Pemikiran

Demokrasi di Mesir, Sebuah Ironi

Sebuah ironi terjadi di Mesir. Kaum sekuler dan nasionalis, dengan menggunakan dukungan militer, berusaha menggulingkan Muhammad Mursi yang terpilih secara konsensus sebagai presiden Mesir. Berbagai ketidaksetujuan terhadap kebijakan Mursi dinilai sebagai pemicu kemarahan rakyat Mesir. Gelombang demonstrasi dan kekerasan terjadi. Penghancuran dan penyerangan terhadap beberapa markas Ikhwanul Muslimin terjadi. Namun dimana militer ketika ini semua terjadi? Dimana pihak kepolisian Mesir ketika kaum sekuler dan nasionalis menghancurkan kantor Partai Kebebasan dan Keadilan?

Sebuah ironi terjadi di Mesir. Muhammad Mursi yang terpilih secara konsensus sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku dinilai sebagai diktator dan tiran. Sementara kebiadaban kaum sekuler dan nasionalis yang melakukan penyerangan terhadap kantor, markas dan berbagai sarana Ikhwanul Muslimin dan Partai Kebebasan dan Keadilan malah dinilai sebagai suara rakyat yang demokratis.

Sebuah ironi terjadi juga di Mesir. Demokrasi yang mengakui keabsahan pemilihan suara oleh rakyat untuk memilih pemimpin dan perwakilan rakyat untuk menjalankan pemerintahan dan pembuatan hukum. Mereka yang terpilih secara demokratis justru digulingkan oleh kaum sekuler dan nasionalis dengan mengatasnamakan demokrasi. Ketidaksiapan mental mereka menghadapi kenyataan bahwa Islam mulai bergerak menggunakan aturan yang mereka inginkan dan mengungguli mereka.

Sebuah ironi terjadi di Mesir. Ketika demonstran merusak bangunan privat, didiamkan. Ketika ada demonstran lain menunaikan sholat berjama’ah, ditembaki dengan peluru. Lalu kaum sekuler dan nasionalis mengatasnamakan demokrasi sekali lagi.

Dimana letak demokratisnya dari gambaran yang ada disini? Ataukah benar bahwa inilah demokrasi, yang intoleran terhadap kepercayaan dan perjuangan yang dinaungi oleh tauhid?

Sebuah ironi terjadi di Mesir. Rakyat melengserkan ketiranian Hosni Mubarak, yang berjaya dengan kekuatan militernya, menggunakan kekuatan rakyat, lalu dengan kekuatan rakyat memilih Mursi sebagai presiden mereka. Kini rakyat melengserkan Mursi menggunakan kekuatan militer dan menjadikan militer yang pernah dilengserkannya kembali berkuasa atas Mesir. Mentalitas yang tidak pernah berkembang dan menginginkan kemajuan, tidak akan sanggup berkorban demi kebaikan dirinya sehingga lebih baik baginya merasa nyaman daripada meriah kebebasan dan kedaulatan dirinya sebagai manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s