nashrani menolak lakukan sholat? Atau seorang Nashrani yang berikan selamat selepas seorang Muslim lakukan sholatnya?

Seharusnya toleransi ada dikarenakan saling menghormati perbedaan, bukan karena ketiadaan perbedaan. Justru karena ada perbedaan maka itulah ada toleransi. Tanpa adanya perbedaan, tidak diperlukan toleransi. “Lakum diinukum wa liya diin, untukmu agamamu dan untukku agamaku.”

Wallahu a’lam bishshowab.

Satu pemikiran pada “Toleransi, Tadabbur QS Al Kafiiruun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s