Tausiyah

Tujuan Kita

Setiap langkah yang dilemparkan tanpa memiliki tujuan jelas merupakan kesia-siaan. Ia menjadi tanpa makna, tanpa hakikat dan jelas tanpa manfaat. Langkah semacam ini merupakan sebuah kemubadziran, sehingga menjadikan kita lalai dan ceroboh.

Kelalaian semacam ini jelas mempercepat jalan kita menuju ketersesatan, apalagi jika kita berada di belantara fitnah sebagaimana dunia sekarang ini. Dipenuhi dengan kenikmatan yang menipu, hasrat yang menggebu dan membelokkan, memutar kita, hingga kita benar-benar kehilangan arah. Kecerobohan kita semakin membawa kita terjerumus ke dalam jurang kenistaan dan kejahiliyahan. Tanpa tujuan, inilah yang akan kita dapatkan.

Walaupun dikemas dengan bahasa yang tinggi seperti “go with the flow” atau filosofi air mengalir, dan sebagainya, ketersesatan tetaplah tersesat. Ungkapan manis untuk membungkus kebimbangan karena hidup yang tanpa tujuan hanyalah langkah apologis agar manusia tidak semakin merasa buruk atas diri mereka sendiri.

Allah ta’ala telah berikan manusia tujuan dalam hidup mereka, namun tujuan tersebut hanya nampak jelas bagi mereka yang beriman dan bertaqwa. Demikianlah difirmankan Allah ta’ala dalam QS. Al Baqarah : 2, “(Kitab) ini tidak ada keraguan didalamnya, petunjuk bagi orang yang bertaqwa.” Petunjuk yang nyata jelas tidak mungkin memiliki keraguan, kerancuan dan ketidakpastian. Iman seseorang kepada Allah ta’ala mengikis semua itu dan jadikan Al Qur’anul Karim sebagai satu-satunya petunjuk dalam kehidupan.

Konsekuensi berikutnya dari menjadikan Al Qur’an sebagai petunjuk adalah mengikuti teladan dari mereka yang memahami dan menjalankan Al Qur’an sebagai petunjuk hidup. Siapa mereka? Jelas, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dan para shohabat yang Allah berikan keridhaan atas mereka.

Kembali kepada bahasan awal kita, bahwa petunjuk dalam Al Qur’an memberikan kejelasan akan tujuan hidup kita. Hanya ada dua pilihan di penghujung jalan, surga Allah ta’ala atau siksaNya dalam kekekalan api neraka. Tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk menebak pilihan yang akan kita ambil dari dua pilihan tersebut, bukan?

Al Ustadz Fathuddin Ja’far, MA. mengatakan dalam salah satu tausiyah beliau bahwa orang yang bertaqwa memiliki dua orientansi hidup yang jelas bagi mereka, yaitu surga Allah ta’ala dan ampunanNya. Demikian sederhana namun sangat menggiurkan untuk diraih, walaupun jelas keduanya bukan ‘barang’ murahan. Ada harga yang harus dibayar, pengorbanan yang harus diberikan, iman dan taqwa yang perlu dibuktikan.

Hidup seorang yang beriman dan bertaqwa kemudian menjadi ringan jika ia mengingat tujuan yang hendak diraihnya, imbalan yang dijanjikanNya, dan harapan atas rahmatNya yang tanpa batas. Tujuan yang jelas memberikan kita bayangan akan akhir perjalanan yang senantiasa menjadi motor dan bahan bakar motivasi diri. Tidak dibutuhkan pembelaan apologis dalam menjalaninya karena kebaikan yang tampak dalam tiap langkahnya yang senantiasa berikan manfaat. Ucapannya mengajak dan serukan manusia kepada jalan Allah ta’ala. Tindakannya menjadi teladan bagi umat manusia. Sikapnya menjadi cahaya yang menghilangkan gelapnya jahiliyah dari masyarakat yang penuh syubhat.

Ya Allah, jadikanlah kami menjadi bagian dari hambaMu yang senantiasa beriman dan bertaqwa. Dengarkanlah doa ini, ya Rabb, karena Engka Maha Pendengar dan Maha Mengabulkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s