Pemikiran

Perbedaan atau Persamaan?

Siang kemarin, saya melewati persimpangan RS Fatmawati dengan sedikit sumringah setelah selesai mengantarkan beberapa pesanan buku. Segala puji milik Allah yang senantiasa memberikan rezeki bagi setiap mahlukNya. Saya tiba pas sekali dengan lampu merah yang menyala sehingga mata saya pun beristirahat sejenak setelah cukup lama menatapi aspal.

Ada sebuah spanduk yang dipasang oleh pemerintah, yang berbunyi “Merajut Kebhinekaan Negara.” Seketika suasana sumringah tadi berubah menjadi sendu. Spanduk tersebut adalah upaya pemerintah mengkampanyekan pluralisme kembali ke tengah masyarakat menyusul beberapa isu belakangan yang dianggap memecah belah bangsa, yang notabene menyudutkan Islam. Logo yang terpampang di sebelah judul spanduk adalah logo yang mewakili pluralisme khas Indonesia.

Mungkin ada beberapa pertanyaan mengapa suasana hati saya berubah drastis membaca judul spanduk tersebut. Insya Allah saya akan berusaha menjelaskan betapa menyimpangnya ajaran yang berusaha ditanamkan di tengah masyarakat dengan dalih persatuan itu.

Pluralisme adalah sebuah pemahaman yang berusaha mencari persamaan di tengah perbedaan sudut pandang dan prinsip di antara sebuah komunitas, masyarakat, atau bangsa. Pemahaman ini berusaha mengangkat segala persamaan yang kemudian menghilangkan sedikit demi sedikit perbedaan yang ada, hingga akhirnya perbedaan kemudian tersisihkan dan digantikan dengan hanya persamaan yang diharapkan menjadi landasan persatuan, perdamaian dan persaudaraan. Banyak dalih yang kemudian diutarakan demi menguatkan persamaan tersebut yang kesemuanya melibatkan pemahaman-pemahaman sempit yang sangat bertentangan dengan Islam.

Pemahaman seperti ini sangat tidak manusiawi, berupaya mengejar sebuah ide utopis dengan mengandalkan upaya pemecahan masalah instan. Dalam beberapa kasus, pemahaman ini dapat dengan cepat meredam masalah, namun tidak sama sekali memecahkan masalah.

Perlu kita sadari bahwa perbedaan adalah fithrah badi setiap insan. Salah satu yang menjadikan manusia sebagai mahlukNya yang istimewa adalah kemampuan mereka menggunakan akal mereka, dan salah satu bukti kebesaran Allah adalah tidak di antara manusia itu yang sama kecuali apa yang sudah menjadi fithrah mereka. Fithrah manusia yang luar biasa yang sengaja ditanamkan oleh Allah demi melengkapi manusia dalam mengemban amanah sebagai khalifah Allah di muka bumi ini.

Perbedaan adalah sesuatu yang indah dan sesuatu yang perlu untuk diakomodir, bukan dihilangkan. Ide menjadikan persamaan sebagai penghapus perbedaan adalah ide yang jahil dan tidak memiliki landasan dalam Islam. Kehendak Allah menciptakan mahlukNya dalam perbedaan kemudian seakan menjadi tidak bermakna karena kita akan gagal mengambil hikmah dari perbedaan itu.

QS Al-Hujurat [49] : 13, menyerukan kepada seluruh manusia tanpa ada batasan baik berupa iman, aqidah atau apapun. Ayat ini berlaku umum sebagai petunjuk bagi kita bahwa perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang harus kita akomodir, bukan hilangkan atau tutupi dengan landasan pemahaman yang semu seperti rasisme, nasionalisme, sukuisme atau apapun itu. Jelas diutarakan dalam ayat itu mengenai ketakwaan sebagai benchmark penilaian, bukan yang lainnya.

Artinya selain ada korelasi yang jelas antara keadaan ummat manusia yang saling berbeda satu sama lain, penerimaan terhadap keadaan tersebut, mencari hikmah dari keadaan tersebut dengan ketakwaan kepada Allah. Karenanya ketakwaan menjadi tolok ukur dengan mengesampingkan perbedaan yang ada. Jika kita renungi ayat tersebut, maka akan terlihat bahwa keadaan ummat manusia yang berbeda itu adalah bentuk rahmat Allah kepada kita.

Allah tidak mengajarkan kita untuk menghilangkan perbedaan, atau bahkan sekedar menutupinya dengan persamaan. Tindakan semacam itu adalah solusi semu yang hanya akan menciptakan sebuah ‘bom waktu’ yang justru akan memicu masalah yang lebih besar, yaitu perpecahan dan yang lebih parah penyimpangan aqidah.

Mengingkari suatu hal yang menjadi fithrah bagi manusia, akan menyebabkan terjadinya penumpukan masalah yang seharusnya diatasi bersama. Pengingkaran atas perbedaan atau dalam spanduk tersebut dinyatakan sebagai “merajut kebhinekaan” bukanlah solusi. Lebih parahnya adalah ketika setiap perbedaan prinsipil harus dikompromikan dan ditutupi dengan paham jahil seperti nasionalisme, sukuisme atau rasisme. Dampaknya adalah pengurangan porsi prinsip tersebut sehingga terjadi perubahan mendasar dari pemahaman awalnya.

Persatuan bagi seorang Muslim hanya ada dengan landasan yang kokoh dan kuat, yaitu aqidah Islamiyyah. Baik terhadap sesama Muslim maupun terhadap non Muslim (kafir). Perspektif seorang Muslim akan melihat segala sesuatu berdasarkan timbangan imannya. Untuk mencintai seseorang, ia akan bertanya kepada imannya apakah benar ia dapat mencintai orang tersebut, sebatas apa, dalam bentuk bagaimana. Untuk membenci seseorang pun ia akan menanyakan kepada imannya atas dasar apa ia harus membencinya, sebatas apa dan bagaimana. Contoh sederhana, seorang Muslim tidaklah sempurna imannya ketika ia membenci saudaranya sesama Muslim karena saudaranya berkulit kuning, atau sama halnya dengan membunuh seorang kafir yang jiwa dan hartanya dijamin oleh pemimpinnya.

Inilah landasan persatuan, ukhuwwah dan kebersamaan dalam Islam, tidak ada yang lain. Dengan demikian perbedaan tidak perlu diingkari namun dipahami sebagai fithrah yang mulia. Perbedaan dan toleransi bukanlah sebuah isu dalam Islam, dan tidak pernah menjadi isu. Kenapa? Karena Islam mengatasinya langsung dengan pertanggungjawaban kepada Allah dimana setiap Muslim akan tunduk hatinya dan raganya ketika mengingat bahwa ia harus mempertanggungjawabkan hal tersebut.

Dalam ayat lain Allah berfirman, “Laa kum diinukum wa liya diin.” Batasannya jelas, tidak ada pengingkaran dalam perbedaan justru yang ada adalah pengakuan.

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s