Tausiyah

Ikhlas dan Tauhid

‘Id Mubarak..! Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar..!!

Kumandang takbir dari sejak malam hingga beberapa hari ke depan di setiap surau dan masjid. Di musholla, di rumah, hingga terdengar di pelosok-pelosok. Betapa indahnya kumandang takbir. Betapa syahdunya kaum Muslimin yang bersatu dalam lantunan takbir.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar..!

Keindahan lantunan ini terdengar hanya setahun dua kali. Ketika kita merayakan hari raya Idul Fitri, dan kini ketika kita merayakan Idul Adha. Betapa kita merindukan asma Allah Azza wa Jalla dibesarkan, namun di saat yang sama ada hentakan kesadaran dalam benak kita. Hanya dua kali dalam setahun?

Satu tahun yang terdiri dari 365 hari itu, kita hanya bertakbir seperti ini hanya dua kali. Padahal nikmat Allah ta’ala yang kita rasakan tidak berbeda dan berkurang sepanjang tahun itu. Dan kebesaran Allah ta’ala juga tidak berkurang sepanjang tahun itu. Lalu mengapa kita membesarkan asma Allah hanya dua kali dalam setahun?

Dzikir yang kita lantunkan seringkali gugur dalam perjalanan hidup. Kita mengucap takbir lebih dari seratus kali dalam waktu satu hari satu malam, tapi tidak ada ketundukkan kita kepada Allah sepanjang tahun. Tidak sering kita bertafakkur, merenungkan kebesaranNya, kemuliaanNya dan kesempurnaanNya. Bahkan seringkali kita menodai kesemuanya itu dalam tindakan, perkataan dan sikap yang kita lakukan.

Satu kisah yang melatarbelakangi hari raya ini adalah peristiwa kemenangan Ibrahim as, ketika Allah ta’ala menurunkan wahyu berupa mimpi yang memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih anaknya. Perintah yang sungguh berat, dan seringkali dikutip dan dikaji oleh umat Islam demi menggapai hikmahnya.

Pertanyaan sebenarnya dari kisah tersebut yang jarang sekali ditanyakan adalah bagaimana Ibrahim as menemukan keikhlasan yang sedemikian besar, sehingga beliau teguh dalam menjalankan perintah Allah ta’ala tersebut. Lalu bagaimana juga seorang anak yang baru aqil baligh, Ismail as, dapat ikhlas ketika mengetahui bahwa ayahnya diperintahkan untuk menyembelih dirinya. Sungguh menakjubkan, bukan?

Jika kita perhatikan kisah Ibrahim as yang sering diangkat dalam Al Qur’an, maka kita akan menemukan bahwa kehidupan Ibrahim sedari kecil sudah sangat dekat dengan nilai-nilai tauhid. Sejak muda, Ibrahim sudah menentang kekufuran dan kemusyrikan kaumnya, memporakporandakan argumentasi dan fikroh musyrik yang menghantui kaumnya. Beranjak dewasa, Ibrahim as menentang pemikiran sesat para penyembah bulan dan benda langit lainnya.

Nilai tauhid telah bercokol dalam hati dan jiwa Ibrahim as, sehingga ketika beliau hendak dilemparkan ke dalam lautan api oleh kaumnya, beliau tidak meminta pertolongan kepada siapapun. Bahkan ketika Jibril as menghampiri dirinya menawarkan bantuan, jawaban Ibrahim as kukuh, “Aku hanya butuh pertolongan dari Allah.” (Kisah Para Nabi, Ibnu Katsir)

Lalu bagaimana dengan Ismail as? Ismail, seorang anak dari sesosok ibu yang luar biasa kental dengan nilai tauhid. Wanita yang ditinggalkan oleh suaminya di padang gurun tanpa kehidupan sedikit pun, dan ikhlas ketika ia mengetahui bahwa adalah atas perintah Allah, sang suami melakukan hal itu. Dari Hajar inilah nilai tauhid ditanamkan ke dalam jiwa Ismail as. Ayahnya seorang nabi, dan ibunya seorang wanita yang bertauhid.

Ibrahim as dan Ismail as tidak begitu saja mendapatkan keikhlasan yang luar biasa itu. Ada penempaan dalam kehidupan mereka, pendidikan demi pemahaman mereka sehingga mereka menjalankan hidupnya dalam satu nuansa, tauhid.

Allahu akbar!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s