Tausiyah

Aqidah Ini

Seorang tua dan buta yang merupakan salah satu alim di masanya kedatangan tamu, keponakannya beserta suaminya. Ia seorang yang berilmu, memahami agamanya dengan mendalam dan mencintai kebenaran. Tak disangkanya, hari itu ia kedatangan kabar yang menggembirakan hatinya dan mengobati kerinduannya akan kebenaran nubuatan yang tertera dalam Kitab Suci-nya yang hendak diterjemahkan ke bahasa kaumnya. Waraqah bin Nawfal namanya.

Waraqah mendalami ilmu agama dan seorang Nasrani yang hanif. Kedatangan keponakannya itu menjadi pembuktian nyata akan kebenaran yang ia yakini. Bahwa Allah telah mengutus Jibril as sebagai perantaraan wahyu kepada para nabi. Demikian ia sampaikan kepada Khadijah ra, perihal suaminya. Waraqah memberikan peringatan dan membenarkan pewahyuan yang diterima oleh Rasulullah saw bahkan sebelum ia bertemu dengan beliau.

Hal yang menarik adalah ketika Waraqah bertemu Rasulullah saw pertama kali, ia mengungkapkan kerinduannya untuk membela agama Allah yang dibawa oleh Rasulullah saw. “Seandainya aku masih hidup ketika kau diusir dari kaummu,” demikian dinyatakan oleh Waraqah. “Apakah aku akan diusir oleh kaumku?,” tanya Nabi saw. “Tidak ada orang yang membawa apa yang kau bawa, yang tidak diusir dari kaumnya,” jelas Waraqah bin Nawfal.

Aqidah ini, risalah Islam yang dibawa oleh Rasulullah menyebabkan permusuhan dari kaum musyrikin dan kafir. Waraqah menjelaskn bahwa ini adalah sebuah keniscayaan. Ketika sesuatu yang haq bertemu dengan sesuatu lain yang bathil, maka akan terjadi benturan yang keras. Hanya mereka yang berjiwa bersih dan mendapatkan petunjuk dari Allah ta’ala yang kemudian dapat melihat denga jernih apa yang haq sebagai haq dan yang bathil sebagai bathil lalu menjauhinya.

Islam datang ke dunia ini sebagai jawaban atas problema ummat manusia secara menyeluruh. Islam memberikan solusi yang nyata. Namun akan selalu ada orang yang kebih mencintai kebathilan yang menyenangkan syahwatnya. Merekalah yang kemudian akan berusaha untuk meredam cahaya Islam, memeranginya dan mengingkari kebenarannya. Waraqah jelas memahami hal ini.

Isa as adalah contoh bagaimana sekelompok kaum berbuat makar atas kebenaran yang datang dari Rabbul-‘alamin. Isa as diterima sebagai rabbi dan orang alim pada awalnya. Para pendeta Yahudi tidak dapat mengingkari kebenaran yang keluar dari sabda-sabda beliau. Ia membawa firman Allah kepada mereka dan meluruskan pemahaman bani Israel akan agama mereka. Namun ketika Isa as mulai menegaskan aqidah tauhid yang kemudian akan menafikan peran ke’ilah’an para pendeta Yahudi tersebut, maka Isa as dimusuhi dan diperangi hingga akhirnya mereka berbuat makar atas beliau. Waraqah memahami betul bagaimana Isa as ditipu daya. Walaupun Allah menyelamatkan Isa as dari makar mereka.

Rasulullah saw mengalami hal yang kurang lebih sama. Sejarah mencatat bagaimana para petinggi Qurasy mencintai Muhammad bin Abdullah saw dan mempercayainya. Mereka bahkan melihatnya sebagai salah satu orang yang paling jujur dan benar. Mereka menghormatinya sebagai Al-Amin. Kita bisa melihat bagaimana Rasulullah saw berperan serta secara sosial atas mereka. Pergaulan mereka dengan Rasulullah saw tidak memiliki masalah apapun jua.

Namun bukit Safwa menjadi saksi. Ketika Rasulullah saw serukan secara nyata kepada mereka akan risalah tauhid yang telah turun untuk seluruh ummat manusia. Mereka bahkan bersaksi bahwa Rasulullah saw adalah orang yang dipercaya. Jika Rasulullah mengatakan bahwa ada pasukan yang akan menyerang mereka di balik bukit itu, mereka tidak akan meragukan kebenaran hal tersebut. Namun karena Rasulullah meminta mereka bersaksi bahwa hanya Allah satu-satunya ilaah yang layak disembah dan diibadahi, yang akan menghancurkan budaya jahiliyyah mereka selama berabad-abad lamanya, maka mereka kemudian mengatakan bahwa Rasulullah saw adalah seorang pendusta. Na’udzubillah.

Kisah-kisah berikutnya seputar boikot terhadap kaum Muslimin lalu hijrah dapat dibaca pada kitab-kitab sirah nabawiyyah.

Inilah aqidah Islam. Kebenaran yang senantiasa ditolak oleh mereka yang mencintai dunia beserta kefanaannya. Cahaya yang berusaha mereka padamkan karena kecintaan mereka terhadap kegelapan dan kebodohan yang menyesatkan.

Betapa hidayah Allah itu mahal. Billahi tawfiq wallahu a’alm bish-showab.

2 pemikiran pada “Aqidah Ini

  1. Salam Akh,

    Jazakallah atas tulisan yang ringkas saja, tapi penuh seribu erti. Ya, memang sunnatullah jalan dakwah ini penuh ranjau berduri, kerana harga syurga itu mahal sekali..tapi janji Allah itu pasti

    ‘Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya (cahaya Allah) meskipun orang kafir benci’ – Surah al Saff 61:8

    Salam perkenalan
    Mujahid Pahmi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s