Twit

Syarat Amal Shalih

Rangkuman kultwit dari mas Iqbal (twitter:@stiq_bal blog: https://tajarrud.wordpress.com) tentang syarat-syarat suatu amalan dikatakan amal shalih.

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Tidak ada surga tanpa keridhaan Allah, dan tidak ada keridhaan Allah tanpa ketaqwaan kepadaNya yang terwujud dalam berbagai amalan shalih.

Dua syarat sebuah amal dinyatakan sebagai amal shalih. Pertama, diikhlaskan semata kepada Allah. Kedua, mengikuti tuntunan petunjukNya.

Mengikhlaskan sebuah amal kepada Allah adalah sebuah proses yang berkesinambungan, tidaak berhenti pada niat sebelum melakukan amal. Karena niat bisa berubah.

Ikhlaskan amal kepada Allah dilakukan dengan mengawali amal dengan meniatkannya kepada Allah, lalu menjaga keikhlasan itu sepanjang jalan, dan menjaga keikhlasan itu setelah kita melakukan amal tersebut. Ketiganya merupakan bagian yang tidak terlepas dari upaya mengikhlaskan amal kepada Allah.

Niat diawal amal adalah penegasan pertama akan keikhlasan kita kepada Allah dalam melakukan amal tersebut, tidak menyekutukan tujuan amal itu.

Masalahnya niat adalah sesuatu yg cenderung labil. Niat kita mudah berubah seiring jalan. Nah, ini kesulitan pertama dalam mengikhlaskan amal.

Jika keikhlasan hanya sebatas niat di awal amal, tentu kita tidak akan kesulitan melakukannya, bukan? Sayangnya ikhlas bukan sekedar itu.

Niat pada sebelum melakukan amal perlu penjagaan yang konstan agar ia senantiasa stabil, tidak berubah dan kokoh berada pada pondasinya. Mudah? Tidak.

Ali ra pernah menghentikan khutbahnya karena ia merasakan adanya ujub dalam hatinya. Ia kemudian melanjutkan setelah ia ikhlaskan kembali pada Allah.

Dalam sebuah perang, Ali ra diludahi oleh kaum kafir yang berduel dengan beliau. Ketika Ali hendak menghunus pedangnya, Ali berhenti sejenak.

Ali ra terhenti karena ia khawatir bahwa amarahnya yang menuntunnya untuk membunuh orang kafir tersebut, bukan keikhlasannya jalankan jihad fii sabilillah.

Seorang ulama besar pernah membubarkan ta’limnya karena jumlah pesertanya menjadi terlalu banyak sehingga ia takut keikhlasannya luntur lantaran ujub.

Orang yang berilmu tidak akan segan menghentikan amal yang sedang dilakukannya ketika ia khawatir amal tersebut rusak karena hal duniawi, tidak lagi ikhlas.

Padahal amal tersebut adalah amalan yang bisa jadi bersifat mubah sehingga boleh saja amal tersebut tidak diniatkan kepada Allah, contoh kisah Ali ra dalam peperangan tadi.

Kesulitan awal dalam ikhlas kepada Allah adalah menjaga kontinuitas ikhlas tersebut sepanjang kita lakukan amal. Kita seringkali berubah niat dalam hati.

Jika keikhlasan hanya sebatas niat di awal amal, tentu kita tidak akan kesulitan melakukannya, bukan? Sayangnya ikhlas bukan sekedar itu.

Kesulitan awal dalam ikhlas kepada Allah adalah menjaga kontinuitas ikhlas tersebut sepanjang kita lakukan amal. Kita seringkali berubah niat dalam hati.

Hasutan syaithon ke dalam hati kita tidak berhenti pada niat awal kita, maka perlulah kita menjaga kebersihan hati dari dunia dalam beramal shalih.

Kesulitan selanjutnya, menjaga keikhlasan tersebut selepas amal selesai dilaksanakan. Allah ta’ala bahkan ancam orang yang ungkit2 shodaqohnya.

Seorg tabi’in mengatakan bahwa ikhlas adalah melakukan sesuatu karena Allah semata, dan seakan tidak melakukan apapun setelah selesai beramal.

Artinya ikhlas kepada Allah ta’ala adalah upaya yang tiada hentinya, karena kita segera lupakan amal sebelumnya dan memulai yang baru sedari awal.

Dengan mengungkit2 amal yang sudah kita lakukan, maka kita masukan ujub dalam hati kita, juga riya’ yang merupakan bentuk kesyirikan dalam beramal.

Penjagaan terhadap keikhlasan sepanjang amal dan selepas amal, sama sekali bukan perkara mudah. Masalahnya, tanpa menjaga ikhlas, amal bisa rusak.

Dlm Al Qur’an, Allah ta’ala mengancam Rasulullah saw jika sampai beliau menyekutukan Allah dalam amal beliau. Padahal Rasul adalah kekasih Allah.

Jika Sang Kekasih Allah ta’ala mendapatkan ancaman untuk masalah keikhlasan, bagamana dengan kita yang hanya hamba Allah? Perlu upaya ekstra untuk jaga ikhlas.

Penjagaan terhadap keikhlasan dapat kita raih jika kita senantiasa bersihkan hati, rasakan pengawasan Allah terhadap diri kita, dan tawadhu.

Inilah pentingnya kajian tazkiyatunnafs. Karen penjagaan kebersihan hati berpengaruh langsung terhadap keikhlasan yang jadi syarat pertama dari amal shalih.

Hati yang bersih akan otomatis merasakan kebesaran Allah kemanapun ia melangkahkan kakinya. Jiwanya terkagum akan kebesaran Allah.

Kesadaran akan pengawasan Allah bangkit dari pengetahuan akan sifat Allah ta’ala, dari kesadaran dan kekaguman akan kebesaran Allah ta’ala.

Tawadhu merupakan konsekuensi dari kesadaran akan kebesaran dan pengawasan Allah ta’ala, dimana hati kita malu dan tunduk kepadaNya. Kunci ikhlas.

Lalu syarat yg kedua agar sebuah amal menjadi amal yang shalih adalah mengikuti petunjukNya, yg tertuang dalam Al Qur’an dalam pribadi Rasulullah.

Sebagaimana sudah kita ketahui bahwa syarat kedua sebuah amal menjadi amalan shalih yang bernilai ibadah adalah mengikuti petunjukNya.

Pertanyaan yang sering terlontar perihal ini adalah mengapa sebuah amal shalih yang bernilai ibadah harus mengikuti petunjukNya.

Bagaimana dengan amal2 yang baik kita lakukan yang mungkin tidak sesuai dengan petunjukNya? Nah, ini pertanyaan yang rumit unutk dijelaskan. Mari kita urut logikanya.

Pertama dari sisi iman, dimana amal shalih merupakan buah dari keimanan. Kita bisa perhatikan seringnya Allah sandingkan iman dengan amal shalih.

Ibarat pohon yang menjulang, iman membuahkan amalan shalihah. Karena amal shalih merupakan pengejewantahan iman, aplikasi dari iman.

Orang yang beriman akan memiliki dorongan untuk beramal shalih, bukan semata beramal baik. Tuntutan ini menjadi wajar jika kita pahami perintah Allah.

Iman seseorg kepada Allah mengharuskannya mengimani apa yang datang dari Allah, yaitu Kitabullah, dan yang membawanya sebagai Rasulullah, utusan Allah.

Hal ini terlihat dalam hadits Jibril dimana Rasulullah menjabarkan apa itu iman. Iman tidak utuh tanpa beriman kepada Kitabullah dan Rasulullah.

Tidak beriman kepada Kitabullah dan RasulNya, bukan berarti ketidaksempurnaan iman. Tapi ketiadaan iman karena tidak utuhnya iman.

Nah, mengimani Kitabullah sebagai rukun dari iman mewajibkan setiap Muslim untuk berpegang pada Al Qur’an. Tidak ada tawar menawar disini.

Al Qur’an sebagai manhajul hayah, pedoman hidup, merupakan prinsip dasar hidup seorang Muslim, yang kemudian menjadi tolok ukur bagi setiap Muslim

Sayyid Quthb mengatakan bahwa iman demikian menuntut seorang Muslim menjadikan Al Qur’an sebagai penentu benar/salah, baik/buruk atas segala sesuatu.

Al Qur’an menjadi pedoman yang dinamis dalam hidup seorang Muslim. Hal ini bukanlah hal yang hanya merupakan khayalan belaka. Sejarah buktikan.

Generasi sahabat adalah contoh nyata dalam sejarah peradaban manusia bagaimana Al Qur’an merubah mereka ketika mereka jadikannya sebagai pedoman hidup.

Puncak produktivitas amal shalih dalam sejarah peradaban manusia terletak pada tiga generasi awal Islam, hasilnya jelas dan nyata.

Al Qur’an yang merupakan petunjuk dan peringatan bagi umat manusia benar-benar terasa hidup dalam kehidupan masyarakat Muslim.

Kita bisa melihat dr Abu Bakr Ash Shiddiq, seorang pemimpin karismatik yang setiap malam menyuapi seorang nenek yang buta. Amal shalih.

Umar bin Khaththab, pemimpin yang keras dan tegas namun tunduk patuh dengarkan nenek di pinggir jalan yang ingatkannya agar takut kepada Allah.

Khalid bin Walid, dengan pernyataan perangnya yang semata karena Allah bukan karena pemimpin atau popularitas diri sendiri, atau jabatan belaka.

Utsman bin Affan yang berdagang dengan Allah untuk keuntungan 10 kali lipat dengan menginfaqkan hartanya bagi kaum Muslimin. Amal shalih.

Bagamana dengan Suhail Ar Rumi, yang seluruh hartanya ditinggalkan di Mekkah karena mengikuti perintah Allah untuk hijrah? Beruntung perdagangannya.

Inilah konsekuensi iman, yaitu menjadikan petunjukNya sebagai manhajul hayah yang kemudian menimbulkan satu konsekuensi baru, taat kepada Rasul.

Ayat yang perintah kaum beriman untuk taat kepada Allah seringkali dilanjutkan dengan firman agar mentaati RasulNya. Ibarat dua hal yang tak terpisahkan.

Tidaklah seorang Muslim dikatakan beriman jika ia ridha mentaati Allah tapi tidak ridha mentaati RasulNya. Ini kebohongan yang nyata.

Inilah yang kemudian menyempurnakan syarat amal shalih yang kedua, yaitu dengan mentaati Rasulullah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.

Tanpa ikuti petunjuk dari Allah yang terjabarkan dalam penjelasan baik dalam bentuk lisan maupun perbuatan Rasul, maka sebuah amal bukan ketaatan.

Amal yang dilakukan tanpa landasan ketaatan, hanya akan menjadi sebuah amal yang baik bukan amal shalih. Inilah keunikan para sahabat.

Para sahabat tidak beramal baik semata, tapi mereka jadikan amal mereka sebagai bentuk ketaatan pada Allah dan RasulNya. Beramal shalih.

Salah seorang sahabat mengatakan, “Sungguh aku mencari pahala dalam tidurku sebanyak kalian dalam siang hari kalian.” Perhatikan.

Tidurnya aja merupakan bentuk ketaatan kepada Allah dan RasulNya sehingga ia menjadikan tidurnya sebagai amal shalih. Apa ga unik?

Syarat kedua ini, isyaratkan kita untuk hilangkan syahwat manusiawi kita dalam beramal apalagi jika berbenturan dengan tuntunan Allah dan RasulNya.

Demikian yang bisa saya sampaikan mengenai amal shalih. Wallahu a’lam bishshowab.
Mohon koreksinya.

وَسَّلاَمُعَلَيْكُمْوَرَحْمَةُاللهِوَبَرَكَاعَتُ

Sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150340204663172&refid=9&cid=id_4e9ca4e2468631f56256540&refsrc=http%3A%2F%2Ft.co%2Fkrxga6Kq&_rdr

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s