Kehidupan, Pemikiran

Kenali Dirimu ..

Ketergesaan, itu yang seringkali membuat sebuah rencana menjadi gagal dalam pelaksanaannya. Ketergesaan sebenarnya menandakan ketidaksiapan kita dalam menghadapi kenyataan atau realita yang terjadi di hadapan. Hingga akhirnya kita lalai dalam mengambil langkah.

Ketergesaan juga merupakan bentuk ketidaksiapan mental, dimana semangat yang menjulang tinggi gagal diakomodir dengan pemahaman akan masalah. Ketika hal demikian terjadi, maka akan terjadi langkah sembrono demi sekedar bergerak jalan tanpa memiliki panduan yang tepat, arahan yang jelas, tujuan yang mapan dan kesiapan sarana dan prasarana yang memadai. Akhirnya langkah yang diambil hanya akan menjadi sebuah langkah fiktif, seakan mereka sedang bergerak melangkah maju namun kenyataannya mereka sama sekali tidak bergerak bahkan mengalami kemunduran.

Permasalahannya adalah dibutuhkan kacamata orang yang memahami masalah dan bersih dari kepentingan dan hasrat pribadi untuk menyadari terjadinya ketergesaan dalam melangkah. Bahkan terkadang dibutuhkan orang yang sama sekali berada di luar untuk mengingatkan dan menyadarkan langkah yang tergesa-gesa itu. Disinilah peranan pengendalian eksternal memiliki andil bagi komunitas internal.

Muhasabah diajarkan dalam agama Islam bukan semata untuk mengevaluasi langkah yang sudah diambil. Muhasabah adalah sebuah proses yang dimulai sedari awal sampai akhir. Sayangnya seringkali kita lalai dalam bermuhasabah sebelum melangkah.

Aisyah ra pernah memberitahukan kepada Rasulullah saw akan seorang wanita yang ibadahnya seakan tak kunjung putus. Rasulullah kemudian mengingatkan kita agar tidak berlebihan dalam beribadah karena sesungguhnya Allah ta’ala tidak akan bosan menerima ibadah kita sampai kemudian kita lebih dahulu mengalami kejenuhan. Dalam riwayat lain, Rasul mengarahkan kita untuk istiqomah dalam melakukan hal yang kecil dan sepele karena itu lebih disukai Allah daripada amal yang seakan besar namun tidak istiqomah.

Kebijakan dan kearifan Rasulullah saw tersebut menuntun kita untuk bermuhasabah sebelum melakukan amal. Sebatas apa kemampuan kita dan sejauh apa yang dapat kita lakukan dan perjuangkan. Dalam tingkat individu, hal demikian dilakukan dengan melihat kemampuan, baik fisik maupun materi dan ruhani. Karena Allah ta’ala tidak membebankan setiap hambaNya melebihi dari kemampuan mereka yang memang terbatas.

Keserakahan kita terkadang membuat kita ingin melaju secepat kilat, meraup segala kemungkinan dan menghadapi setiap tantangan tanpa melakukan muhasabah terhadap kemampuan dan kesanggupan diri kita sendiri. Tanpa kita sadari, kita tergesa-gesa karena kurangnya persiapan secara mental. Jadilah kita melangkah tanpa kesiapan, tanpa muhasabah.

Dalam tingkatan jama’ah, kita lebih sering lagi lalai dalam muhasabah. Hal ini mungkin dapat lebih dimengerti mengingat variabel yang mempengaruhi menjadi lebih banyak. Namun jika perangkat muhasabah tidak digunakan, maka hanya akan terjadi kebablasan dalam bertindak. Sebuah amal yang dicanangkan bersama hanya akan menjadi mimpi yang terbengkalai.

Penilaian akan kemampuan diri kita, baik individu maupun kelompok, diawali dengan muhasabah. Semakin baik kita sediakan perangkat untuk bermuhasabah, akan semakin detail kesadaran kita akan diri kita sendiri. Kita sadari kesanggupan kita dan persiapkan dalam batas kemampuan tersebut. Tidak berlebihan namun berpotensi istiqomah. Inilah yang lebih baik. Inilah yang diharapkan. Inilah yang diajarkan Rasulullah kepada kita.

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s