Pemikiran

Tersesat Dalam Hikmah

Baru-baru ini saya memiliki waktu untuk termenung di depan televisi, sekedar untuk menunggu waktu adzan maghrib berkumandang. Di bulan Ramadhan ini, siaran televisi memiliki beberapa judul yang cukup menyejukkan walaupun belum tentu isinya juga menyejukkan. Ada setidaknya tiga televisi yang saya lihat menyajikan tausiyah Ramadhan. Dan dari ketiganya, mereka membahas materi yang kurang lebih sama, yaitu urgensi berpuasa. Ayat perintah berpuasa berulang-ulang diucapkan, dan para ustadz itu berusaha menjelaskan makna yang terkandung dalam ayat itu.

Yang mengejutkan saya adalah ketiga ustadz itu mengangkat satu bahasan yang sama, yaitu betapa puasa berdampak menyehatkan tubuh, mengeluarkan racun dalam tubuh dan baik untuk fisik jasmani kita. Dalam sebuah siaran radio pun, hal ini yang berulang kali diutarakan. Begitu juga dalam khutbah Jumat yang saya ikuti. Dan lebih mengejutkan lagi, para ustadz ini memiliki pengikut yang cukup banyak.

Betapa umat Islam negara ini berada dalam sebuah keadaan yang menyedihkan. Kondisi dimana ulama yang berilmu malah ditinggalkan karena takut kehilangan dunia, sehingga ‘ulama’ yang dapat menjual lebih diutamakan. Bahkan tidak kurang, puluhan nama ustadz yang melalang buana dalam media massa hanyalah mereka yang mengangkat Islam secara parsial.

Puasa adalah perintah yang tegas kepada umat Islam dengan memberikan satu tujuan yang tetap dan tidak berubah, yaitu agar umat ini menjadi umat yang bertakwa. Tidak ada alasan lain yang disematkan kepada perintah berpuasa selain ketakwaan. Tidak kesehatan, kejiwaan, tubuh fisik, ataupun yang lain dijadikan sebagai tujuan berpuasa. Demikianlah Allah memberikan suatu ketetapan dalam firmanNya yang tidak akan berubah hingga akhir jaman.

Ibadah, hakikatnya adalah pengorbanan yang kita persembahkan kepada yang kita ibadahi, yang akan menunjukkan ketaatan kita terhadap sebuah perintah dan menumbuhkan ketakwaan kita terhadapnya, siapapun itu. Ketaatan menjadi hal yang nampak dengan nyata jika kita melaksanakan ibadah tersebut. Dan ketakwaan adalah buah dari ketaatan tersebut yang merupakan tujuan pelaksaan ibadah.

Jika sebuah ibadah memberikan hikmah berupa apapun itu, maka hal tersebut sama sekali tidak berhubungan dengan pelaksanaan ibadah itu sendiri. Karena tujuan ibadah bukanlah hikmah yang terkandung dalam ibadah.

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).” (QS. Al-Mu’min [40]: 14)

Ibadah hanyalah untuk Allah ta’ala terlepas dari apapun konsekuensinya, apapun hikmah yang diberikan dari pelaksanaan ibadah tersebut. Demikianlah yang dinamakan keikhlasan dalam beribadah.

Umat ini sedang dijejali pemikiran untuk beribadah karena hal itu menguntungkan mereka dalam kehidupan dunia ini, dan lebih parahnya mereka menerima pemikiran yang merugikan ini dengan terbuka. Betapa hal ini menggambarkan kondisi umat yang sudah sedemikian ter’materialisasi’ sehingga pertimbangan keuntungan akhirat akan kalah dengan pertimbangan keuntungan di dunia. Bahkan sebuah ibadah dilakukan semata karena mengejar keuntungan dunia, seakan keuntungan akhirat dari ibadah tersebut menjadi seperti bonus saja. Betapa terbaliknya pemikiran semacam ini dari hakikat, dan betapa jahil dan jauhnya pemikiran semacam ini dari pemahaman Islam yang dimiliki oleh generasi terdahulu umat ini.

Jika peribadahan kita ditujukan kepada selain Allah, mungkinkah kita mengharapkan keridhaan Allah atas ibadah yang kita lakukan itu? Tentu tidak. Ridha Allah adalah kepada mereka yang bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa, bukan untuk mereka yang beribadah agar mendapatkan keuntungan dunia. Sesungguhnya hal semacam ini sangat dekat dengan nifaq yang menjangkit kaum munafik pada masa Rasulullah.

Kini kita melihat seorang Muslimah mengenakan hijab agar terlihat trendi dan fashionable. Kita juga menemukan seorang Muslim yang i’tikaf pada bulan Ramadhan karena teman mereka melakukannya, sehingga i’tikaf adalah ajang sosialisasi. Kita menemukan seorang Muslim yang berinfaq dan bersedekah agar terlihat mulia di kalangan masyarakat. Ada pula kaum Muslimin yang berikan wala mereka kepada thogut dan kaum kafir, agar mereka dapat diterima dalam masyarakat sebagai kalangan moderat, nasionalis-religius, dan memperoleh dukungan dalam pemilu berikutnya.

Di sisi lain, kita melihat seorang Muslim yang menikahi gadis sesuai dengan syari’at Islam malah dihujat sebagai pedophil dan poligamis. Ada juga seorang Muslim yang meneriakkan dengan lantang agar syari’at Allah ditegakkan, kemudian dicerca, dihukum dan dipenjara sebagai seorang separatis, teroris dan lebih parah sekelompok Muslim lain malah meneriakinya sebagai golongan Khawarij. Mereka yang justru menyuarakan kebenaran malah dibungkam, dan mereka yang menegakkan kebathilan malah dibela oleh kaum yang mengatasnamakan pengikut kaum salaf.

Tidakkah dunia ini sudah terbalik?

Memang benar sabda Rasulullah mengenai cara Allah ta’ala mencabut ilmu dari tengah-tengah umat, adalah sangat halus dan sangat lembut. Allah mematikan mereka yang berilmu di tengah kaum tersebut, dan menjadikan orang-orang yang jahil dan fasiq sebagai pemimpin kaum tersebut. Jadilah kaum tersebut tersesat dengan fatwa yang bersumber dari kejahilan dan ke-fasiq-an.

Hanya kepada Allah ta’ala, kita memohon perlindungan. Yaa Allah Al-Musta’an!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s