Pemikiran

Kecewa, Lurusnya Iman

Salah satu keistimewaan dari Nabiyullah Ibrahim alayhi salam adalah kisah kehidupannya sebelum menjadi nabi diceritakan Allah ta’ala dalam Al Qur’an. Selain beliau, tidak ada seorang nabi lain yang kisah hidupnya sebelum kenabian diceritakan oleh Allah ta’ala. Hal ini menjadi jelas bagi kita bahwa ada sebuah nilai lebih dari kehidupan Ibrahim alayhi salam sejak dari sebelum kenabian beliau.

Bahkan dalam Al Qur’an, Allah ta’ala menjadikan sikap Ibrahim as sebagai teladan yang wajib untuk dicontoh oleh setiap mu’min. Dan uniknya sikap Ibrahim as tersebut adalah sikapnya sebelum kenabian.

Ketegasan sikap Ibrahim as terhadap kekafiran kaumnya adalah sebuah pembatas yang tegas antara iman dengan tidak beriman. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa salah satu tanda keimanan adalah membenci apa yang dibenci oleh Allah ta’ala dan Rasul-Nya. Hal ini jelas dan tidak ada keraguan terhadapnya. Demikianlah Allah ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an mengenai hati yang Dia tanamkan kecintaan terhadap keimanan dan kebencian terhadap kekufuran, kefasikan dan kedzaliman.

Dengan demikian kita bisa melihat tegas, batasan antara orang yang beriman dengan mereka yang tidak beriman sama sekali dan juga dengan mereka yang imannya berada dalam kondisi yang tidak sempurna. Satu-satunya langkah yang jelas bagi mereka yang beriman dengan teguh adalah sebagaimana yang dicontohkan oleh Ibrahim as, yaitu menarik batasan tegas antara dirinya dengan mereka yang lainnya. Hal ini hanyalah wajar karena kecintaan seseorang terhadap keimanan akan menuntut dirinya untuk memproteksi keimanan dirinya dari bahaya-bahaya yang mungkin menurunkan kualitas imannya.

Kebencian terhadap kekafiran, kefasikan dan kedzaliman merupakan salah satu tanda yang lain dari iman. Bayangkan anda seseorang yang beriman lalu hidup di dalam sebuah masyarakat yang kafir, atau fasik, atau dzalim. Tentu anda akan merasakan kesengsaraan yang menusuk hingga ke dalam batin anda. Kondisi ini berawal dari kekecewaan yang mendalam sebagaimana Ibrahim as merasakan kecewa terhadap kekafiran kaumnya. Ingat, tidak hanya kekafiran yang kita bicarakan disini, tapi juga kefasikan dan kedzaliman.

Dalam kondisi yang selain kekafiran yang merebak dalam masyarakat, rasa kecewa terhadap keadaan yang fasik dan dzalim akan selalu ada dalam hati seorang yang beriman mutlak hanya kepada Allah ta’ala. Iman mereka menarik batasan jelas sehingga mereka akan mengucil atau dikucilkan, sehingga tidak heran jika pada akhirnya mereka akan dikeluarkan dari keadaan masyarakat atau komunitas yang fasik dan dzalim. Hal ini hanyalah wajar terjadi, dimana kekecewaan terhadap keadaan berujung kepada upaya yang ringan untuk memperbaiki kemudian menjadi langkah yang semakin tegas dan jelas untuk lakukan perbaikan. Jika sejauh itu masih tidak ada perbaikan, maka garis batas harus ditarik sesuai dengan tuntutan iman kepada Allah ta’ala.

Kita bisa melihat bahwa Ibrahim as kemudian menegur ayahnya dan kaumnya, beranjak dari kekecewaan terhadap keadaan mereka yang tidak sesuai dengan idealisme yang tertanam di dalam hati beliau. Hal semacam ini terjadi sepanjang umur sejarah manusia hidup. Perhatikan bagaimana Luth as juga menegur kaumnya beranjak dari kekecewaan beliau terhadap kelakuan kaumnya yang menyalahi norma. Perhatikan bagaimana Abu Bakar Ash-Shidiq mengambil langkah tegas hendak memerangi para kaum Muslimin yang menolak membayar zakat selain kepada Rasulullah saw. Lalu perhatikan bagaiman Imam Syahid Hasan Al Banna membentuk sebuah pergerakan yang kita kenal hingga sekarang, beranjak dari kekecewaan terhadap keadaan masyarakatnya yang tidak sesuai dengan Islam.

Faktanya, kekecewaanlah yang kemudian mendorong para nabi, para sahabat, dan para ulama besar untuk bertindak tegas dan menarik batasan yang jelas antara diri mereka dengan kekafiran, kefasikan dan kedzaliman. Keadaan ini yang akan terus menerus terjadi hingga terjadi perubahan mendasar dalam masyarakat dimana mereka kembali kepada Islam, menjadikan Allah ta’ala satu-satunya Rabb yang mereka ibadahi, menjadikan Rasulullah saw sebagai satu-satunya hakim di tengah mereka, lalu menjadikan Al-Qur’an sebagai manhajul hayah bagi diri mereka.

Maka itu, kecewalah wahai ikhwah! Kecewalah dengan landasan iman yang melekat dalam dada kalian kepada keadaan yang kufur, fasik dan dzalim. Tariklah batasan yang tegas antara diri kalian dengan kekufuran, kefasikan dan kedzaliman itu. Jangan biarkan dirimu berlarut di dalam kekufuran, kefasikan dan kedzaliman, sebagai bukti imanmu kepada Allah ta’ala.

Semoga Allah ta’ala mudahkan langkah kita menggapai Al-Jannah.

Satu pemikiran pada “Kecewa, Lurusnya Iman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s