Tadabbur

Hidup dan Mati

Allah ta’ala berfirman, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” QS. Al Baqarah [2]:185

Dalam ayat yang singkat ini, kita telah diperingatkan, diajarkan dan dibuat menjadi paham akan hakikat kehidupan kita. Mari kita bahas secara ringkas mengenai ayat Allah yang agung ini.

Belakangan ini sering kita temui banyaknya kajian mengenai keadaan dan fitnah akhir jaman. Para asatidz saling mendukung dan juga berbeda pendapat berdasarkan penafsiran yang mereka pahami akan keadaan akhir jaman, dan kita disini bukan untuk terlibat dalam ikhtilaf seputar penafsiran tersebut.

Dalam opini saya pribadi, tidak mungkin ada penafsiran seorang manusia akan hadits nubuatan Rasulullah saw yang dapat dijadikan pegangan dan diimani. Bukan karena keilmuan mereka yang mengkaji dan menafsirkan hadits tersebut, sama sekali bukan. Insya’ Allah dari sisi keilmuan mereka semua adalah para ustadz yang mumpuni dan layak. Hanya saja, jika kita bicara perihal masa depan dan nubuatan, maka ini adalah hal yang ghaib. Dan aqidah Islam meyakini hanya Allah ta’ala yang mengetahui persis bagaimana masa depan itu, terutama soal Hari Kiamat. Baik kejadiannya, detailnya, waktunya dan lain sebagainya. Selama para asatidz yang mengeluarkan penafsiran tersebut adalah manusia, maka mereka jelas berkemungkinan salah.

Sehubungan dengan ini, mengimani penafsiran soal hal yang ghaib tersebut yang datang dari manusia seberapapun alimnya seseorang itu, sangat bertentangan dengan aqidah Islam. Dalam banyak kitab, tindakan tersebut bahkan dapat dikategorikan sebagai kemusyrikan, na’udzubillah.

Sayangnya, banyak di kalangan umat Islam yang terjebak dalam permasalahan ikhtilaf ini. Mereka ghuluw dalam menyikapi penafsiran para ulama dan asatidz mereka soal Hari Akhir, seakan penafsiran mereka adalah kebenaran yang tidak terbantahkan. Ini saya lihat sebagai masalah pertama. Kedua, dengan sikap ghuluw tersebut mereka mempersiapkan diri untuk menghadapi Hari Kiamat tersebut dan bertindak seakan-akan kehidupan mereka ditujukan untuk satu hari itu. Atas dasar inilah, ayat di atas menjadi sebuah peringatan, pengajaran dan pengarahan bagi setiap orang yang beriman kepada Allah ta’ala dan Hari Akhir.

Kenyataan yang menjadi ketetapan Allah ta’ala adalah bahwa semua mahluk-Nya yang bernyawa akan mengalami kematian. Kematian menjadi hal yang menakutkan bagi mereka yang tidak beriman, namun bisa menjadi hal yang sangat didambakan oleh orang yang beriman.

Dalam sebuah kitab yang pernah saya baca membahas soal kematian dikatakan bahwa kematian adalah pintu pertama yang harus dilalui seorang yang beriman untuk dapat menemui Kekasihnya, yaitu Allah ta’ala, dan juga Rasulullah saw. Hal ini menjadikan kematian adalah hal yang dirindukan, seperti kekasih yang merindukan pulang kepada pasangan yang dicintainya. Namun segala sesuatunya tidak berhenti pada kematian.

Kematian hanyalah pintu pertama. Bagi mereka yang menyiapkan diri dan upaya untuk kehidupan sebelum kematian, maka inilah contoh orang yang merugi. Sehubungan dengan ghuluw yang saya ungkit di atas, menyiapkan kehidupan untuk sebatas Hari Akhir adalah contoh yang merugi tersebut. Dan seorang yang beriman tidak akan melakukan hal semacam itu.

Dalam ayat di atas, ketetapan Allah ta’ala untuk masalah kematian bagi setiap mahluk-Nya yang bernyawa dilanjutkan dengan lantunan ayat yang indah yang akan mengetuk jiwa setiap orang yang beriman. Ketukan halus yang membuka kesadaran dan cakrawala berpikir. Kritis, tajam dan menuju pada poko permasalahan yang lebih besar, yaitu kehidupan setelah kematian. Hari Kiamat. Dimana setiap jiwa akan disempournakan amalnya.

Apa artinya? Artinya adalah tidak ada lagi amal yang akan diterima pada saat itu. Karena amal setiap jiwa akan dianggap sempurna, utuh dan bulat pada hari itu. Demikian keadaan kita pada hari itu, dimana semua amal kita dikumpulkan, yang baik dan yang buruk, sedikit maupun banyak. Semuanya ditimbang berdasarkan pertimbangan Allah ta’ala yang Maha Adil lagi Maha Teliti.

Mereka yang mempersiapkan diri mereka untuk hari sebelum hari ini, itulah mereka yang merugi. Karena mereka kehilangan kesempatan amal itu untuk dapat bertambah setelah kematian mereka. Karena kematian bukanlah saatnya sebuah amal itu berhenti dihitung. Amal itu akan senantiasa dihitung, berkembang sesuai dengan dampaknya kepada umat manusia dan lain sebagainya, sampai pada Hari Akhir kelak. Barulah di Hari Akhir itu, semua perhitungan amal dihentikan.

Mereka yang beruntung adalah mereka yang dengan cerdas mengatur amal mereka agar senantiasa berkembang terus setelah kematian mereka, sampai Hari Akhir kelak. Mereka menyiapkan diri dan perbekalan dengan banyak melakukan amal jariyah, dan amal lainnya yang senantiasa dihitung walaupun sesudah wafatnya mereka. Sedekah mereka, amal jariyah mereka, infaq mereka, dan jihad mereka. Mereka didik anak mereka dengan penanaman aqidah, ibadah dan akhlaq yang sesuai syari’at Islam, agar mereka senantiasa mendapatkan doa dari keshalihan anak mereka itu.

Inilah mereka yang beruntung. Tak ada satupun dari amal mereka kecuali mereka siapkan sebagai bekal di Hari Kiamat itu.

Ikhwah fillah, upaya mendapatkan keridho’an Allah ta’ala tidaklah berhenti semasa hidup kita. Sebagian kita sibuk memikirkan bagaimana untuk dapat selamat dalam kehidupan kita, namun lupa untuk menyiapkan strategi untuk selamat di Akhirat kelak. Padahal kita sama-sama beriman kepada Hari Akhir tersebut.

Allah ta’ala menjelaskan sebagai penutup ayat ini, bahwa kehidupan di dunia hanyalah kesenangan sesaat. Dan apa yang abadi berada di sisi Allah ta’ala. Yaitu keridho’an-Nya, berupa surga-Nya yang kekal. Ketukan akhir ini demikian halus menyentuh qolbu kita sehingga terkuak sudah kesalahan kita dalam mengatur kehidupan kita. Bahwa seharusnya, kehidupan di dunia ini dimaksimalkan dan dioptimalkan untuk beramal, bukan malah menjauhi amal dengan mengucilkan diri misalnya, atau menutup diri dari mengkaji ilmu-ilmu Allah ta’ala dan tuntunan Rasulullah saw.

Islam adalah manhaj yang hidup aktif, bukan bersifat pasif. Ia progresif dalam kehidupan praktis individu, keluarga dan masyarakat bangsa negara. Islam menuntut pemeluknya untuk senantiasa bersinergi dengan masyarakatnya melalui dakwah. Secara simultan melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Inilah Islam, satu-satunya jalan menuju keridho’an Allah ta’ala.

Semoga kita senantiasa istiqomah. Allahu a’lam bishshowab.

Satu pemikiran pada “Hidup dan Mati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s