Twit

Twit Harokah Yang Menyimpang

@n_zanki :

Gerakan dakwah yg sblmnya menjamur krn merupakan satu2nya yg komprehensif mengenalkan Islam pd masa itu.

Gerakan ini berawal pd th 70an bahkan mgkm kbh lama dr itu krn ada hubungan dg gerakan Islam di Indonesia sblmnya, yaitu NII.

NII yg berawal dr ketidakpuasan thdp pemerintahan yg waktu itu terbentuk, penolakan thdp dasar negara dan bentuk negara.

Perkembangan gerakan ini sendiri berdsrkan riwayat dr pelaku sejarah memiliki tujuan yg sama, dg metode pendekatan yg berbeda.

Pd th 55, tokoh Islam Indonesia dg jelas dan tegas menolak Pancasila. Dlm Dewan Konstituante, M Natsir, Buya Hamka menyatakan penolakan ini.

Kyai NU yg trgabung dlm DK pun menolak Pancasila dengan tegas namun diplomatis. Piagam Jakarta dituntut utk menggantikan Pancasila.

Sejarah mencatat reaksi pemerintah dg pembubaran Masyumi yg memegang 20% suara waktu itu. Bicara mengenai toleransi?

Selepas pembubaran Masyumi, M Natsir mendirikan Dewan Dakwah yg menjadi pintu masuk utama pemikiran2 Islam scr internasional.

DD menerbitkan bbrp buku2 Islam scr terbatas dr penulis spt Sayyid Quthb, Abul Ala Al-Maududi dsb. Mereka dianggap sbg radikalis.

Bbrp buku yg diterbitkan di Malaysia jg masuk melalui DD. Kwitang mjd pusat perdagangan buku Islam. Kebanyakan underground.

Mahasiswa turut berperan aktif dlm penyebaran fikroh Islami. Pancasila tetap dinilai sbg bathil yg perlu diganti, tdk ada kompromi.

Lalu pemerintahan berlanjut pd rezim besi Orde Baru, dmn Pancasila kemudian mjd asas tunggal. Penolakan pun terjadi.

Penolakan tsb berujung pd penindasan. Tanjung Priok, Aceh, Sumbar dan bbrp tempat laon mjd saksi sejarah intoleran-nya Pancasila.

Maka pergerakan ini pun tiarap dan bergerak scr underground. Tokoh yg aktif ketika itu adlh Allahu yarham Ustadz Rahmat Abdullah.

Mgkn kita yg pernah nonton film Sang Murabbi melihat bagaimana gerakan tsb berlaku underground. Ngaji dirmh, umpetin sandal biar ga ketauan.

Penolakan thdp Pancasila tetap kuat daj menjadi salah satu isu utama. Ikhwah pun memiliki pemikiran demikian. Dakwah gencar seputar tauhid.

Ust Kamal (samaran utk Hilmi Aminuddin) yg kemudian membawq stempel Ikhwanul Muslimin shg gerakan ini memiliki organisasi yg jelas.

Siapakah ust Kamal? Beliau aktivis NII yg kemudian ditangkap, dibebaskan tanpa syarat o/ pemerintah dan kemudian ke Mesir.

Berbeda dg anggota NII yg lain, hanya beliaulah yg bebas tanpa syarat. Bgmn caranya? Wallahu a’lam.

Info yg beredar, beliau menjabat sbg Mentri Luar Negri utk NII ketika itu. Artinya beliau bukan org sembarangan.

Mgkn ikhwah pd th 80an msh ingat doktrin beliau thdp dasar negara. Bbrp robek KTP mereka, ijazah mereka sbg bntuk penolakan thdp pemerintah.

Mgkn Menkominfo msh ingat mengapa lembar pertama dr mushaf Qur’an mereka dirobek. Atau mgkn pak Fahri ingat.

Ustadz yg sering bicara di radio ketika itu dg mensosialisasikan dasar negara difatwakan sbg ustadz yg batal wudhunya o/ ust Kamal.

Itu adlh kisah masa lalu dr gerakan ini. Bgmn dg pemerintah Orde Baru? Bbrp ustadz ditangkap dan disiksa. Bbrp aktivis hilang.

Apa yg membuat gerakan ini bertahan dan semakin membesar? Dakwah kpd tauhid, murni kpd Allah ta’ala. Islam yg kompehensif dan utuh.

Bukan berarti tdk ada perpecahan ketika itu. Kecurigaan thdp kepemimpinan gerakan sdh ada dr sejak awal 90an. Yg bertanya, dikucilkan.

Tp scr umum, gerakan ini solid. Hingga kemudian terjadi reformasi. Keran demokrasi dibuka. Semua ingin berpartisipasi.

Mengenang apa yg pernah diraih oleh Masyumi, maka gerakan ini memiliki ide utk turut berpartisipasi thdp terbukanya keran demokrasi.

Pertentangan? Banyak. Krn selama itu, ikhwah didoktrin bhw demokrasi adlh kemusyrikan yg nyata. 70% dr ikhwah menolak hal tsb.

Namun berkat propaganda dr pemimpin jamaah yaitu partai adlh jamaah dan jamaah adlh partai, bnyk akhirnya ikut serta. Doktrin sesat.

Maka kemudian berdirilah partai yg beranjak dr jamaah gerakan, bbrp ikhwah memilih mundur. Yg jelas keputusan dg suara lonjong tdk bulat.

Tujuan awal bukanlah utk meraih kekuasaan, krn msh terikat dg doktrin demokrasi sbg kemusyrikan. Tp utk mewarnai parlemen.

Pd thn 80an pun pernah terbit buku sputar ini yg memperingatkan peranan dakwah dlm parlemen yg terbukti inefisien. Tp ada euforia demokrasi.

Bbrp buku yg dimaksud adlh Aids haraky o/ Fathi Yakan, lalu juga bbrp buku o/ Musthafa Mashyur. Bisa dibaca buku tsb kl mau.

Yg diungkapkan o/ buku tsb adlh pergerakan dakwah akan terjadi penyimpangan ketika memasuki demokrasi, diawali o/ perpecahan ideologis.

Isu yg pertama kali diangkat pun seputar dasar negara sbg asas tunggal yg msh sensitif ketika itu pasca Orba. Ini bnyk menyorot perhatian.

Raihan suara yg tdk lbh dr 2% namun membuat gebrakan politik. Washington pun mengamati perkembangan gerakan ini.

Muncullah kesadaran bhw utk memiliki pengaruh dlm parlemen hrs dg memperbanyak raihan suara. Suara rakyat adlh suara tuhan dlm demokrasi.

Dr sinilah mulai muncul langkah ekspansi dakwah. Sbuah langkah yg sbnarnya sdh diwanti2 o/ Fathi Yakan pd th 80an.

Knp? Krn ekspansi dakwah kemudian akan menelantarkan tarbiyah. Yg blum layak membina dipaksakan utk membina. Ada target perolehan suara.

Terjadi pemaksaan utk menjadikan ikhwah yg blum memiliki kapasitas utk mentarbiyah, utk segera mentarbiyah. Alhasil tarbiyah tdk maksimal

Bgmn pun, langkah tsb terbukti sukses demi mendulang suara. Pd pemilu berikutnya perolehan suara melonjak hingga 7%. Semakin jd sorotan.

Dg jmlh yg demikian banyak dlm waktu yg demikian singkat, terlihat adanya kewalahan dlm proses tarbiyah dan kaderisasi. Perpecahan tjadi.

Slain itu, terjadi penyimpangan ideologis dlm tubuh gerakan. Isu yg awalnya diusung kemudian dikompromikan sbg komoditas politik.

Demokrasi yg awalnya ditolak kemudian diterima scr perlahan. Dasar negara yg tdnya ditentang kemudian diterima scr perlahan.

Bbrp ikhwah yg istiqomah kemudian protes. Ada gerakan yg menyempal sbg bentuk ketidaksetujuan dr penyimpangan ideologi tsb.

Ditambah lg dg penyimpangan akhlak yg terjadi di lapangan, baik di parlemen maupun di eksekutif. Ada doktrin yg kemudian dipertanyakan.

Kompromi politik pun menjadi permasalahan. Koalisi dg partai yg berkuasa dinilai jg sbg penyimpangan wala dan bara’ yg trjadi.

Bbrp tokoh penting pun mulai gerah dg kondisi demikian. Puncaknya adlh pilpres, dmn suara partai dijadikan komoditas politik.

Sblm pilpres, ada manuver politik yg dilakukan o/ pimpinan, ust Kamal, ke salah satu capres. Yg tnyata tdk sesuai dg ideologi partai.

Syuro dg bbrp kali voting memutuskan capres yg akan diusung partai adlh AR. Pimpinan hendaki WR krn sblmnya sdh melakukan nego politik.

Manuver utk menelikung keputusan syuro pun dilakukan. SMS beredar di kalangan kader utk memilih WR walaupun syuro putuskan dukung AR.

SMS tsb menyebut WR sbg al-akh, ustadz, binaan. Grass root bingung. Terbit surat dg tanda tangan palsu yg nyatakan syuro tdk mengikat.

Surat tsb beredar dg tanda tangan ust RA selaku pimpinan syuro, namun tanpa stempel resmi yg shrsnya ada jika beliau keluarkan surat resmi.

Insiden tsb menuai protes keras. Pragmatisme pertama kali terkuak pd insiden tsb. Kader istiqomah dg syuro, alhamdulillah.

Hal ini menuai ketidakpuasan dr pihak pimpinan yg kemudian tak selang brp lama dr insiden tsb melakukan restrukturisasi.

Momentum meninggalnya ust RA kemudian dimanfaatkan. Murroqib Am baru deklarasikan jabatan seumur hidup bagi dirinya.

Protes kembali bermunculan mengentalkan perpecahan dlm tubuh partai tsb. Bbrp asatidz dikucilkan atau dipecat.

Keadaan kembali memuncak ketika kasus BLBI. Partai kembali menunjukkan pragmatisme yg mengkompromikan ideologi. Kembali tjadi protes.

Gerakan sempalan yg tdk setuju dinamakan scr resmi o/ Mahdudz Siddiq sbg FKP ketika mereka hendak tabayyun ke fraksi.

FKP kemudian sering mengadakan kajian2 di Al Hikmah utk menyuarakan protes thdp pragmatisme partai yg semakin nyata.

Hingga puncaknya pd th 2008, bbrp asatidz menyampaikan dan membacakan surat keprihatinan mereka di dpn ust Kamal. Bisa di google surat ini.

Atau bisa buka blog http://goo.gl/QID0Y cari artikel dg judul Surat Utk Hilmi Aminuddin. Tertuang dlm bbrp poin keprihatinan mereka.

Stlh itu, FKP pun membubarkan diri. Sbagian besar dr mereka kini sdh dipecat, sebagian lg dikucilkan, sbagian lg ikutan pragmatis.

Rentetan peristiwa yg kmudian berujung perpecahan ini diawali dr ijtihad yg sdh diwanti2 o/ Fathi Yakan dan Musthafa Mashyur pd th 80an.

Kini pemikiran partai yg beranjak dr jamaah pengajian dg nuansa tauhid tsb semakin pragmatis dan liberal.

Bbrp poin yg bisa menunjukkan hal tsb adlh pernyataan dr petinggi partai dan kebijakan partai tsb.

Pemilihan kandidat cagub DKI yg diawali dg mahar politik yg jmlhnya simpang siur. Baca di blog td artikel dg judul Siapa Yang berbohong.

Lalu, Pancasila yg dulu bathil kini menjd maqashid syariah. Yg ramai2 dibela o/ kader partai tsb tanpa sedikitpun mengerti.

Demokrasi yg dl kemusyrikan kini menjadi halal. Lalu pernyataan terakhir dr petinggi partai, ide negara Islam adlh kampungan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s