Twit

Twit Tadabbur QS. 37:100-109

@n_zanki:

Kl lg kangen tadabbur Quran pasti kangen juga sama ustadz Saiful Islam. Cara beliau mentadabburi Quran sangat menyentuh hati.

Saya ingat dlm sebuah dauroh soal keluarga sakinah, ust Saiful mentadabburi ayat penyembelihan Ismail as. Beliau jabarkan keindahannya.

Tadabburnya dimulai dari QS. 37:100, dimana sebuah doa dari Ibrahim as meminta anak yg shaleh dikabulkan Allah ta’ala.

Pengabulan atas permintaan Ibrahim as, seorg anak yg sangat sabar kelak akan dibuktikan oleh dirinya sendiri.

Sblm melanjutkan, kita perlu pahami bgmn kehidupan dan hubungan Ibrahim as – Ismail as. Krn ini akan berikan penilaian tambah dr kisah ini.

Pertama, Ismail as tumbuh besar jauh dr pelukan ayahnya. Ia diasingkan sejak dr kecil bersama ibunya. Ini kondisi awal kehidupan Ismail as

Kedua, Ibrahim as sesekali mengunjungi istri dan anaknya itu menaiki buraq, sbgmn dikisahkan o/ Ibnu Katsir dlm Kisah Para Nabi.

Ketiga, hubungan ayah – anak antara keduanya sangat erat walaupun jarang bertemu. Ini kualitas dan karakter mulia dr kedua nabi itu.

Lalu datanglah mimpi menyembelih Ismail as dlm tidur Ibrahim as. Beliau tahu betul bhw mimpinya adlh wahyu perintah Allah yg wajib baginya.

Bayangkan sedihnya seorg ayah yg sdh lama menanti kehadiran putera, ktk sdh lahir hrs hidup berjauhan, dan ktk agak besar hrs ia sembelih.

Ada nilai yg perlu kita pelajari dr keputusan Ibrahim as menuruti mimpinya. Pertama, tdk ada yg boleh dicintai melebihi cinta kpd Allah.

Ibrahim as menyadari ini, bhw jika ia menolak perintah Allah krn kecintaannya pd Ismail as maka ia tlh menduakan cinta kpd Allah.

Kedua, landasan ketakwaan adlh cinta kpd Allah. Ibrahim as melaksanakan perintahNya krn ia lbh mencintai Allah dr apapun jg, tmsk anaknya.

Ketiga, kesadaran bhw sgl sesuatu milik Allah shg adlh hakNya utk mengambil atau memberi, dan sgl sesuatu dikembalikan kpdNya.

Stlh Ibrahim as menerima wahyu itu, perhatikan bgmn akhlaq seorg Khalilullah melaksanakan perintah yg sgt berat itu.

Apa yg pertama kali dilakukan oleh Ibrahim as stlh meniatkan melaksanakan perintah itu? Beliau bertanya kpd Ismail as, anaknya.

Bukan mengasah pisau, atau menyiapkan tmpt sesembelihan, tp menanyakan kpd Ismail as perihal mimpinya. Perhatikan redaksi pertanyaan beliau.

Yaa bunayya.. inilah seruan cinta dr seorg ayah kpd anaknya, akhlaq kenabian yg penuh cinta tdk luntur dr sisi Ibrahim as. Cinta.

Lalu Ibrahim as ceritakan pd Ismail as perihal mimpinya, menjelaskan kpdnya, dan menanyakan pdnya pendapatnya. Tarbiyyatul aulad dr nabi.

Perlu kita pahami bhw Ismail as baru saja menginjak aqil baligh ketika ini terjadi, nmn Ibrahim as memperlakukannya selayaknya pria dewasa.

Ibrahim as tdk mendoktrin dan memaksa Ismail as utk taat, tp justru menanyakan pendapatnya dlm nuansa musyawarah keluarga. Akhlaqul karimah.

Satu hal yg tdk kalah luar biasanya adlh jawaban Ismail as, menunjukkan karakter tempaan tarbiyah seorg Nabi Allah. Penuh hormat dan sabar.

Menyahut seruan ayahnya yg penuh cinta itu, Ismail as menjawab dg cinta yg tak kalah besarnya, “Yaa abatii..” Lihatlah hubungan mesra ini.

Bkn sekedar hubungan antar ayah dan anak, tp jg hubungan antar nabi Allah yg diikat oleh cinta dan aqidah. Yaa bunayya, disambut yaa abatii.

Lanjutan jawaban Ismail as menjelaskan kenabiannya. Ia mengetahui dg jelas bhw mimpi itu adlh perintah Allah, krn ia tahu bhw ayahnya Nabi.

Kini ada dua org shaleh, penuh ikhlas dan sabar yg membenarkan mimpi itu sbg wahyu dan perintah dr Allah ta’ala. Dua nabi Islam.

“Insya Allah, kau aan mendapatiku sbg org yg bersabar.” Brp bnyk dr kita yg dpt bersabar spt ini? Ini bukan sembarang sabar, ikhwah fillah.

Ismail as tdk melakukan kesalahan shg layak dihukum. Mgkn kita bisa bersabar kl kita salah lalu dihukum karenanya, tp dlm kasus ini? Beda.

Ismail as bersabar thdp ketentuan Allah ta’ala atasnya. Ada kesadaran bhw ia hanya hamba dan ayahnya hanya pesuruh, Allah-lah Sang Pemilik..

Bayangkan dramatisnya adegan ini. Tdk perlu tahan air mata melihat dua org yg ikhlas dan bersabar kpdNya, persembahkan apa yg dimintaNya.

Bayangkan perasaan Ibrahim as mengasah ujung pisaunya yg akan digunakan utk menyembelih anak semata wayangnya, DENGAN ikhlas kpd Allah.

Bayangkan Ismail as, anak baru beranjak dewasa, menyiapkan tmpt penyembelihan, dmn ia akan merenggang nyawa diatasnya DENGAN ikhlas.

Sungguh berat ujian yg hrs dihadapi kedua org yg penuh dg taqwa ini. Namun mereka menjalaninya dg ikhlas, penuh kesabaran dan cinta.

Klimaks kisah ini adlh ketika pisau Ibrahim as berada di atas leher Ismail as, Allah benarkan mereka sbg org yg bertaqwa dan memuji mereka.

Allah Maha Pemurah yg menggantikan sembelihan dg seekor kambing jantan. Sungguh ujian ini berat bahkan bagi seorg nabi spt Ibrahim as.

Dan dengan segala keteguhan hati, keikhlasan dan kesabaran, Ibrahim as diabadikan dg salam kepadanya oleh org-org yg lahir setelahnya.

Salaamun ‘alaa Ibraahiim.. keselamatan atas Ibrahim, atas iman, aqidah dan teladan yg diwariskan hingga ke masa kita sekarang ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s