Tausiyah

Rengkuh Keberanian

Hidup kita dirahmati oleh berbagai peluang untuk beramal, dan tidak semua di antara kita yang menyadari hal itu. Kemungkinan karena ketidaktahuan atau bisa juga karena ketiadaan kesadaran dan akal sehat, atau bahkan karena hati yang sudah kering lapuk oleh dunia.

Ali bin Abi Thalib ra dengan keagungan dan kebijakannya menjelaskan kepada kita bahwa kebenaran dapat datang dari mana saja. Namun dibutuhkan kebersihan dan kejernihan hati untuk dapat melihatnya. Dan dibutuhkan keberanian untuk merengkuh kebenaran dan menjadikannya bagian dari diri kita. Dalam tulisan kali ini, saya ingin mengajak pembaca untuk merenungi mengenai keberanian itu.

Tulisan ini beranjak dari kenyataan pahit dalam dunia Islam saat ini. Dimana mereka yang menyematkan diri sebagai kader dakwah, pengemban amanah para Rasul dan Nabi, penerus jalan para sahabat dan generasi terdahulu, para ulama dan mujahidin, lalai dalam memberanikan diri mereka untuk merengkuh kebenaran yang ada di hadapan mereka. Keberanian mereka luntur jika dihadapkan pada kenyataan hidup yang mereka jalani.

Mungkin mereka tidak pernah membayangkan betapa takutnya Rasulullah saw ketika Jibril as menampakkan wujudnya pertama kali. Betapa menakutkannya amanah kerasulan dan kenabian yang diamanahkan ke pundak Rasulullah saw sampai-sampai beliau tidur berselimut dan bermandikan keringat dingin. Namun Rasulullah bangkit dengan lantang menyuarakan tauhid di hadapan kaum kafir Quraisy daan kemudian suara itu terdengar hingga ke pelosok dunia melintasi samudera dan jaman hingga ke pangkuan kita.

Sejarah juga menunjukkan kita kepada wajah para sahabat Rasulullah saw yang melihat kebenaran yang dibawa beliau. Bayangkan kengerian seorang Bilal ra yang hanyalah budak atau seorang Ammar bin Yasir ra melihat keluarganya disiksa dan dibunuh di hadapannya. Para sahabat yang beriman menahan lapar karena boikot penduduk Mekkah, apakah tidak ada ketakutan dalam diri mereka menghadapi hari esok? Mereka bahkan sampai menaikkan keluhan kepada Rasul memohonkan pertolongan Allah. Ya, mereka mengalami ketakutan ketika kebenaran dihadapkan kepada mereka.

Atau bayangkan ketakutan Nabi Yahya as sebelum dibelah menjadi dua dengan gergaji. Nabi Ibrahim as yang hendak dilemparkan ke dalam panas api yang menyala. Nabi Nuh as yang akan menghadapi banjir yang hendak menelan seisi Bumi ini. Musa as bersama denga Nabi Harun as menghadapi kebengisan Fir’aun dan tentaranya. Ya, mereka semua adalah manusia yang memiliki rasa takut dalam diri mereka, namun mereka melangkah.

Jika derajat para Nabi dan Rasul, juga para sahabat mungkin terlalu tinggi untuk dibandingkan, bagaimana dengan Ghulam pemuda yang dipanah oleh raja lalim demi mendakwahkan kekuasaan Allah. Juga rakyat jelata yang memilih melompat ke dalam parit api karena kebenaran yang nampak dari si Ghulam tersebut.

“Ahad.. ahad..,” demikian Bilal ra mengulang-ulang.

“Jangan takut, Ibu, sesungguhnya engkau berada dalam kebenaran,” dari seorang anak kepada ibunya yang takut untuk melompat ke dalam parit api si raja lalim.

“Jangan takut, sesungguhnya Allah beserta kita,” sabda Rasulullah saw di dalam gua persembunyian kepada abu Bakar Ash-Shiddiq ra.

“Jangan takut, sesungguhnya Rabb-ku menyertaiku,” sabda Musa as kepada bani Israel yang mengejar di belakang mereka tentara Fir’aun dan dihadapan mereka Laut Merah membentang luas.

Keberanian selalu menyertai mereka yang ridho terhadap ketentuan Allah ta’ala. Walaupun konsekuensi dari kebenaran itu akan mengoyak kehidupan mereka, mencabik-cabik kenyataan yang mereka nikmati selama ini, dan melumatkan harapan jahiliyyah yang sebelumnya mereka pegang teguh. Tanpa keridhoan tak akan ada keberanian. Tanpa keberanian, maka jiwa akan senantiasa terkungkung dalam kesesatan dan kenistaan dunia yang hina.

Inilah jalan yang ditempuh para Nabi dan Rasul. Juga oleh mereka yang membenarkan nubuat dan risalah yang dibawa ke hadapan mereka. Merekalah yang berada di dalam jalan yang diberikan kenikmatan atas siapa yang berada didalamnya. Inilah mereka yang memeluk Islam lalu mengacuhkan dunia dengan kefanaannya dan memilih janji Allah ta’ala. Mereka berani untuk merengkuh kebenaran.

Wallahu a’lam bish-showab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s