Tausiyah

Dunia.. Dunia.. Dunia..

Tidak akan pernah kita temukan seorang ulama yang mulia dan istiqomah dalam agama, namun bergelimangan dengan dunia. Tidak akan pernah tercatat pula dalam sejarah dimana kemuliaan seorang hamba Allah diukur dari jumlah hartanya, ataupun dari besar dan mewah rumahnya. Jikapun ada, maka tentu tidaklah banyak.

Kehidupan dunia dan akhirat secara hakikat memang seakan berlawanan, walaupun sebenarnya tidak demikian. Sudut pandang manusia yang sempit menjadikan dunia sebagai idola dan akhirat hanya diletakkan di awang-awang mimpi, tergantung dengan manis untuk diratapi dan dibayangkan. Ketika dunia menjadi sesuatu yang nyata di depan mata, maka sangatlah mudah bagi kita untuk berupaya mengejarnya, bukan?

Dalam sebuah hadits yang mengisahkan keluhan Handzalah ra kepada Abu Bakar ra, yang kemudian keduanya mengadukan keluhan mereka kepada Rasulullah saw, ada sesuatu hal yang seringkali luput dari perhatian kita. Yaitu bagaimana Handzalah dan Abu Bakar menggambarkan kondisi iman dalam keadaan matang dan puncak ketika mereka berada bersama dengan Rasulullah. Dalam uraian Handzalah dalam hadits tersebut, seakan surga dan neraka terhampar di hadapan mereka sehingga mereka dapat melihat dengan nyata, merasakan harapan dan ketakutan dengan pemandangan tersebut.

Hal semacam inilah yang menjadikan generasi para sahabat menjadi sebuah generasi yang tidak mungkin tersaingi sepanjang masa.

Hal yang unik pada umat manusia jaman sekarang, atau mungkin sejak jaman dahulu, adalah kita mengejar sesuatu yang tidak pasti hanya karena ia berwujud nyata di hadapan mata kita. Seakan karena ia berwujud, berbau dan berasa, maka ia adalah sesuatu hal yang pasti. Padahal, seumur hidup kita dan ditambahkan dengan sepanjang umur yang sama, belum tentu kita bisa dapatkan hal tersebut. Namun hal tersebut tetap kita kejar seakan ia merupakan sebuah hal yang pasti.

Kenyataannya, hanya ada dua kepastian yang absolut dalam hidup kita di dunia. Pertama, masa lalu yang sudah kita lewatkan beriringan dengan waktu yang terus berjalan. Kedua, akhir dari masa hidup kita yang tidak dapat kita ketahui kapan datangnya. Dua hal ini adalah kepastian dalam hidup ini.

Permasalahannya adalah kita lalai mempersiapkan diri untuk hal yang jelas dan pasti tersebut, karena keadaan kita yang disibukkan dengan ketidakpastian dunia. Harta, kekuasaan. Kedudukan, jabatan. Impian dan khayalan. Lalu kita melupakan kekalnya kenikmatan surga dan pedihnya kekekalan dalam kehinaan api neraka.

Dalam hadits yang disinggung di atas, Rasulullah menjelaskan keadaan iman yang terkadang naik dan juga terkadang turun. Yang perlu kita ingatkan pada diri kita adalah jangan sampai keadaan iman kita dalam posisi turun secara terus menerus.

Semoga Allah ta’ala memudahkan langkah kita untuk menuju keridhaan-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s