Pemikiran

Indonesia dan Realita

Sering tanpa sadar kita melihat negara ini dengan sekelumit permasalahan pada pucuk kepemimpinan negara. Sangat wajar jika kita menilai apa yang terjadi pada masa beberapa puluh tahun terakhir sebagai gelombang ujian bagi rakyat Indonesia. Kita diombang-ambing dalam lautan ketidakpastian, instabilitas politik ekonomi, kebablasan sosial dan kejumudan masyarakat.

Rasanya belum ada jawaban yang jelas dari seluruh permasalahan negara ini, yang semakin hari semakin bertambah. Tidak ada satupun pemimpin yang maju ke medan perpolitikan Indonesia dengan sebuah rencana yang matang, hasil dari perasan ideologi yang mereka usung. Sebutlah itu demokrasi, nasionalisme, Islam (yang sejauh ini tidak ada yang mengusungnya lagi setelah Partai Masyumi), Pancasila, kapitalisme, sosialisme dan lain-lain.

Nyatanya keadaan demikian adalah realita bangsa ini. Kondisi mengenaskan ini bukan sekedar adzab seperti bencana alam, yang setelah terjadi lalu ditanggulangi bersama, dinyatakan sebagai bencana nasional melalui proses politik yang rumit, kemudian diperdebatkan pada panggung politik yang sama dan pada akhirnya terselesaikan walau dengan sangat lamban. Bencana alam semacam ini pada ujungnya akan memberikan berkah pada rakyat sekitarnya walaupun sebelumnya menuai duka.

Realita bangsa ini seakan melekat pada setiap sendi masyarakat. Dari mulai tukang becak yang memperkosa anak SD, ke anggota DPRD yang menjadi calo anggaran. Dari mulai maling ayam yang tewas seketika dihakimi massa, ke koruptor berdasi yang kemudian malah melenggang kangkung ke negeri orang tanpa kesulitan. Dari Bendahara partai sampai ke kursi kepresidenan, semua berkecamuk dalam sebuah tatanan sosial yang sama dan serupa walaupun berbeda bentuk, kelas dan nama.

Ibarat adegan dalam panggung komedi, di tempat yang sama, dalam studio yang sama, di atas panggung yang sama, dengan pelakon yang sama, hanya berganti setting, peran, dan cerita. Semua berada dalam sebuah sistem pencatatan, pembukuan, dan perpajakan yang sama.

Islam, belakangan ini kemudian mencuat ke permukaan setelah aktivitas dakwah dari beberapa pergerakan mulai mencuat ke permukaan. Baik dari mereka yang terjun langsung ke kancah perpolitikam nasional, yang meneriakkan jargon-jargon Islami, yang meledak diam-diam, yang duduk diam dan menjadi komentator, dan lain sebagainya. Mereka menjadikan Islam sebagai sebuah label yang mereka sematkan kepada diri mereka. Tapi kita masih belum menemukan sebuah solusi yang ditawarkan kepada masyarakat sehingga mereka dapat melihat bahwa Islam adalah jawaban dari realita bangsa ini.

Kita perlu upaya nyata, bukan upaya yang tampaknya nyata namun kenyataannya sama saja dengan mereka menjadi bagian dari realita bangsa ini. Jika demikian, apa yang membedakan kita dengan mereka? Langkah seperti apa?

1. Pencerdasan umat akan agama mereka.

Umat ini berada di ujung jurang yang besar yang siap menampung mereka sebanyak apapun. Peran seorang da’i adalah memberitahu kepada mereka akan apa yang ada di dasar jurang tersebut disertai dengan pembuktian berdasarkan hujjah dan qudwah. Lalu jelaskan kepada mereka bahwa ada alternatif yang lebih baik daripada harus terjun yang malah menyiksa diri mereka.

Permasalahannya adalah kita kesulitan menjamah masyarakat yang sedemikian luas tersebar. Perlu sebuah panggung dengan spotlight agar mereka melihat dengan jelas hujjaj dan qudwah yang kita tawarkan. Kita belum memiliki hal ini.

Sebelumnya percaturan politik sempat diharapkan menjadi solusi. Tapi kenyatan membuktikan bahwa kita tidak bisa menjadi pemeran utama jika kita berada di atas panggung dimana nama kita terdaftar sebagai figuran. Kita butuh panggung yang lain.

2. Pencerdasan umat akan realita mereka.

Umat tidak berada dalam keadaan sadar akan posisi mereka saat ini. Karena jurang yang ada di depan mata mereka tertutupi oleh kehidupan mereka yang pelik, dibungkus indah oleh pengalih perhatian, jargon, janji dan kebodohan. Mereka yang berada pada barisan terbelakang mendorong umat yang sudah berada di tepi jurang untuk terjun, sedangkan yang berada di tepi jurang itu seakan tidak punya pilihan lain.

Realita yang ada di depan mata mereka terlalu ‘jauh’ untuk dapat mereka lihat. Dan mereka saat ini sedang diberikan tontonan yang dapat mengalihkan pandangan mereka dari jurang tersebut. Begitulah cara kerja sistem ini. Tanpa ada umat yang pandangannya teralihkan, maka ia tidak akan dapat bekerja dengan baik.

Pertanyaannya adalah, apa yang dapat memalingkan mata mereka sehingga mereka mau sejenak melihat posisi mereka? Kita belum mempunyai jawabannya.

***

Artikel ini ditulis dalam rangka mengingatkan kita akan berbagai realita yang terbentuk di depan mata kita, agar kita tidak turut terpalingkan dari jurang tersebut. Sangat disayangkan kalau para da’i juga sibuk dengan pemilu dan pilkada yang tidak akan memberikan solusi, karena itulah sistem yang malah membawa kita berada di posisi kita sekarang.

Wallahu a’lam bish showab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s