Pemikiran

Terorisme, Radikalisme dan Islam

Belakangan ini, media massa lokal sering mengangkat isu mengenai terorisme dan radikalisme, yang kemudian disematkan sebagai label kepada Islam sebagai agama. Sangat disayangkan bahwa masyarakat kita tidak memahami dengan benar apa yang dimaksud dengan kedua istilah tersebut. Media pun dengan sangat salah menempatkan istilah tersebut dan menjadikannya sebagai tudingan terhadap Islam. Perlu kita sadari bahwa yang menempatkan label tersebut pertama kali adalah dunia Barat, dan menjadi lebih sering sejak serangan terhadap gedung WTC 9/11 dan Pentagon pada tahun 2001 yang silam.

Pertama, terorisme dan radikalisme adalah dua istilah yang memiliki makna yang berbeda. Dan keduanya dengan salah digunakan sehingga tergambarkan seakan dua istilah tersebut melekat dan sama. Kedua, penggunaan kalimat tersebut ditempatkan dalam kalimat atau pernyataan yang memberikan konotasi buruk dan memojokkan Islam. Maka itu perlu kita kaji satu per satu istilah tersebut dan membandingkannya dengan dunia nyata agar kita mendapatkan perspektif yang jelas terhadap istilah tersebut, dan penggunaannya yang seringkali salah tempat.

Terorisme menurut thefreedictionary.com adalah sebagai berikut :

The calculated use of unlawful violence or threat of unlawful violence to inculcate fear; intended to coerce or to intimidate governments or societies in the pursuit of goals that are generally political, religious, or ideological.
(Penggunaan terukur atas kekerasan yang melanggar hukum atau ancaman akan kekerasan yang melanggar hukum untuk menanamkan ketakutan; yang dimaksudkan untuk memaksa atau mengintimidasi pemerintahan atau masyarakat dalam mencapai tujuan-tujuan yang umumnya politis, agamis, atau ideologis.)

Berdasarkan pengertian diatas, maka kita akan dapat melihat terorisme dalam sebuah perspektif yang sangat berbeda. Terorisme bukan sekedar bom yang meledak semata tanpa tujuan. Terorisme adalah sebuah serangan yang bersumber dari sebuah entitas yang memiliki tujuan politis, agamis atau ideologis tertentu; dengan harapan menanamkan rasa takut di tengah-tengah pemerintahan atau masyarakat sehingga entitas tersebut memiliki sebuah daya paksa dan intimidasi terhadap pemerintahan dan masyarakat. Permasalahannya disini adalah, serangan seperti apa yang melanggar hukum dan serangan yang seperti apa yang tidak melanggar hukum?

Kita sudah seringkali membaca berita mengenai meledaknya bom bunuh diri di koran-koran, surat-surat kabar dan media massa lainnya. Rata-rata jika tidak semua, ledakan tersebut kemudian disematkan sebagai terorisme Islamis. Serangan teror dengan tujuan bersinggungan dengan Islam. Mungkin sejauh ini kita memiliki perbedaan pendapat mengenai mungkinkah Islam mengajarkan hal seperti itu. Ini adalah ranah perbedaan pendapat yang tidak hendak saya campuri karena memang bukan kapasitas saya untuk membahas ini. Namun saya ingin mengajak kita semua untuk memiliki perspektif yang jelas akan serangan tersebut. Kita tentu bisa sepakat kalau yang melakukan hal tersebut adalah seorang Muslim, paling tidak mereka meng-klaim diri mereka sebagai seorang Muslim terlepas dari apakah mereka ternyata penyusupan intelejen atau apapun itu. Maka kita akan melihat bahwa Islam memiliki orang-orang yang menganut paham terorisme dalam pergerakan mereka, walaupun bukan Islam itu sendiri.

Namun apakah hanya Islam yang memiliki orang-orang semacam itu? Karena kita juga melihat serangan-serangan serupa tanpa dasar hukum yang menaunginya, bahkan seringkali melanggar perjanjian dan kesepakatan, hukum internasional dan lain sebagainya, namun kita tidak melihat serangan tersebut dinyatakan oleh media sebagai aksi teror.

Contoh nyata adalah serangan AS terhadap Afghanistan dan Irak. Invasi AS  ke dua negara tersebut tidak memiliki legitimasi apapun. Dunia internasional mengecam dengan keras serangan tersebut. Dunia internasional tidak memandang serangan tersebut adalah sesuai dengan hukum internasional. Dunia internasional kemudian tidak menyatakan serangan tersebut sebagai serangan teroris. Apa yang menjadi landasan serangan AS ke Afghanistan? Serangan terhadap gedung WTC dan Pentagon yang kemudian dituduhkan kepada Osama bin Laden. Jadi yang menyerang adalah Osama bin Laden, bukan Afghanistan. Namun yang diserang adalah Afghanistan. Proporsional? Tentu tidak.

Lalu apa yang menjadi dasar serangan AS ke Irak? “Membebaskan rakyat Irak dari tirani Saddam Hussein,” demikian sahut Bush, presiden AS ketika itu. Bush juga melanjutkan dengan “menanamkan demokrasi di Irak.” Ideologi yang diusung oleh AS adalah demokrasi. Inilah yang menjadi dasar serangan yang menanamkan ketakutan kepada warga Irak dan Muslim di segala penjuru dunia, yang dengan jelas mengintimidasi pemerintah dan rakyat Irak kemudian bahkan menggantinya dengan pemerintahan baru yang demokratis dan sesuai dengan ideologi AS. Tapi ini bukan terorisme menurut media.

Lalu kita juga bisa melihat serangan Israel ke Jalur Gaza yang bertubi-tubi dan tidak proporsional. Landasan serangan tersebut adalah “membalas serangan roket dari Gaza”. Hamas menjadi tertuduh dan Hamas kemudian dilabeli sebagai teroris. Namun serangan Israel yang kemudian meluluhlantakkan perekonomian rakyat Palestina di Jalur Gaza, bukanlah terorisme menurut media. Serangan yang menanamkan rasa takut kepada warga Gaza, yang kemudian dipaksa untuk menerima ideologi Zionisme bukanlah sebuah serangan teror. Serangan Hamas-lah yang teroris, karena Hamas menyerang Israel yang menduduki wilayah negara mereka yang diakui oleh PBB dan dunia internasional.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, apakah tepat menyematkan terorisme pada Islam semata namun tidak pada ideologi lain yang juga melakukan serangan membabi buta?

Kemudian kita juga perlu melihat istilah radikalisme. Istilah ini seakan memiliki makna yang sangat tidak baik dan dibuat seakan-akan bertentangan dengan nilai dan ajaran Islam. Radikalisme dibawa keluar dari konteksnya dan disematkan sebagai label untuk merendahkan Islam.

Berdasarkan situs kamus yang sama, makna dari radikalisme adalah :

1. the holding or following of principles advocating drastic political, economie, or social reforms. Cf. conservatism, gradualism.
2. the principles or practices of radicals. — radical, n.adj.

Dalam Kamus Thesaurus dijelaskan sebagai berikut :

– the political orientation of those who favor revolutionary change in government and society.

Jika kita memahami makna dari radikalisme, maka kita akan melihat bahwa radikalisme adalah normal dan wajar untuk dianut oleh setiap agama dan ideologi. Bahkan radikalisme tidak memiliki hubungan dengan terorisme, dan sama sekali tidak berarti radikal dalam artian liar dan tidak teratur. Penempatan yang salah pada media memberikan kita persepsi bahwa radikalisme adalah sesuatu yang buruk dan merusak, padahal kenyataannya adalah sebaliknya. Radikalisme adalah perubahan total terhadap sesuatu kepada sesuatu yang lain, dari akar hingga ke buahnya. Lalu dengan pengertian demikian, apakah Islam adalah ajaran yang radikal? Tentu saja.

Islam menuntut perubahan total dari segala segi dan unsur kehidupan. Islam merubah dan memerdekakan persepsi penghambaan kepada sesama hamba menjadi penghambaan hanyalah kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang layak disembah. Sebuah perubahan akidah yang secara drastis akan merubah masyarakat yang jahil menjadi masyarakat madani. Ini adalah radikalisme dalam Islam. Kita bisa melihat perubahan radikal yang terjadi dalam sejarah dakwah Islam. Masyarakat yang sebelumnya jahil, bodoh, terbelakang, dan tidak memiliki kontribusi nyata kepada kemanusiaan berubah drastis menjadi masyarakat yang beradab, cerdas, menjunjung tinggi keadilan dan kejujuran, mencintai sesamanya, dan menghilangkan ashobiyah kesukuan dan kebangsaan yang sempit dari tradisi mereka.

Masyarakat Arab yang sebelumnya tidak bisa membedakan antara baik dan buruk, kemudian mengenal konsep dosa dan menjadi masyarakat yang bertakwa kepada Allah. Ini adalah radikalisme dalam Islam. Perubahan dari kejahiliyahan menjadi sesuatu yang baru dan berbeda. Perubahan ini tidak terjadi setengah-setengah, tapi secara menyeluruh dan bertahap. Lalu tepatkah jika menjadi istilah radikalisme sebagai sesuatu yang buruk? Sama sekali tidak. Karena Islam memang ideologi yang secara radikal merubah akidah jahil menjadi akidah tauhid, yang kemudian merubah masyarakat jahil menjadi masyarakat madani, dan kemudian merubah sebuah bangsa yang terbelakang menjadi bangsa yang beradab.

Adakah ideologi lain yang juga secara radikal seperti ini? Jelas ada. Yang nyata dan seringkali kita lihat adalah demokrasi. AS menjadi demokrasi sebagai ideologi yang secara radikal mengubah muka dunia. Lihatlah bagaimana demokrasi ditanamkan secara paksa di dunia Islam. Timur Tengah seakan memiliki kewajiban untuk berdemokrasi. Semua negara yang bukan merupakan negara demokratis seakan menjadi musuh, atau setidaknya dicap sebagai teroris. Demokrasi yang dipaksakan oleh negara-negara Eropa pada tahun 1920-an yang kemudian meruntuhkan secara total pondasi kekhalifahan Utsmani, setelah kemudian disusul dengan revolusi dan makar, adalah sebuah bentuk radikalisme yang nyata dan tercatat dalam sejarah. Ini fakta.

Lalu seakan sekarang ini, radikalisme adalah musuh yang harus diperangi bersama. Islam memang radikal. Radikalisme ada di dalam Islam. Namun Islam bukanlah musuh. Radikalisme Islam tidaklah jelek atau buruk, dan tidak seharusnya seorang Muslim menolaknya.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” QS. Al-Baqarah [2] : 208

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s