Kehidupan

Dakwahkah Ini?

Di sebuah daerah, saya menemukan beberapa kasus yang menarik dan ingin sekali saya bahas dalam artikel blog saya malam ini. Isi artikel ini memang merupakan pandangan pribadi saya yang dha’if sehingga mungkin tidak sesuai dengan pandangan syar’i yang benar. Jika demikian adanya, mohon koreksi terhadap kesalahan saya.

Katakanlah daerah ini merupakan daerah pinggiran kota atau bahkan bisa dikatakan jauh dari pinggiran kota. Perkembangan pemahaman Islam memang sedang marak di daerah-daerah, daerah yang menjadi bahasan kita kali ini pun tidak luput dari perkembangan dakwah Islam. Hanya saja masih banyak ditemukan pemahaman yang kurang utuh sehingga menjadikan pelaku dakwah ghuluw dalam menerapkan syariat Islam yang ia pahami.

Sebagai contoh, seorang tetangga yang tidak jauh dari tempat kami, yang mengikuti manhaj ‘salaf’. Ia melarang anaknya yang berumur 6-7 tahun untuk bermain bersama anak tetangga lainnua yang berbeda jenis kelamin dengan alasan haramnya campur baur antar gender. Ghuluw, hal ini yang terbersit dalam bayangan saya.

Ia pun mengucilkan dirinya dari lingkungan sekitarnya yang memang masih kental dengan nuansa Islam tradisional. Padahal sebagai seorang yang memahami Islam secara lebih baik, ia memiliki kewajiban untuk berdakwah bukan malah menghindari masyarakat sekitarnya. Kewajiban ini ia lalaikan, semata karena ia menolak bid’ah yang berlaku pada masyarakat sekitarnya. Adakah gunanya ia sebagai seorang Muslim jika ia tidak bisa berikan pemahaman Islam yang benar kepada tetangganya?

Lalu di sebelah rumah kami, tinggal sepasang suami istri dengan tiga anak mereka yang masih kecil-kecil. Hati saya merasakan mirisnya ketika para tetangga menceritakan betapa memprihatinkan kondisi anak-anak mereka yang seringkali telantar. Bukan karena orang tuanya tidak mampu berikan makan, tetapi karena orang tuanya terlalu sibuk dengan kegiatan partai ‘dakwah’ sehingga anak mereka terkadang tidak memiliki makanan dan seringkali ditinggal sendiri.

Para tetangga sama sekali tidak berniat menggunjing kehidupan keluarga mereka, hanya saja kondisi anak mereka seringkali memprihatinkan. Sulitnya adalah pola pikir yang tertanam pada orang tua si anak mementingkan orang lain dengan mengatasnamakan dakwah walaupun sebenarnya yang sedang diperjuangkan adalah kepentingan partai, bukan Islam.

Keadaan di atas sungguh merupakan keadaan nyata dan tidak dibuat-buat. Masyarakat sekitarnya kemudian menilai bahwa aktivis dakwah yang berpenampilan Islami, secara pesimis. Padahal mereka seharusnya menjadi teladan, dengan menetapkan prioritas yang benar. Kehilangan prioritas inilah yang kemudian malah merugikan dakwah, pada kenyataannya. Ghuluw.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s