Twit

Cinta dan Pernikahan, another point of view — sebuah kultwit by @stiq_bal

@stiq_bal :
  • banyak pasutri yg bingung ketika ditanyakan alasan mereka menikah. standarnya pd jawab menjalankan perintah agama dan sunnah Nabi.
  • jawaban yg juga cukup banyak adlh cinta. ya, banyak pasutri yg menikah krn cinta. kedengerannya indah ya? sayangnya tnyata tdk seindah itu.
  • jika kita buat data statistik, kira2 brp bnyk pasangan yg bercerai diawali dg pernikahan yg berlandaskan cinta? buanyyaaakk..
  • bahkan salah satu alasan pribadi dr pasangan yg hendak bercerai adlh krn sdh tdk lagi mencintai pasangannya. ini fakta lapangan lho.
  • ada banyak kasus dimana pernikahan tdk lg dpt dipertahankan, dgn alasan yg paling banyak itu justru, ya cinta itu tadi. ironi kan?
  • pertanyaan yg paling dasar skrg menjadi, apakah itu cinta? mengapa cinta menjadi alasan pernikahan dan juga perceraian?
  • kenyataannya, cinta hanyalah emosi. dan emosi manusia scr hakikat akan selalu labil. pernikahan dilandaskan cinta adlh pernikahan yg labil.
  • cinta tdk cukup kuat utk dijadikan tali pegangan bagi sebuah pernikahan, walaupun cinta jelas dibutuhkan dlm setiap pernikahan.
  • labilnya emosi yg naik dan turun menyebabkan pernikahan yg dilandaskan cinta merupakan pernikahan yg sangat riskan.
  • dlm bbrp kasus konsultasi yg saya temui, hilang atau menurunnya cinta thdp pasangan menjadi alasan utama penyebab tjadinya perselingkuhan.
  • rumitnya, perselingkuhan sering dilakukan oleh wanita bersuami lbh banyak drpd yg dilakukan oleh pria beristri. setidaknya itu yg saya temui
  • sebutlah dr 5 kasus yg saya temui, kesemuanya melibatkan istri yg selingkuh dan hanya 2 yg melibatkan suami berselingkuh. ga percaya?
  • fakta menyedihkan adlh anak muda kita saat ini, lbh memiliki pola pikir bahwa pernikahan HARUS dilandasi dg cinta. kesalahan remaja.
  • lanjut.. dlm sebuah diskusi dg bbrp org Barat, saya lihat ada kesamaan pola pikir bhw pernikahan hanya akan ada dg landasan cinta.
  • tdk perlu dipungkiri ada banyak pernikahan yg dilandasi cinta, dan awet sampai maut memisahkan mereka. tp ada hal yg menarik disini.
  • dlm pernikahan yg awet tsb, jika kita tanyakan pd pasutrinya, kita akan temukan bhw mereka bljr utk tdk hanya mengandalkan pd cinta semata.
  • dlm jangka panjang, cinta akan berubah bentuk, terubah esensinya menjadi sesuatu yg sama sekali lain dan itulah yg buat mereka awet.
  • jika cinta itu adlh landasan yg rapuh, lalu apa yg menjadi landasan yg kuat bagi sebuah pernikahan? adakah yg lbh kuat dr cinta? ada.
  • landasan yg kokoh adlh landasan yg stabil, konstan dan tdk bergerak. ia tdk goyah diterpa badai dan tdk lapuk melalui waktu. aqidah.
  • dlm Al Baqarah:256, dijelaskan akan satu hal yg penting dan makna ayat ini sangatlah luas menyentuh slrh aspek kehidupan kita.
  • dlm tiap kasus pernikahan yg saya temui, saya coba tanyakan kpd pasangan apa landasan pernikahan mereka. biasanya, mereka tdk bisa menjawab.
  • mereka berada dlm posisi yg serba salah krn pernikahan mereka diawali dg cinta, lalu kemudian bermasalah krn cinta sdh tdk lg ada.
  • mslhnya bukan pd bgmn menjaga cinta senantiasa hadir dlm pernikahan, krn hal ini tdk sulit. tp utk menjaga cinta utk abadi, tdk mgkn.
  • sesuatu yg pd hakikatnya labil, spt cinta, jk dipaksakan utk konstan, hslnya spt puding yg dikeraskan. slrh bagiannya bgetar jika digoyang.
  • aqidah, di sisi lain, adlh sesuatu yg tdk bergerak. berbeda dg iman yg naik dan turun, aqidah konstan dan stabil. aqidah hakikatnya demikian
  • seorg yg aqidahnya berpindah2, tdk stabil, adlh jelas seorg munafik. apalagi yg aqidahnya bongkar muat spt JIL, itu bukan aqidah namanya.
  • keikhlasan kpd Allah dlm setiap aspek kehidupan, terutama dlm bahasan kali ini pernikahan, mjd landasan yg lbh stabil drpd cinta.
  • ketika Allah dijadikan landasan dlm pernikahan, maka barometer slrh pernikahan akan bergeser dan berubah. bayangkan bedanya.
  • bandingkan sebuah pernikahan dmn landasannya brubah seiring emosi pasangannya, dg sebuah pernikahan yg landasann sesuatu yg tetap.
  • cinta mjd bumbu, bukan menu utama, bukan tujuan akhir dan juga bukan alasan utk apapun. cinta dikembalikan pd porsinya.
  • fenomena masyarakat kita saat ini adlh ghuluw dlm melihat banyak hal. cinta dan kasih sayang demikian diagungkan, sugar-coated life.
  • nah sekalian menjawab pertanyaan dari ukhti @nur_syam, kita masuk kpd tataran praktik. sekedar contoh aja ya, utk konkret agak sulit.
  • knp sulit? sama sekali bukan krn pernikahan berlandaskan aqidah adlh hal yg utopis, tp krn yg semacam ini sdh masuk dlm ranah pribadi.
  • artinya, praktik konkret dlm hal ini bisa jadi memiliki bentuk yg berbeda antar satu pasangan dg pasangan yg lain. nah kita mulai skrg.
  • dlm pernikahan yg berlandaskan cinta, istri akan melayani suami krn kecintaannya. jika cinta itu sdg turun maka pelayanannya jg kendor.
  • cnth, ketika suami pulang kantor disuguhi teh manis. kl sedang berantem, suami pulang dikasih cucian baju kotor. cinya sdg pergi ngelayap.
  • dlm pernikahan dg landasan aqidah, istri akan melayani suami krn ketaqwaannya kpd Allah semata. terlepas bgmn kondisi rmh tangga mereka.
  • cnth lain adlh ketika suami menyenangkan istri krn cintanya. lalu bgmn sikap suami ketika cinta sdg lemah? ngambek, ngomel.
  • di sisi lain, suami yg menyenangkan istri sbg bentuk ketaqwaan kpd Allah, akan berusaha bersikap sebaik mgkn terlepas keadaan dirinya.
  • suami bekerja bukan sekedar utk menafkahi keluarga, tp yg lbh utama ia bekerja krn perintah Allah utk menanggung nafkah keluarganya.
  • nah, dlm kedua cnth sederhana td bisa kita lihat scr praktik bgmn labilnya cinta dan betapa kokohnya aqidah, jika dijadikan landasan.
  • satu hal lg, pernikahan adlh ibadah yg dilakukan sepanjang masa pernikahan itu. ibadah yg diterima disisiNya adlh yg memang ditujukan kpdNya
  • semoga paparan barusan bermanfaat, mhn koreksinya jika ada kesalahan yg menyimpang dr Quran dan Sunnah.
  • in my own sayings, “love is like fart. you’ll know when its in the air, and you’ll also know when its already gone.” #love

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s