Pemikiran

Pendapat Saya Soal Pemukiman Islami

Assalamu’alaikum,

Dalam beberapa diskusi belakangan ini, saya menemukan sebuah topik yang menggelitik saya untuk menuliskan tanggapan secara pribadi. Saya akui bahwa saya adalah hamba yang dha’if sehingga saya tidak menyematkan tulisan saya ini sebagai kebenaran yang datang dari Islam dan tulisan ini pun bukan kritik terhadap mereka yang memiliki pendirian yang berseberangan dengan saya. Sekali lagi ini adalah pendapat pribadi saya. Semoga Allah ta’ala merahmati kita semua.

Semua berawal dari sebuah diskusi dengan beberapa ikhwah yang mengabarkan mengenai keberadaan pemukiman Islami di beberapa daerah, yang dikatakan menjalankan kehidupan sebagaimana diajarkan oleh Islam. Menjauhkan diri dari hiruk pikuk kemusyrikan dan kekufuran di tengah masyarakat kita, menjadi motivasi utama bagi mereka yang semangat untuk berangkat “hijrah” ke pemukiman Islami ini.

Terus terang, saya tidak mengetahui bagaimana keadaan disana sehingga pemukiman ini dikatakan sebagai pemukiman Islami. Namun, gambaran akan menjauhkan diri dari masyarakat yang terjerat syubhat dan jahil yang kemudian mendekatkan masyarakat ini kepada kemusyrikan dan kekufuran, menjadi pokok perhatian saya.

Beberapa hal yang menjadi dasar pertimbangan saya adalah:
1. Jika tempat ini dikatakan sebuah pemukiman Islami, maka ia harus memiliki pemerintahan sendiri yang menjalankan syariat Islam, seperti qishosh dan hukum rajam.
2. Selama tempat ini bernaung dibawah kekuasaan pemerintahan thoghut, maka ia tidak menjadi lbh baik drpd tempat tinggal saya skrg ini.
3. Manfaat dan mudharat dari “hijrah” ke pemukiman ini, baik scr individu atau umat.
4. Urgensi uzlah.

Untuk poin pertama dan kedua, saya tidak memiliki kesulitan untuk menjawabnya. Saya yakin bahwa hukum Islam tidak dapat diterapkan secara utuh dimanapun dalam kekuasaan pemerintahan thoghut. Jika sampai terjadi qishosh disana, saya ragu aparat kepolisian akan diam saja. Sehingga untuk dua poin itu saya memiliki pendirian yang jelas.

Untuk poin ketiga, saya perlu melakukan penelaahan ulang. Seorang ulama salaf mengingatkan bahwa sebelum melakukan sesuatu, seorang mu’min akan melihat niatnya. Jika karena hal selain Allah, maka akan ia urungkan. Lalu jika karena Allah, ia akan pertimbangkan kesanggupan melaksanakan sesuatu itu. Maka saya renungkan apakah karena Allah sehingga diperlukan mengambil langkah “hijrah” kesana?

Ibnu Qayyim Al Jauziyah mengatakan dalam kitab Al Fawa’id perihal iman sebagai berikut : “Rangkuman dari pengetahuan mengenai apa yang dibawa oleh Rasulullah saw berupa ilmu, membenarkannya yang bersifat aqidah, lalu mengucapkannya dengan perkataan, lalu tunduk kepadanya yang bersifat kecintaan dan kepasrahan, lalu mengamalkannya yang bersifat dzahir maupun batin dan mendakwahkan sesuai dengan kesanggupan.” Lanjut lagi, Ibnu Qayyim menambahkan bahwa kesempurnaan iman ditunjukkan dengan empat hal, yaitu kecintaan karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan menahan karena Allah.

Dari pemaparan perihal iman diatas ada dua hal yang saya garisbawahi soal “hijrah” ke pemukiman Islami ini. Pertama, apa amal yang dapat saya lakukan di tnfah masyarakat yang terbatas, homogen dan memiliki keinginan untuk menjauh dari dunia. Hal ini mengganggu saya karena jelas tanpa amal, iman tidak sempurna dan utuh. Sayyid Quthb dalam kita Fii Dzilalil Qur’an mengatakan bahwa iman tanpa amal hanya ada dalam hati yang sakit.

Kedua, siapa yang akan saya dakwahkan jika masyarakatnya homogen dan memiliki keinginan yang sama yaitu menjauh dari dunia? Sekali lagi, dakwah adalah konsekuensi dari iman sebagaimana sudah dijelaskan oleh Ibnu Qayyim diatas sehingga tanpa dakwah, iman tidak sempurna. Bayangkan jika seluruh kaum Muslimin yang memiliki fikroh yang hanif pergi ke tempat ini, siapa yang berdakwah pada masyarakat?

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menjelaskan kewajiban setiap Muslim dalam kitab Al Ushul Ats Tsalatsah, adalah pertama mencari ilmu, beramal, berdakwah dan bersabar. Dalilnya adalah surah Al Ashr. Orang yang dikatakan merugi adalah orang yang kehilangan kesempatan untuk beramal dan berdakwah lalu bersabar di tengah masyarakat yang ia dakwahi. Apalagi ia memiliki ilmu yang dapat ia amalkan, dakwahkan lalu ia bersabar di atas ilmu itu. Inilah Islam yang saya pelajari, pahami dan berusaha untuk saya amalkan sekuat jiwa.

Maka kesimpulan dari poin ketiga, langkah untuk “hijrah” ke tempat yang jauh dari syubhat, kekufuran dan kemusyrikan bertentangan dengan pemahaman saya akan iman dan Islam. Manhaj dakwah Rasulullah saw tidak ditujukan kepada mereka yang sudah beriman, tapi kepada kafir Quraisy yang menyembah berhala. Demikian juga Ibrahim as yang berdakwah kepada kaumnya yang menyembah berhala, benda langit dsb, bukan kepada mereka yang sudah beriman. Tarbiyah yang dilakukan oleh para nabi ditujukan agar para sahabatnya dapat menyebarkan Islam ke wilayah yang masih kufur dan musyrik. Artinya, di tengah kekufuran dan kemusyrikan-lah seorang Mu’min diwajibkan untk berjibaku untuk menyerukan kepada masyarakatnya agar mereka kafir terhadap thoghut, beriman kepada Allah, keluar dari gelapnya jahiliyah menuju cahaya Islam, sehingga mereka ingkari thoghut itu dan beribadah hanya kepada Allah. Manfaat kaum Mu’minin berada di tengah syubhat, kekufuran dan kemusyrikan jauh lebih besar. Betapa mulianya amanah ini yang diembankan kepada hambaNya yang beriman. Dan imbalan yang dijanjikan Allah bukanlah perkampungan Islami, melainkan Al Jannah. Kekekalan dalam surgaNya yang abadi. ALLAHU AKBAR!

Lalu pada poin ke empat, saya semakin melihat tidak ada urgensi untuk melakukan uzlah. Rasulullah saw melakukan uzlah/pengasingan diri ketika beliau belum diangkat menjadi rasul. Namun sejak turun ayat seruan kepada beliau yang sedang berselimut, tidak ada lagi uzlah dalam sunnahnya.

Demikian pendapat pribadi saya yang tidak diminta perihal pemukiman Islami ini. Wallahu a’lam bishshowab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s