Pemikiran

Re-Definisi Makna Dakwah

Setelah sekian lama, akhirnya kini dapat menyempatkan diri untuk kembali menuangkan setitik pemikiran. Agak sulit untuk kembali menulis setelah sekian lama menjauhi dunia maya. Namun, ada sesuatu yang sudah cukup lama mengganggu dan rasanya perlu untuk dikeluarkan.

Dunia pergerakan Islam kini sudah terkotak dan semakin terjerumus dalam jurang perbedaan yang nampaknya semakin dalam pula dari hari ke hari. Masing-masing jama’ah, organisasi, tanzhim, saling bergerak dengan pemahaman mereka sendiri dan nampaknya sangat enggan untuk meraih perbedaan pemahaman dan mencari sinergi antar sesama harokah. Ada yang pusatkan perhatian kepada ibadah saja. Ada yang jadikan politik sebagai corong utama. Ada yang hanya sebatas membuat wacana agar idealisme mereka dapat diterima masyarakat luas.

Hal semacam ini tidak menjadikan pergerakan Islam bergerak maju, namun malah semakin terpuruk dan menjadi bahan bulan-bulanan dari musuh-musuh mereka sendiri. Faktanya, sejauh satu abad belakangan ini, pergerakan Islam belum dapat menunjukkan keberhasilan yang signifikan. Tidak dapat dipungkiri bahwa sudah ada kemajuan dari masa ke masa, namun kemajuan yang kemudian dihadapkan kepada sebuah kemunduran menjadikannya stagnan tidak bergerak atau bahkan semakin mundur ke belakang.

Imam Syahid Hassan Al Banna, seorang tokoh ulama yang menjadikan persatuan Islam di bawah bendera Al Qur’an dan Sunnah sudah lama meninggalkan kisah pergerakan Islam abad 20 ini. Namun kata-kata, kiasan, tulisan, hingga teladan yang beliau berikan kepada kita masih dapat terasa dan aplikatif. Tidak peduli siapa yang pertama kali mencapai keberhasilan, selama ia menegakkan Al Qur’an dan Sunnah maka kami akan mendukungnya. Demikian kurang lebih curahan kata yang menggambarkan makna berlomba dalam mencari kebenaran.

Namun semangat semacam ini, semakin terpuruk dengan semakin banyaknya fragmen dari jama’ah Islam dan melemahnya tradisi keilmuan di kalangan kaum Muslimin. Kebodohan ibarat binatang buas yang siap memangsa dan serangan propaganda dari musuh-musuh Islam ibarat perangkap penjerat bagi mereka yang lalai.

Salah satu hal yang saya secara pribadi lihat perlu untuk dikaji adalah makna dakwah itu sendiri. Betapa banyak aktivis pergerakan Islam yang menyatakan dengan deklarasi terbuka maupun bersembunyi, bahwa mereka adalah kader dakwah? Banyak. Lalu berapa banyak dari mereka itu yang paham akan makna dakwah?

Makna dakwah, seiring jalan mulai mengalami penyimpangan, penyelewengan dan penyusutan. Ini sangat menyedihkan.

Seorang yang dikatakan sebagai ustadz, bernyanyi di atas panggung bersama istrinya berjoget ria, dikatakan sedang berdakwah.

Seorang tokoh masyarakat, melantunkan musik dangdut, dengan ribuan massa berjoget menikmati alunan irama dangdutnya, dikatakan sebagai da’i.

Seorang tokoh politik, berbangga dengan harta dan kekuasaan, menyombongkan diri di hadapan Allah dengan membuat hukum positif sesuai dengan selera mereka sendiri, menjauhkan diri dari Al Qur’an dan Sunnah, dikatakan sedang berdakwah.

Seorang pemuda, dengan pemahaman yang salah dipenuhi dengan semangat yang membara, kebencian terhadap thoghut dan kemunkaran, meledak di tengah masyarakat sipil, dikatakan sebagai mujahid.

Perlu kita kembali menyusun koridor, dimana didalamnya adalah berdakwah dan di luar dari koridor itu, tidak dapat dikatakan berdakwah. Perlulah kita menyusun kembali apa makna dakwah, menanamkannya dalam hati dan jiwa kita, agar kita tetap berada dalam tuntunan kebenaran sesuai dengan panduan yang telah Allah tetapkan, dan dicontohkan oleh rasul-Nya.

Mere-definisi makna dakwah, yang saya maksudkan dalam judul ini adalah agar kita dapat kembali berdakwah, bukan sebagaimana pemahaman yang kini sudah menyempitkan, menyimpangkan dan menyusutkan makna dari dakwah itu sendiri. Tapi agar kita kembali mengamalkan sesuatu sesuai dengan makna yang dikandung dari asalnya.

“Katakanlah: Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf [12]:108)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s