Pemikiran

Petunjuk Jalan

Beberapa waktu yang lalu, saya melewati sebuah pertigaan jalan dimana terjadi kemacetan yang cukup panjang. Kondisi jalanan sungguh semrawut, dan tidak nampak seorang polisi pun yang biasanya ada untuk menertibkan jalan ini. Rute ini menjadi rute keseharian saya sejak mendapatkan pekerjaan baru di daerah Jakarta Barat, alhamdulillah. Dan memang, jalan ini merupakan titik macet potensial.

Tak heran jika ada polisi yang siaga menertibkan kendaraan dan rambu lalu lintas, setiap pagi, setiap hari. Namun di luar kebiasaan, pagi ini tidak terlihat seorang polisi pun. Kemacetan luar biasa pun terjadi. Rambu lalu lintas menjadi hiasan belaka, lampu merah menjadi pelengkap jalan raya. Motor dan mobil saling berhadapan tanpa ada niat untuk berikan jalan kepada yang lain. Waktu semakin siang, jam kantor pun terasa sudah lewat sehingga saya bisa pastikan kalau saya terlambat masuk kerja.

Keadaan bukan semakin membaik, tapi malah semakin ruwet. Motor yang memaksakan untuk dapat melewati celah kecil, mobil yang tidak mau memberikan celah karena takut diserobot, bajaj yang seakan merasa sekecil sepeda kumbang dan orang di pinggir jalan yang terampas haknya oleh penuhnya kendaraan.

Padahal jika kita menggunakan nalar sehat, jelas keadaan demikian sangat mungkin dihindari. Terutama ketika sudah ada rambu lalu lintas, lampu merah, batas marka jalan yang menjadi petunjuk bagi kendaraan bermotor dan pengguna jalan lainnya. Seakan kejadian semacam ini merupakan sebuah anomali yang tidak masuk akal kecuali jika kita pahami akar permasalahannya.

Allah ta’ala dengan firman-Nya dalam Al Qur’an dengan tegas memerintahkan kepada kaum beriman agar masuk Islam secara utuh dan menyeluruh dan memperingatkan kaum beriman dengan sebuah larangan dalam ayat yang sama untuk tidak mengikuti jejak langkah syaithon. Keutuhan Islam yang sempurna dan diridhai Allah ta’ala terletak di dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Keduanya menjadi petunjuk dari Allah ta’ala untuk mereka yang beriman kepada Allah ta’ala dan Hari Akhir.

Dengan mengikuti petunjuk yang telah Allah berikan untuk seluruh umat manusia ini, yang sesuai dengan fithroh mereka dan mengarahkan mereka kepada tujuan yang jelas, Allah menjanjikan tidak ada ketakutan, kekhawatiran dan kesedihan. Namun belakangan ini seringkali kita melihat kaum Muslimin terpuruk dalam ketakutan, kekhawatiran dan duka. Kaum Muslimin takut terhadap kehidupan dunia, khawatir akan masa depan diri mereka dan anak cucu mereka, lalu juga berduka dalam hari-hari mereka dengan penuh sungut, keluh kesah dan air mata. Mereka kelaparan, marah, lalu kecewa terhadap dunia. Ini adalah anomali yang sama dengan keadaan macet pagi itu.

Bagaimana mungkin seseorang yang telah mendapatkan petunjuk hidup dari Rabb semesta alam Yang Maha Agung dapat terpuruk dalam amarah, kekecewaan, keputusasaan, dan kesedihan dalam kehidupan? Bagaimana mungkin jalan raya yang telah dilengkapi dengan petunjuk jalan, rambu lalu lintas, dan marka jalan menjadi sedemikian macet dan ruwet?

Sebuah petunjuk hanya akan menjadi manfaat jika ia diperhatikan, dipahami dan digunakan pada tempatnya sesuai dengan porsinya. Ini yang menjadi masalah dalam kehidupan dunia Islam sekarang ini. Petunjuk yang tidak diindahkan hanya akan menjadi hiasan belaka tanpa memiliki makna dan tidak akan dapat memberi manfaat. Jika demikian keadaannya, jelaslah sudah alasan mengapa terjadi kemacetan di jalan raya pada pagi itu dan juga alasan mengapa umat Islam saat ini berada dalam kondisi terburuknya.

Keutuhan Islam membutuhkan peran serta seluruh aspek kehidupan, baik individu, keluarga dan masyarakat yang berbangsa. Bayangkan seorang pengguna jalan yang taat di tengah kemacetan karena pengguna jalan yang lain enggan menggunakan rambu jalan yang tersedia. Akankah ada gunanya? Akankah ada manfaatnya? Akankah ia terbebas dari ketakutan, kekhawatiran dan kesedihan? Tentu tidak. Karena Islam adalah sebuah sistem hidup, yang hanya akan bermanfaat bagi alam semesta jika dilaksanakan secara utuh oleh seluruh mahluk di dalam alam semesta itu.

Lalu dimanakah keadaan kita sekarang sebagi seorang Muslim yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir? Wallahu a’lam bishshowab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s