Tausiyah

Syukur Kepada Allah Ta’ala

Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah menyusun kaidah yang lugas namun lengkap mengenai syukur. Beliau menuliskan bahwa syukur terdiri dari tiga syarat utama. Tanpa ketiga syarat ini belum lengkaplah syukur itu dan belum dapat dikatakan bahwa seseorang itu bersyukur kepada Allah ta’ala. Dan ini perlu kita, agar kita senantiasa bersyukur kepada-Nya.

Pertama adalah merasakan dan membenarkan nikmat Allah di dalam hatinya. Kedua, mengucapkannya secara lisan bahwa ia bersyukur. Lalu menggunakan nikmat tersebut sebagai sarana untuk meningkatkan iman dan taqwa dirinya kepada Allah ta’ala.

Sebagaimana kita ketahui, syukur adalah salah satu perintah yang disematkan kepada orang yang beriman. Artinya tanpa syukur, belum sempurnalah keimanan kita. Sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kita menyembah.” QS. Al Baqarah [2]:172

Perintah tersebut lugas dan tidak membutuhkan penafsiran yang panjang lebar, namun membutuhkan iman, pemahaman dan niat yang tulus agar kita senantiasa dapat mengamalkannya. Ayat yang dimulai dengan seruan kepada orang beriman, memberikan kita sebuah isyarat bahwa apa yang hendak disampaikan dalam ayat itu menjadi sangat spesifik dan konsekuensi melalaikannya sungguhlah berat.

Ikhwah fillah rahimahumullah,

Syukur pertama kali dirasakan di dalam hati sebagai bentuk kesadaran kita akan kebesaran Allah ta’ala dan rahmat-Nya yang Maha Luas atas seluruh hamba-Nya. Tanpa mengetahui hal ini, jelas ada kemunafikan dalam diri kita dan ini berbahaya bagi aqidah kita. Jika hal demikian dibiarkan berlanjut, bisa jadi kerak neraka adalah nasib abadi atas diri kita, na’udzubillah.

“Mengapa Allah aka  menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Allah adalah Maha Mensyukuri dan Maha Mengetahui.” QS. An Nisa’ [4]:147

Tanpa syukur dan iman, yang ada hanyalah siksa dalam kekekalan jahannam. Kedua hal ini wajib atas diri yang menginginkan keselamatan bersama orang yang shalih dan bertaqwa.

Hal ini dapat kita pelajari dari sikap Nabi Sulaiman as yang diberikan anugerah yang luar biasa oleh Allah ta’ala, salah satunya adalah kemampuan beliau untuk memahami bahasa hewan. Ketika Sulaiman as mendengar ucapan semut yang takut terinjak oleh pasukan yang hendak lewat, beliau tidaklah ujub dan memanjatkan doa syukur kepada Allah ta’ala. “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku ..” QS. An Naml [27]:19

Syukur juga harus kita ucapkan dengan lisan. Allah ta’ala mengajarkan kepada kita soal ini dalam banyak firman-Nya yang agung. Bagaimana malaikat memuji dan senantiasa bertasbih kepada Allah ta’ala. Lalu bagaimana gunung, gemuruh dan hewan pun bertasbih dan memuliakan nama Allah sebagai bentuk syukur mereka.

Perhatikan penggalan doa Khalilullah Ibrahim as berikut ini, “Segala puji milik Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua, Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar mengabulkan doa.” QS. Ibrahim [14]:39

Demikian juga perintah Allah ta’ala kepada Nabiyullah Nuh as dan pengikutnya, “Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu sudah berada di atas bahtera itu, maka ucapkanlah: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang lalim’.” QS. Al Mu’minun [23]:28

Mengucapkan syukur dan pujian kepada Allah ta’ala adalah bagian integral yang tidak terlepas dari pengakuan atas nikmat Allah atas diri kita. Tanpa diucapkan maka ia hanya akan menjadi biji yang tidak dapat tumbuh di atas tanah yang subur. Tidaklah ia sempurna dan utuh.

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” QS. Adh Dhuha [93]:11

Yang terakhir adalah menjadikan nikmat Allah ta’ala sebagai sarana untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada-Nya. Mengapa? Karena nikmat tersebut tidaklah Allah berikan sebagai bukti akan kebesaran-Nya dan dengan demikian kita menjadi bersyukur kepada-Nya dengan senantiasa bertaqwa. Nikmat adalah ujian yang Allah berikan kepada kita, dimana kita wajib bersabar atas nikmat tersebut dengan tidak serakah dan lalai dalam mensyukuri kebesaran Allah ta’ala.

Betapa banyak manusia yang justru lalai ketika nikmat mendatangi mereka. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw menjelaskan ketakutan beliau atas umatnya adalah bukan ketika mereka diuji dengan fitnah cobaan kemiskinan dan siksaan. Namun Rasulullah saw mengkhawatirkan keadaan umat beliau justru ketika Allah ta’ala membukakan pintu-pintu dunia kepada kita. Jika seorang Rasul yang zuhud dan jujur ini menunjukkan kekhawatiran beliau atas terbukanya pintu dunia, apakah tidak layak jika kita menjadi jauh lebih khawatir? Ataukah malah kita menantang agar Allah bukakan pintu dunia di hadapan kita? Right!

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak digunakan untuk melihat (tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagaikan ternak, bahkan mereka lebih hina lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” QS. Al A’raf [7]:179

Mengenai ayat ini, Sayyid Quthb menjelaskan dalam kitab Fii Dzilali Qur’an sebagai berikut:

Mereka tidak membuka hati yang diberikan kepada mereka untuk memahami, sedangkan dalil-dalil iman dan petunjuk ada di dalam wujud dan risalah-risalah yang bisa dipahami oleh hati yang terbuka dan penglihatan yang terbuka. Mereka tidak membuka mata untuk melihat ayat-ayat kauniyyah Allah. Tidak membuka telinga mereka untuk.mendengarkan ayat-ayat Allah yang dibacakan..Mereka tidak memfungsikan instrumen-instrumen yang diberikan kepada mereka dan tidak mendayagunakannya. Mereka hidup dalam keadaan lalai dan tidak mau merenung.
Orang-orang yang melupakan ayat-ayat Allah yang ada di alam semesta dan kehidupan sekitar mereka, orang-orang yang melupakan berbagai peristiwa dan perubahan yang mereka lalui sehingga tidak melihat tangan Allah didalamnya..Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi..Karena binatang ternak memiliki poteni fitrah yang menuntunnya..Sedangkan jin dan manusia dibekali hati yang mampu berpikir, mata yang bisa melihat dan telinga yang bisa menangkap suara. Apabila mereka tidak membuka hati, penglihatan dan pendengaran mereka supaya mereka menjadi tahu … maka mereka lebih sesat daripada binatamg ternak yang cuma dibekali dengan potensi fitrah..Kemudian mereka menjadi isi neraka Jahannam!

Dalam ayat lain, Allah ta’ala berfirman, “Katakanlah, ‘Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati.’ (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.” QS. Al Mulk [67]:23

Jika apa yang telah Allah berikan kepada kita tidak dapat kita jadikan modal untuk menguatkan iman dan taqwa kepada Allah ta’ala, maka ketahuilah bahwa kita tergolong orang yang hidup dalam kelalaian. Bahwa kita berada jauh dari syukur. Bahwa kita lebih hina daripada binatang ternak sekalipun. Dan tempat akhir kita adalah neraka Jahannam. Na’udzubillah.

Semoga kita senantiasa bersyukur kepada Allah ta’ala. Wallahu a’lam bishshowab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s