Tausiyah

Kajian Tazkiyatun Nafs – Ilmu dan Urgensinya

Selasa, 2 Mei 2011

Bersama : akhuna Stephanus Iqbal

Bismillahirrahmanirrahiim

Sumber ilmu adalah Qur’an dan Sunnah

Ikhwah fillah rahimahullah,

Belakangan ini kita sering melihat terjadi penyimpangan dalam Islam. Seorang muslim yang memahami Islam dengan cara-cara yang aneh dan tidak sewajarnya. Seorang muslim memahami Islam di luar konteksnya dan sudah tidak berpatokan lagi kepada Al Quran dan As Sunnah. Peristiwa demi peristiwa menuai keprihatinan kita terhadap kondisi umat Islam sekarang ini. Baik di Indonesia maupun di belahan dunia lainnya.

Ada satu permasalahan yang perlu kita tanyakan kepada diri kita masing2. Apakah kita sudah mempelajari Islam dengan baik?

Ilmu adalah kunci dari pemahaman. Seseorang tidak akan dapat memahami sesuatu apapun tanpa adanya ilmu. Ada banyak ayat dan riwayat hadits yang menggambarkan secara tegas kepada kita betapa pentingnya ilmu itu. Yang seringkali kita dengar dalam khutbah-khutbah adalah bahwa ayat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah saw adalah sebuah perintah untuk membaca.

Kali ini saya ingin membawakan sebuah ayat yang menjelaskan kepada kita akan urgensi dari ilmu.

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Mujaadilah, 58:11)

Ayat diatas menunjukkan pentingnya berilmu. Dalam ayat tersebut Allah memberikan perintah tegas kepada semua orang yang beriman. Tidak kepada seluruh manusia, tapi hanya untuk orang yang beriman. Kenapa? Karena ilmu adalah karunia Allah yang diberikan kepada yang dikehendaki-Nya. Ilmu adalah sebuah keistimewaan bagi umat Islam.

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Dari kutipan ayat diatas kita bisa melihat bahwa ada perbedaan antara orang yang beriman dengan orang beriman yang juga berilmu.

Sebuah perbedaan derajat. Mengapa?

Mari kita baca ayat berikut : “Dan perumpamaan-perumpamaan ini kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (QS Al ‘Ankabuut, 29:43)

Ilmu menjadi sebuah prasyarat untuk memahami perumpamaan2 dalam agama. Perumpamaan tersebut adalah bagian dari ayat-ayat Allah. Dengan demikian orang yang berilmu adalah orang yang diberikan pemahaman akan perumpamaan2 yang Allah berikan dalam ayat-ayat-Nya.

.. Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS Az Zumar, 39 : 9)

Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda bahwa Allah memudahkan orang yang mencari ilmu, jalan menuju surga. Inilah urgensi utama dari ilmu. Kemudahan langkah kita yang diberikan Allah untuk menuju surga. Mengapa demikian? Karena ilmu menerangkan kegelapan dan membuka mata dan hati dari kebodohan. Ilmu memberikan kita pemahaman yang benar. Ilmu menjadikan paham mana yang benar dan mana yang salah.

Betapa banyak dari kita yang masih belum memahami mana yang benar dan mana yang salah? Jika kita melakukan sebuah kebenaran dengan berlandaskan pemahaman yang benar, maka pahala bagi kita akan berlipat ganda. Banyak diantara kita yang terjebak dalam syubhat dan keragu-raguan karena minimnya ilmu. Dan lebih parahnya, banyak dari kita masih enggan untuk mencari ilmu.

Imam Ghazali pernah berkata, “Apabila seseorang yg berilmu dan bertambah rasa takut kpd Allah sehingga memandang dirinya bodoh, hina, dan selalu rendah hati, sesungguhnya ia telah bertambah ilmunya.” Yang dibicarakan oleh Imam Ghazali adalah mengenai dampak dari ilmu. Seseorang yg memiliki ilmu yg bermanfaat dan diamalkan ilmu tersebut akan menghasilkan buah-buah keimanan. Diantaranya adalah rasa harap kepada Allah karena ia tahu Allah Maha Pemurah dan Maha Pengampun. Dan juga rasa takut, karena ia sadar jika dirinya jauh dari sempurna dan dirinya akan dikembalikan kepada Allah untuk dihisab.

Dari rasa harap dan takut tersebut akan muncul sikap yg rendah hati. Ia melihat dirinya sebagai sesuatu yg hina karena jauh dari kesempurnaan dan senantiasa bermaksiat. Lalu ia merasa bodoh karena kesadaran akan betapa Maha Luasnya ilmu Allah. Ini adalah indikator bahwa ilmu yang diterimanya adalah ilmu yang bermanfaat.

Para ulama banyak sekali memiliki perbedaan pendapat mengenai pemahaman suatu ilmu. Bahkan perbedaan pendapat dapat kita lacak hingga ke para Shahabat ra. Namun, tidak ada perbedaan pendapat yang sedemikian besar dan menyimpang. Karena semuanya berlandaskan kepada Al-Quran dan As-Sunnah, hal ini sangat berbeda dengan kondisi umat Islam sekarang yang perbedaan pendapat di antara mereka banyak yang menyimpang dari Al-Qur’an dan Sunnah. Nah, masalahnya adalah kita perlu memahami dulu Al-Qur’an dan As-Sunnah, sehingga kita dapat memfilter pendapat mana yang memang sudah keluar dari jalur. Ini yang seringkali tidak kita miliki saat ini. Kita secara serampangan mengambil pendapat dari orang, tanpa kita pahami dalilnya. Nah, bagaimana kita bisa memahami dalil jika kita tidak memiliki ilmunya?

Sehatnya hati juga akan mempengaruhi bagaimana seseorang akan menggunakan ilmunya. Al-Qur’an mengisahkan mengenai seorang pendeta yahudi yg bernama Qarun. Qarun adalah seorang yg berilmu. Allah berikan ia keistimewaan yaitu pemahamannya akan agama yg mendalam. Namun hatinya cenderung kepada dunia. Ia menjual ilmunya demi dunia, bukan demi beramal dijalan Allah. Kisah mengenai Qarun bisa dilihat di Qs 28 : 76-84.

Ikhwah fillah rahimahullah..

Mari kita merenung sejenak. Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda bahwa jika Allah menghendaki kebaikan dari hamba-Nya, maka Allah akan memberikannya pemahaman akan agama. Permasalahannya adalah ketika kita lebih rela dan ridha meluangkan waktu kita untuk mempelajari hal-hal yang tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat kita.

Berapa lama kita hidup di dunia? 60? 70? 100 tahun?

Jika kita hidup 100 tahun, dan kita meluangkan waktu utk sd 6 th, smp 3 th, sma 3 th, dan kuliah 4 th, ini sudah 16 tahun dari hidup kita. Enam belas tahun dari hidup kita, kita gunakan untuk mempelajari ilmu dunia padahal kita kita hanya hidup di dunia selama 100 tahun.

Coba kita hitung berapa banyak waktu yang kita luangkan untuk mempelajari ilmu yang akan menjadi bekal kita di kehidupan akhirat kelak? Sungguh teramat sedikit bukan? Padahal kehidupan akhirat adalah kekal. Kita masih fokus pada kehidupan dunia yang sebentar ini, tanpa ingat bahwa ada masanya dunia ini akan berakhir.

Ikhwah fillah rahimahullah..

Betapa tersia-sia hidup ini jika kita tidak meluangkan waktu kita lebih banyak untuk mendalami agama. Betapa singkatnya kehidupan kita, namun semuanya tidak memiliki arti di akhirat nanti. Dan semua itu hanya karena kita lalai meluangkan waktu kita untuk mencari ilmu yang benar-benar bermanfaat bagi kehidupan kita di akhirat kelak.

Inilah urgensi ilmu yang perlu kita sama-sama renungkan. Karena tanpa ilmu, maka tidak ada amal. Tanpa amal, maka tidak ada takwa. Dan sebaik-baik bekal adalah takwa. Apa yang menjadi bekal kita kelak jika kita tidak persiapkan diri sedari sekarang?

Wallahu a’lam bish shawab.

http://www.facebook.com/notes/nursyamsiah-pertiwi/kajian-tazkiyatun-nafs-ilmu-dan-urgensinya/10150259319250259?ref=notif&notif_t=note_tag

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s