Tausiyah

Merenungi Hati

Jika kita ingat berapa banyak waktu yang kita buang dalam sehari saja, dimana waktu itu tidak menghasilkan manfaat bagi diri kita dalam mendekatkan diri kepada Allah ta’ala, apa yang akan kita lakukan?

Waktu adalah mahluk Allah yang paling unik. Ia konstan berjalan, stabil melangkah tanpa mengenal lelah. Ia tetap dan tidak berubah. Tidak pernah waktu berjalan lebih cepat, ataupun lebih lambat. Tapi ia juga tidak pernah berhenti bergerak dan melangkah. Ia tidak pernah bahkan mundur satu langkah pun ke belakang. Hanya satu arahnya, maju ke depan.

Jika Allah berikan kepada Waktu sebuah pilihan, untuk dapat mundur kembali kepada tempat sebelumnya, mungkin ia akan dengan senang hati bergerak mundur. Namun kehendak mutlak Allah jadikan ia tetap dan konstan. Waktu tidak tergoyahkan dalam langkahnya maju ke depan, dan keadaan inilah yang menjadi kerugian bagi manusia.

“Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam keadaan yang sangat merugi, ..” QS. Al-Ashr : 1-2

Mengapa kita merugi? Karena kita tidak dapat mengulangi umur kita yang telah lewat. Karena dunia akan terus berputar hingga Allah tentukan masanya. Karena waktu akan terus berjalan tanpa hiraukan bagaimana keadaan kita saat ini.

Ibnul Jauzi pernah memberikan tausiyah dalam sebuah khutbahnya, bahwa manusia hidup hanya dalam tiga masa, tidak lebih. Masa lalu dimana kita tidak dapat ubah. Masa depan yang belum tentu kita bertemu dengannya. Dan saat ini, dimana kita memiliki kesempatan untuk perbaiki kesalahan di masa lalu, benahi keadaan untuk masa depan yang lebih baik.

“.. kecuali mereka yang beriman, lalu melakukan amal-amal shalih, dan saling menasihati kepada kebenaran lalu menasihati kepada kesabaran.” QS. Al-Ashr : 3

Empat syarat yang Allah berikan kepada kita sebagai arahan agar manusia terhindar dari kerugian. Dimana keempat syarat itu menunjukkan apa yang dapat kita lakukan pada saat sekarang ini. Karena waktu telah membuat kita melewati hari kemarin. Dan waktu juga belum tentu bertemu dengan kita esok.

Beriman kepada Allah ta’ala dan RasulNya, sebuah amalan hati, ucapan dan sikap perbuatan yang tidak terlepas dari kelalaian seorang manusia. Ada kalanya iman itu naik dan ada kalanya ketika iman menyentuh tingkat dasar. Apa yang bisa kita lakukan pada hari ini adalah menguatkan iman tersebut.

Sebuah kisah mengenai dua orang saudara yang tinggal serumah dua lantai. Si Kakak tinggal di lantai bawah dan si Adik tinggal di lantai atasnya. Si Kakak adalah orang yang gemar bermaksiat dan sebaliknya si Adik adalah seorang ahli ibadah. Selama puluhan tahun mereka tinggal bersama dengan sikap seperti itu.

Hingga suatu waktu, si Adik berpikir. “Aku telah beribadah seumur hidupku, dan kakakku selalu bermaksiat. Mungkin jika aku menemani kakakku dalam kemaksiatannya, aku dapat merasakan kehidupannya. Lagipula amalku sudah banyak dan Allah Maha Pengampun.” Maka si Adik pun melangkah turun ke bawah. Di saat yang sama, si Kakak pun merenung. “Hidupku selama ini penuh dengan maksiat, dan adikku rajin beribadah. Mungkin jika aku menemani adikku dan turut beribadah, aku akan merasakan nikmat ibadah dan mendapatkan hidayah.” Maka si Kakak pun segera menaiki tangga ke atas.

Tanpa mereka duga, mereka bertabrakan satu sama lain di tangga tersebut lalu meninggal dunia. Si Adik meninggal dalam keadaan ingin bermaksiat dan si Kakak meninggal dalam keadaan mencari hidayah. Siapa yang tahu waktu mereka ternyata sudah habis?

Melakukan amal-amal shalih, adalah syarat utama dalan meraih keridhaan Allah ta’ala. Baik yang ringan maupun yang besar. Yang disukai oleh Allah adalah amalan yang istiqomah, terlepas dari besar atau kecilnya amal tersebut, selama dilakukan ikhlas kepada Allah. Dua syarat sebuah amal menjadi amal yang shalih, pertama diikhlaskan kepada Allah dan kedua dilakukan sesuai dengan petunjukNya dan RasulNya.

Amalan shalih menjadi bukti keimanan yang terlihat nyata. Amal shalih tidak mungkin dikerjakan tanpa ilmu, karena itu mencari ilmu menduduki tempat yang mulia dalam kehidupan seorang yang beriman. Tanpa ilmu, tidak ada amal.

Saling menasihati kepada kebenaran, menjadi salah satu syarat agar kita tidak menjadi manusia yang merugi. Langkah seseorang yang beriman dan beramal shalih juga mengharuskan dirinya untuk membawa apa yang ia miliki kepada orang lain untuk menjadi manfaat.

Denga demikian, jadilah ia seorang memiliki deposito tabungan amal pahala yang menjadi penguat hujjah dirinya kelak di akhirat. Amalan yang senantiasa berbuah dan produktif, dimana kebaikan yang ia miliki turut diajarkan, diwariskan dan diamalkan oleh orang yang ia nasihati kepada kebenaran.

Maka beradalah ia pada sebuah kumpulan manusia dimana mereka sama-sama beriman, aktif dalam mengerjakan amal-amal shalih dan saling mengingatkan kepada kebenaran. Realita keterbatasan diri manusia tidak menghapuskan kemungkinan terjerumusnya kembali mereka kepada kesalahan, kelalaian dan ketergesaan.

Disinilah orang yang hendak mendapatkan keuntungan kemudian berusaha menasihati saudaranya kepada kesabaran. Agar mereka senantiasa berdiri dengan keteguhan dalam iman sebagaimana sabda Rasul, “Katakan aku beriman kepada Allah dan istiqomahlah.” Agar mereka senantiasa mengerjakan amal-amal shalih tanpa takut cercaan, makian, hinaan, dan siksaan dari orang mencintai kedzaliman dan kefasikan. Dan agar mereka senantiasa tetap saling kepada kebenaran walaupun beredarnya fitnah dari mereka yang bangga dengan kekufuran.

Waktu akan terus berjalan terlepas bagaimana keadaan kita. Sungguhlah kita berada dalam keadaan yang hampa tanpa amal dan merugi di akhirat kelak jika kita lalaikan nasihat dan petunjuk dari Allah ini. Wallahu a’lam bishshowab.

2 pemikiran pada “Merenungi Hati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s