Twit

Mulia Atau Hina?

Dimuliakan tapi malah menghendaki kehinaan, uniknya manusia.

Bani Israel juga dulu spt itu, diberikan jamuan dr langit berupa manna dan salwa tp meminta makanan jaman perbudakkan Fir’aun.

Lalu kini penyakit yg sama mengjangkit kaum Muslimin. Dimuliakam dg syari’at yg optimalkan potensi diri malah mau yg buatan manusia.

Dimuliakan dg hijab dan peran sbg ibu, malah ga mau hamil dan enggan menyusui. Dari mulia menjadi hina.

Dimuliakan dg aturan transaksi yg halal dan thoyyib, malah mau yg riba, rakus dan serakah. Dari mulia menjadi hina.

Diajarkan ilmu agar mereka dpt menjadi sebaik-baik ciptaan, malah mau jahil dg kemalasan dan manjakan diri. Dari mulia menjadi hina.

Dijauhkan dr gelapnya syirik malah berlari kpd kesyirikan, dg segala macam alasan yg dibuat2. Dari mulia menjadi hina.

Uniknya, kalau ada yg mencela mereka sbg org yg tolol, malah merasa terhina dan marah. Pdhal mereka sendiri yg hinakan diri mereka.

Semalem seorg ustadz bilang, “Sehebat-hebatnya Real Madrid, belum pernah ngalahin Persija.” Hikmah? Cari ndiri.

Kita seringkali menyamakan dua hal yg tdk sepadan shg mengaburkan pandangan kita thdp sesuatu, merancukan prioritas dan pilihan kita.

Kebenaran tidaklah rancu dan berada dlm keremangan. Ia jelas dan berdiri tegak dlm keadaannya. Terasa meski tak terlihat.

Bahkan lbh sering kebenaran terlihat jelas, namun perasaan kita menghalangi pandangan utk menyadarinya, krn tdk sesuai dg hasrat kita.

Kita jadikan kebenaran sbg angan, tp jadikan ia hrs ikuti standar perasaan kita yg jelas tdk menentu. Pdhal hakikatnya sdh berbeda.

Akhirnya, ketika kita menyukai sesuatu dan kebenaran itu datang pd kita berbeda rupa, ternafikan kebenaran dan hiduplah kita dlm syahwat.

Jika kebenaran hrs mengikuti syahwat masing2 dari kita yg memiliki keinginan berbeda, hancurlah dunia ini. Kebenaran hrslah tunggal.

Kebenarn hrslah tetap dan tdk berubah mengikuti syahwat. Adalaj syahwat yg hrs tunduk kpd kebenaran tsb agar ia hidup didlmnya.

Krn itu tdk mgkn ada ilaah selain daripada satu Dzat yg tetap dan tdk berubah. Jika sebaliknya, hancurlah slrh alam raya ini.

Krn itu tdk mgkn ada arbab yg banyak mengatur segala sesuatu sebgmn dipahami dlm pemahaman demokrasi, hrslah hanya ada satu Rabbul ‘alamin.

Jika kebenaran yg datang tdk sesuai dg syahwat, apakah kita akan menolak? Jika demikian trsesatlah kita dlm belantara syahwat.

Krn inilah pluralisme, liberalisme dan sekulerisme menjadi pemahaman yg hanya akan menyengsarakan jiwa yg mengikutinya, menyesatkan mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s