Pemikiran

Jahiliyyah Modern

Pertanyaan yang seringkali mengusik saya dalam perjalanan saya beragama Islam adalah, “Mengapa Islam ditolak?” Sebuah pertanyaan sederhana yang bangkit dari kesadaran akan betapa banyaknya manusia yang menyadari bahwa Allah Ta’ala adalah satu-satunya ilaah yang layak untuk disembah dan diibadahi namun seakan enggan untuk memberikan-Nya pada hak-Nya dengan menjalankan kewajiban secara utuh sebagai hamba-Nya. Penolakan ini bukan berasal dari kaum yang berhati mati layaknya mayat yang tidak dapat melihat, mendengar dan merasakan keberadaan dan kebenaran Allah swt beserta firman-Nya. Penolakan ini bukan berasal dari orang mengingkari Allah Ta’ala sebagai al-ilaah. Penolakan ini berasal dari kaum yang menyatakan diri mereka Muslimin, orang yang berserah diri.

Perlu saya tegaskan bahwa ada masa dalam hidup saya dimana saya memiliki pemikiran serupa, yang kurang lebih disebabkan oleh kebodohan saya dalam hal agama. Kebodohan serupa juga banyak dianut pada masyarakat saat ini. Namun bukan kebodohan itu yang menjadi topik pembicaraan artikel ini. Kebodohan adalah satu-satunya alasan yang masih dapat saya terima sebagai penolakan akan agama. Hanya saja, ketika seseorang lebih memilih kebodohan dan malah menjauhi ilmu demi kesempurnaan agamanya, ini yang salah dalam pendapat saya. Namun lebih kurangnya, kebodohan merupakan tugas para da’i yang menyandang gelar pengemban amanah Nabi saw untuk bekerja keras mengentaskannya dan mengembalikan manusia kepada fithroh mereka.

Lalu apa yang menjadi topik artikel ini?

Penolakan terhadap agama secara utuh walaupun mereka mengakui akan ketuhanan dari Allah Ta’ala dengan ‘menggugurkan’ sifat-sifat dari ketuhanan itu sendiri. Bagaimana mungkin? Tentu bisa, dengan melalaikan kewajiban yang diwajibkan atas mereka dari Dzat yang mereka akui sebagai Maha Pencipta dan Rabbul ‘alamiin.

Sayyid Quthb membahas perihal ini dalam kitab tafsirnya Fii Dzilalil Qur’an. Beliau menafsirkan beberapa ayat perihal penolakan kaum Qurasy terhadap dakwah Rasulullah saw atas mereka, dan kemudian menjelaskan mengapa mereka menolak dakwah Rasulullah saw. Dalam penjelasannya, ada dua alasan yang menurutnya menjadi faktor penolakan terhadap risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw. Pertama, kekuasaan. Lalu kedua, kekayaan.

Mengapa demikian? Saya tidak akan mengutip pernyataan langsung dari Sayyid Quthb, namun akan saya coba jelaskan secara singkat dan sederhana. Kaum Qurasy mengetahui secara pasti siapa Muhammad bin Abdullah yang Allah swt angkat menjadi nabi dan kemudian mendakwahkan Islam kepada mereka. Bukit Shafwa menjadi saksi bagaimana mereka tidak melihat Rasulullah saw sebagai seorang pendusta, bahwa mereka mempercayainya sepenuh jiwa akan apapun yang keluar dari mulutnya adalah kebenaran.

Sejarah hidup Nabi saw menjelaskan bagaimana kaum Qurasy tetap memberikan amanah kepada Rasulullah saw bahkan setelah mereka menolak dakwah beliau. Ali bin Abi Thalib ra menjadi saksi ketika ia harus mengembalikan barang-barang kaum Qurasy yang dititipkan kepada Rasulullah saw ketika beliau hijrah. Artinya mereka benar-benar mempercayai beliau sebagai pengemban amanah, jujur, tidak berlaku curang maupun culas, dan benar dalam bertindak dan bertutur kata. Mereka merasakan keamanan terhadap harta benda mereka yang berada dalam penjagaan Rasulullah saw. Bahkan tidak sedikit yang menitipkan perdagangan mereka ke luar negeri kepada Rasulullah saw. Bangsa Qurasy memang bangsa pedagang musiman.

Jauh sebelum itu, malah mereka menjadikan Rasulullah saw sebagai hakim diantara mereka dimana mereka ridha dengan keputusan dan kebijaksanaan beliau ketika terjadi sengketa diantara mereka. Mereka percaya dan legowo terhadap keputusan dan kebijaksanaan Rasulullah saw atas diri mereka, sebelum Rasulullah saw diangkat menjadi nabi. Ketika Rasulullah saw adalah seorang biasa diantara mereka yang mereka terima dan mereka kasihi. Tidak pernah ada masalah ataupun sengketa antara mereka dengan beliau.

Pribadi Muhammad bin Abdullah mereka kenal, keagungan akhlak beliau mereka akui, kemuliaan sifat beliau mereka kasihi. Hanya ketika Rasulullah saw mengatakan kepada mereka bahwa tidak ada ilaah selain Allah Ta’ala, kemudian mereka mengingkari beliau.

Perlu sejenak kita selami kehidupan sosial masyarakat kaum Qurasy. Pada praktiknya mereka dipimpin oleh sebuah pemerintahan yang dikenal dengan Darun Nadwah. Sebuah pemerintahan yang berlandaskan kepada musyawarah dalam memutuskan perkara, yang isinya adalah para petinggi kaum mereka. Darun Nadwah adalah sebuah pemerintahan yang sangat mencerminkan bagaimana demokratisnya masyarakat jahiliyyah Arab masa itu. Bahkan dalam beberapa kasus, kita dapat mengatakan bahwa Darun Nadwah jauh lebih demokratis daripada pemerintahan manapun di dunia sekarang ini.

Mengapa demikian? Karena Darun Nadwah adalah pemerintahan yang tidak mengenal kepemimpinan tunggal. Semua suara adalah sama, yang berpengaruh adalah apa yang disuarakan. Sungguh berbeda dengan demokrasi yang diterapkan sekarang ini dimana jumlah massa mempengaruhi kekuatan suara kelompok tertentu yang jelas bertentangan dengan prinsip demokrasi. Darun Nadwah tidak menjadikan seseorang atau kabilah tertentu sebagai pemimpin atas mereka, walaupun ada kabilah yang lebih kuat dan kaya di antara mereka. Semua sama dan rata, semua sepenanggungan dan semua sejajar di hadapan sesama terutama dalam hal hukum dan politik. Coba sebutkan satu pemerintahan negara yang lebih demokratis daripada Darun Nadwah?

Lalu bagaimana mereka berbagi kekuasaan? Mereka merundingkan dan menyepakati. Sederhana. Kabilah yang lebih kaya dan kuat memperoleh bagian yang lebih besar karena memang mereka mampu melakukan itu. Sementara kabilah yang lebih lemah dan kurang berada tetap mendapatkan tempat mereka dalam Darun Nadwah, yang artinya mereka turut andil dalam menentukan hukum dan dihargai secara politis.

Adakah persaingan dalam Darun Nadwah? Tentu saja. Beberapa kabilah bersaing dalam memperebutkan prestise bagi kabilah mereka, dimana posisi mereka kurang lebih sekelas di mata kaum Qurasy secara keseluruhan.

Lalu bagaimana bentuk persaingan mereka? Dengan bendera dan spanduk di jalan-jalan? Atau dengan jargon-jargon politik demi mendapatkan dukungan massa? Tidak. Mereka bersaing secara nyata dengan menyebarkan kebaikan kepada masyarakat. Mereka bersaing dalam bersedekah, mereka juga bersaing dalam memberi makan dan minum kepada jamaah luar yang datang untuk berhaji dan fakir miskin. Mereka bersaing dalam syair dan puisi yang mencerminkan tingkat kecerdasan mereka pada masa itu. Mereka bersaing secara sosial dengan aktif terjun ke masyarakat.

Perhatikan dan bandingkan dengan politisi demokrasi dunia masa sekarang ini? Jelas Darun Nadwah jauh lebih demokratis dan berakhlak secara politis daripada masa sekarang ini yang lebih mendekati plutokrasi terselubung pada praktiknya.

Lalu apa hubungan sistem kekuasaan mereka dengan penolakan mereka terhadap risalah Islam?

Pertama, Islam datang dengan membawa konsep sistem yang sama sekali berbeda. Islam tidak mengenal demokrasi dimana keputusan mutlak berada di bawah kekuasaan rakyat. Suara rakyat menjadi raja, tuhan dan penguasa. Hal ini beranjak dari pemahaman mereka akan risalah tauhid yang diserukan oleh Rasulullah saw. Islam mengenal bahwa kekuasaan mutlak berada di bawah ketentuan Allah Ta’ala, dan kebijakan dan hukum pun harus sesuai dengan aturan main yang telah ditentukan Allah Ta’ala terlebih dahulu sebelum dapat dimusyawarahkan.

Apa dampaknya bagi mereka sehingga mereka menolak? Tentu saja akan menyebabkan Darun Nadwah perlu mengalami perombakan besar. Yang sekarang berkuasa belum tentu akan berkuasa lagi.

Kedua, secara politis Islam merombak peta persaingan antar kabilah, dimana ashobiyyah (fanatisme) adalah faktor yang sangat kental dalam tradisi kaum Qurasy. Jika salah satu kabilah memiliki seorang nabi di antara mereka, maka siapa yang akan sanggup menyaingi? Fanatisme mereka terhadap nasab dan kelompok menutupi hati mereka terhadap kebenaran.

Ketiga, perubahan radikal terhadap norma-norma sosial ekonomi. Kenapa? Karena Islam mengakui Allah swt sebagai Rabbul ‘alamiin yang maknanya sangat mereka pahami. Seluruh aturan, norma masyarakat, praktik ekonomi akan berubah menyesuaikan dengan ketentuan dari Ar-Rabb. Dan ini berpotensi merugikan mereka secara materi.

Salah satu komoditas perdagangan mereka adalah patung berhala. Peniadaan ilaah lain selain Allah tentu akan mengakibatkan mereka kehilangan komoditas perdagangan. Lalu, aturan nenek moyang mereka yang jahil sangat sesuai dengan syahwat mereka. Undian (judi), perzinahan, pesta pora, riba, dan lain sebagainya akan mengalami perubahan. Dan ini merugikan bagi syahwat mereka. Mereka mencintai kehidupan jahil tersebut dan mereka lebih memilih memuaskan syahwat mereka kebanding kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah saw.

Setidaknya ada tiga alasan mengapa mereka menolak Islam.

Satu hal yang menarik untuk kita perhatikan adalah bagaimana kejahiliyyahan tidak berubah bentuk walaupun telah berubah muka selama berabad-abad lamanya. Di masa sekarang kita melihat bagaimana seorang Muslim lebih memilih sistem kufur kebanding Islam yang diridhai Allah Ta’ala. Juga kita melihat bagaimana seorang Muslim menyatakan bahwa ada -isme dan ideologi yang lebih tepat digunakan pada masa sekarang dan harus lebih gencar kebanding Islam. Muslim lain juga mengatakan bahwa karena sebuah paham telah diterima oleh masyarakat luas, maka sebaiknya kita biarkan diterapkan tanpa berupaya merubahnya kepada Islam. Lucunya pada yang terakhir ini, mereka menyatakan diri mereka sedang berdakwah dengan meng-Islam-kan paham tersebut. Patung disuruh mandi taubat, kalau kata salah satu ustadz saya.

Kita juga melihat betapa banyak da’i atau ustadz yang kemudian merubah profesi menjadi politikus dan melupakan kesederhanaan. Pembenaran dan pemakluman dilakukan menggunakan firman Allah swt secara tidak proporsional, dan kemudian dibenarkan oleh sekelompok orang yang mendukung mereka, entah karena kebodohan atau karena fanatisme.

Jahili adalah tetap jahili. Ini satu hal yang menjadi jawaban dari sekian panjang kata dalam artikel ini. Terlepas apakah karena cintanya kepada kekuasaan, atau karena cintanya kepada fanatisme, ataupun karena cintanya kepada harta kekayaan. Billahi taufiq, wallahu a’lam bish-showab.

2 pemikiran pada “Jahiliyyah Modern

  1. Melalui penjelasan dari ulama yang waro kita dapat mengenal ke-universal-an dan ketiadaan batas waktu bagi Alquran.

    Dari dulu hingga sekarang, permasalahan kronis manusia hanya dua…pertama, kekuasaan/pengaruh yang berkaitan erat dengan yang kedua, pendapatan.

    Manusia dengan segala keterbatasannya berusaha membuat isme-isme agar kedua hal tersebut tetap dalam genggamannya meskipun dengan cara yang melanggar fitrah manusia yaitu hanya menghamba dan patuh kepada Allah SWT sehingga Islam yang hadir untuk mengembalikan manusia kembali ke fitrahnya tersebut tentu saja ditentang. Namun namanya juga buatan manusia, ia hanya akan ada sepanjang Allah SWT menghendaki sebagai ujian bagi umat manusia, suatu saat nanti isme-isme itu juga akan terkalahkan dengan jalan hidup yang hak, Islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s