Pemikiran

Roket Al Qassam dan Mursi

Beberapa waktu yang lalu saya memprotes keras sebuah pernyataan yang tidak berdasar kepada apapun kecuali prasangka, yaitu Mursi adalah seorang Fir’aun masa kini. Pernyataan ini, sayangnya, sering saya temukan dari ikhwah yang mengaku sebagai aktivis dakwah. Bukan hanya sekali, baik di Twitter maupun di Facebook.

Perlu saya jelaskan ketidaksetujuan saya terhadap pernyataan tersebut bukan berasal dari ashobiyah saya terhadap latar belakang Mursi sebagai seorang anggota Ikhwanul Muslimin. Namun, saya melihat banyak ruang hampa yang ada untuk dapat mengambil kesimpulan sebesar itu. Bagaimanapun pernyataan tersebut adalah bentuk takfir yang kita perlu berhati-hati didalamnya, terlepas pernyataan tersebut disampaikan dalam forum formal maupun sekedar dalam Twitter.

Landasan kehati-hatian saya adalah betapa minimnya pemahaman kita, yang berada di Indonesia dan terpisah jarak ribuan kilometer, atas dunia perpolitikan di Mesir sana. Dan keadaan politik di Mesir tidak bisa disamakan sama sekali dengan keadaan politik di Indonesia. Contoh yang paling mendasar adalah undang-undang Mesir masih mengakui Al Qur’an sebagai sumber hukum sedangkan di Indonesia, sama sekali tidak.

Sebuah nasihat dari Sayyid Quthb dalam kumpulan tulisan terakhirnya yang terangkum dalam buku “Limadza ‘Adamunii‘ terdengar sangat indah bagi diri saya. Ketika itu beliau ditanya oleh seorang ikhwah di Jordan mengenai penyikapan organisasi IM di Jordan terhadap gerakan dakwah lainnya seperti Hizbut Tahrir dan sebagainya. Sayyid Quthb menolak untuk memberikan arahan mengenai hal ini dikarenakan beberapa hal. Pertama, ia bukanlah pemimpin dari organisasi IM di Jordan sehingga ia merasa tidak dapat mengambil keputusan seputar ini. Kedua, ia tidak mengetahui realita di Jordan sehingga merasa tidak layak untuk memberikan sekedar wejangan kepada al akh ini.

Jika seorang Sayyid Quthb yang hidup di Mesir saja menolak untuk memberikan sekedar wejangan untuk seorang ikhwah yang hidup di Jordan padahal jarak mereka begitu dekat, dan tentunya isu politik pun dapat terdengar, lalu bagaimana bisa kita mengambil kesimpulan yang sedemikian drastis untuk menyatakan kufur atas seorang Muslim yang hidup dan berdakwah di Mesir yang tidak kita pahami realita politik sosialnya? Ini adalah sebuah tindakan yang ghuluw bagi saya dan saya protes terhadap hal semacam ini.

Uniknya beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan sebuah nasihat dari seorang ikhwah agar diri saya terhindar dari taqlid terhadap Mursi, karena protes saya tersebut dan ketika saya menghubungkan posisi Mursi saat ini dengan peningkatan amunisi rudal yang dimiliki oleh Brigade Al Qassam di Ghaza sana. Artikel ini saya tulis untuk sekedar meluruskan niat saya seiring dengan nasihat yang saya terima tersebut, sekaligus menjelaskan bahwa kesimpulan yang saya ambil bukan atas dasar ashobiyah ataupun taqlid terhadap seorang tokoh dari gerakan dakwah tertentu.

Judul diatas saya tempatkan tanpa memiliki tujuan untuk memprovokasi apapun. Hubungan antara keduanya masih merupakan satu hal yang tidak jelas, namun saya meyakini adanya hubungan tersebut. Sebutlah ini husnudzon saya sebagai seorang Muslim terhadap Muslim yang lain atau apalah itu, dalam artikel ini saya ingin mengutarakan beberapa fakta yang mendasari praduga saya ini.

Sebelumnya, saya sampaikan terlebih dahulu apa pernyataan saya sehingga menuai protes yang berujung nasihat terhadap diri saya dari  taqlid tersebut.

@stiqbl: Mungkin kita tidak tahu, jika selama Mursi menjabat sebagai Presiden di Mesir, pasokan makanan, senjata, obat bisa masuk ke Ghaza.

@stiqbl: Darimana Brigade Al Qassam dapatkan suply senjata, jika bukan dari Mesir yang katanya dipimpin oleh Fir’aun masa kini.

Tanggapan yang saya terima atas dua pernyataan saya tersebut adalah bahwa Brigade Al Qassam sudah berdiri sejak lama sebelum Mursi menjabat sebagai Presiden Mesir. Tentu ini adalah benar adanya, namun ada sudut pandang yang saya berusaha sampaikan yang mungkin gagal untuk dipahami dari pernyataan saya tersebut.

Mari kita melihat fakta yang ada. Data saya ambil dari situs Wikipedia.org yang saya menilai cenderung berpihak kepada kepentingan Israel. Kepentingan Israel terhadap informasi yang ada dalam situs ini adalah untuk menarik simpati dunia atas penjajahan mereka di Palestina, sehingga saya menilai sangat cocok untuk pemaparan kali ini.

Serangan rudal Al Qassam pertama kali tercatat menurut situs ini terjadi sejak bulan Juli 2001. Sejak saat inilah pemaparan kita dimulai, bahwa Brigade Al Qassam memiliki rudal yang mereka tembakkan kepada penjajah Israel dari Jalur Ghaza. Jumlahnya tidak banyak ketika itu dan berdasarkan yang saya ketahui, rudal ini masuk ke Ghaza melalui penyusupan perbatasan Rafah dan juga dari Lebanon.

Pada tahun 2002, sebanyak 35 roket Al Qassam ditembakkan. Jumlah yang sedikit mengingat ketatnya perbatasan ketika itu semasa pemerintahan Mubarak. Tahun 2003, terjadi peningkatan menjadi 155 roket. Tahun 2004, semakin meningkat hingga 281 roket. Lalu tahun 2005, terjadi lonjakan penembakkan roket Al Qassam hingga tercatat sebanyak 1.255 roket. Allahu akbar!

Pada tahun 2006 kembali terjadi peningkatan penembakkan roket dari Palestina, baik Jalur Ghaza maupun Tepi Barat, hingga 1.777 roket ditembakkan. Namun menurut situs ini, pertama kali adanya serangan yang bukan hanya berasal dari Hamas, namun juga dari pergerakan militer Fatah dan gerakan Jihad Palestina. Porsi kepemilikan roket tidak disebutkan dan saya tidak mengetahui secara persis.

Pada tahun 2007, subhanallah walhamdulillahi wallahu akbar, peningkatan penembakkan roket dari Palestina semakin meningkat sampai tercatat sebanyak 2.807 roket yang ditembakkan. Tentu tidak semuanya berasal dari Brigade Al Qassam. Tercatat terjadi banyak penembakkan roket juga dari Brigade Al Quds yang berafiliasi dengan Fatah dan juga dari gerakan Jihad Palestina yang banyak menggunakan roket Katyusha dari Lebanon.

Reaksi dari Israel terhadap penembakkan roket ini mulai terlihat pada akhir tahun 2008, dimana pada tahun itu terjadi penembakkan sebanyak 2.378 roket. Penembakkan dilakukan oleh Brigade Al Qassam, gerakan militer Fatah maupun gerakan Jihad Palestina. Terjadi gencatan senjata pada tahun ini, namun tetap terjadi penembakkan roket yang kemudian menuai agresi militer Israel terhadap Ghaza pada Desember 2008.

Yang perlu dicatat dalam agresi militer Israel terhadap Ghaza ini adalah serangan yang dilakukan Israel terhadap jalur-jalur masuknya pasokan makanan, obat-obatan, pakaian, kebutuhan pokok lainnya dan juga senjata. Terowongan-terowongan yang digunakan sepanjang perbatasan Rafah ini dibombardir oleh Israel menggunakan pesawat militer mereka. Dan ada dampak yang signifikan terhadap kebutuhan hidup penduduk Ghaza, baik sehari-hari maupun secara militer.

Sejak 2008 ini juga, Israel melakukan blokade atas Ghaza baik melalui jalur darat, udara maupun air. Sehingga bagi mereka yang hendak memasuki Ghaza akan dianggap sebagai ancaman nasional bagi Israel, siapapun itu. Tidak bahkan para aktivis kemanusiaan yang hendak masuk ke Ghaza mendapatkan akses. Walaupun ada satu kejadian dimana aktivis kemanusiaan tersebut dapat masuk, namun hal ini hanya sekali saja. Ketika sebuah kapal dari Turki hendak meneruskan pasokan obat dan makanan ke Ghaza, Israel melakukan penembakkan terhadap kapal tersebut yang didalamnya terdapat beberapa warga negara Indonesia.

Penurunan drastis terjadi sejak adanya agresi militer Israel tersebut terhadap jumlah serangan yang dilakukan oleh gerakan Islam manapun. Tercatat sepanjang tahun 2009, “hanya” terdapat 850-an serangan yang terjadi. Ini tentu menurun jauh sejak tahun sebelumnya. Terhadap hal ini saya mengambil kesimpulan bahwa Israel telah memukul titik dimana penyusupan senjata ke Ghaza biasa dilakukan, yaitu terowongan yang terdapat sepanjang perbatasan Rafah tersebut. Ditambah lagi tekanan dari Israel secara politik kepada Hosni Mubarak ketika itu untuk mengetatkan penjagaan dan pengawasan terhadap perbatasan Rafah.

Tahun 2010, penurunan serangan roket ke Israel semakin terasa. Tercatat pada tahun ini “hanya” ditembakkan sebanyak 365 roket dan mortar. Dampak agresi militer Israel terhadap Ghaza, pengetatan penjagaan perbatasan Rafah semakin terasakan oleh para mujahid di Palestina, apapun gerakan organisasi yang menaungi mereka. Perlu ditambahkan bahwa serangan dari Brigade Al Qassam pada kurun waktu ini, hampir terhenti sama sekali. Serangan yang ada lebih banyak dilakukan oleh gerakan Jihad Palestina.

Alhamdulillah, pada tahun 2011 kembali terjadi peningkatan terhadap penembakkan roket ke Israel. Sebanyak 680 roket tercatat ditembakkan dari Palestina. Saya menyimpulkan kondisi perpolitikan Mesir yang sedang bergejolak turut memiliki andil atas peningkatan serangan roket ini. Demonstrasi secara besar-besaran yang terjadi di Mesir sejak awal tahun 2011, hingga turunnya Mubarak dan terjadi kekosongan kekuasaan yang cukup merepotkan militer Mesir, memungkinkan dilakukannya penyusupan senjata dan kebutuhan pokok lainnya ke Jalur Ghaza kembali.

Kita dapat melihat bahwa sejak agresi militer Israel pada akhir tahun 2008, amunisi HAMAS dan Brigade Al Qassam seakan menipis jika tidak hilang sama sekali. Saya pernah menemukan kritik terhadap hal ini, juga tuduhan bahwa HAMAS meninggalkan jihad karena sekarang sudah berada di parlemen walaupun tuduhan ini dapat dimentahkan dengan mudah menggunakan logika sederhana. Pemerintahan yang dikuasai HAMAS adalah sebatas apa yang ada di dalam Jalur Ghaza, inipun juga mendapatkan penolakan dari berbagai faksi Islam lainnya. Kepemimpinan HAMAS di Jalur Ghaza sendiri banyak menuai kritik dari gerakan Islam lainnya, dengan berbagai tuduhan seperti melemah, pengecut dan sebagainya. Bahkan terjadi pula pembangkangan terhadap kepemimpinan HAMAS tersebut.

Saya secara pribadi menilai bahwa HAMAS dalam kondisi yang memang tidak siap untuk bertempur sebagaimana sebelumnya, sehingga HAMAS menggunakan jalur diplomasi dan negosiasi untuk mengulur waktu sampai mereka kembali siap. Bukan berarti HAMAS meninggalkan jihad sebagaimana dituduhkan atas mereka.

Pada tahun 2012, terjadi peningkatan kembali seiring dengan gejolak politik yang terjadi di Mesir. Penggulingan Hosni Mubarak dari kursi kepresidenan oleh dukungan rakyat mungkin memiliki dampak yang baik terhadap perjuangan rakyat Palestina. Selama tahun 2012 ini, terdapat dua lonjakan signifikan atas serangan roket yang dilakukan dari Ghaza, yaitu pada bulan Maret dan pada bulan Oktober yang lalu. Entah bagaimana hubungan regional yang terjadi sehingga menimbulkan peningkatan serangan ini, namun saya meyakini hal tersebut terjadi.

Empat bulan setelah Mursi terpilih sebagai Presiden Mesir, serangan terhadap Israel kemudian melonjak kembali. Yaitu pada bulan Oktober dan kini memasuki bulan November 2012. Saya berusaha untuk tidak menghubungkan kurun waktu ini dengan aturan syar’i mengenai gencatan senjata dalam Islam, namun tidak dapat kita pungkiri bahwa terlihat ada kesamaan disini.

Lalu kini di bulan November 2012, HAMAS melalui Brigade Al Qassam mengeluarkan klaim memiliki 10.000 roket yang siap untuk diluncurkan setelah sebelumnya Al Qassam minim sekali melakukan serangan sejak tahun 2008. Tidakkah wajar jika saya ber-husnudzon bahwa terpilihnya Mursi memiliki pengaruh yang jelas disini? Apakah bentuk taqlid jika prasangka saya didasarkan kepada data dan fakta yang terjadi di lapangan?

Kebenaran semata hanya milik Allah ta’ala dan jika apa yang saya paparkan adalah sebuah kesalahan prasangka maka itu adalah bentuk ke-dhaif-an saya sebagai manusia yang penuh dengan keterbatasan. Wallahu a’lam bishshowab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s