Kehidupan

Palestina dan Politik Pragmatis

Perkembangan menarik dari Timur Tengah setelah sebelumnya marak dengan peristiwa reformasi demi reformasi, adalah perjanjian damai antara Hamas dengan Fatah yang dimotori oleh pemerintahan Turki beberapa hari terakhir. Tentu hal ini layak disambut gembira oleh seluruh umat Islam karena peluang terbentuknya sebuah pemerintahan Palestina yang diakui secara politik oleh dunia internasional dapat semakin diharapkan. Konsekuensi dari berdirinya sebuah negara Palestina yang merdeka, insya Allah adalah keamanan dari Masjidil Aqsha yang perlu dijaga kelestariannya dari penjajahan Zionis Israel.

Menarik jika kita perhatikan adalah semua proses ini diawali oleh kemuakan rakyat di jazirah Arab terhadap pemerintahan mereka yang merupakan kepanjangan tangan dari hegemoni Barat. Mesir, Yaman, dan beberapa negara di jazirah Arab yang turut bergejolak merupakan fakta nyata dari kesadaran politik yang terbentuk dari penjajahan politis dan ekonomis Barat terhadap masing-masing negara. Walaupun hal tersebut tidak berarti bahwa rakyat Arab sudah cerdas secara politik, namun langkah reformasi jelas bukan sebuah langkah mundur. Stagnansi pemerintahan diatasi walaupun tetap terjadi sebuah stagnansi politik yang ditunjukkan dari reformasi yang mereka lakukan. Hal ini persis sama dengan apa yang pernah terjadi di Indonesia beberapa waktu silam.

Indonesia adalah bukti nyata dari kegagalan reformasi dalam mengatasi stagnansi politik walaupun stagnansi pemerintahan dapat teratasi. Fakta yang gagal diambil hikmahnya oleh rakyat Arab adalah reformasi tidak dapat memperbaiki kondisi pemerintahan dalam sebuah sistem yang korup. Sejak 10 tahun terakhir, rakyat Indonesia gagal dalam memperbaiki kondisi sistem yang terpuruk. Hal ini dikarenakan tidak adanya perubahan sistem yang digunakan. Demokrasi.

Fatah sebagai perwakilan ‘pemerintahan’ Palestina yang diakui oleh dunia internasional, kini mengalami tekanan dari sekutu mereka, Israel. Perlu kita pahami bahwa Fatah selama ini menunjukkan sikap oportunis mereka dan pragmatisme politik mereka untuk merapat kepada siapa yang mereka yakini lebih memiliki peluang untuk mencapai tujuan politik mereka. Tidak ada idealisme yang mendasari kebijakan mereka kecuali kepentingan mereka. Ciri khas dari sebuah partai demokrasi. Lalu apa yang melatarbelakangi kebijakan mereka untuk mengikat perjanjian damai dengan Hamas, dan mengkhianati rekan mereka selama ini, Zionis Israel?

Pertama, jelas pengaruh dari gejolak Timur Tengah. Kebangkitan dan semangat reformasi di jazirah Arab memiliki pengaruh terbesar yang kemudian memicu Fatah untuk memikirkan ulang kebijakan politik mereka. Dukungan rakyat Palestina secara masif terhadap reformasi di jazirah Arab, kemudian kekalahan mutlak mereka dalam pemilu Palestina terakhir dapat memberikan gambaran jelas bagaimana Abbas harus menyikapi dengan bijak peristiwa regional yang bersejarah ini. Pilihan logis adalah menggandeng Hamas sebagai rekanan politik karena jelas rakyat lebih menjadikan Hamas sebagai pilihan kebanding Fatah. Abbas dan Israel sangat memahami hal ini.

Kedua, lobi politik yang sukses dari rakyat Palestina kepada pemerintahan negara-negara di benua Amerika. Kemuakan negara-negara ini terhadap Amerika Serikat sebagai pusat hegemoni Barat memang sudah lama terjadi dan ditunjukkan secara gamblang. AS gagal menanamkan pengaruh politiknya dan menjajah perekonomian mereka. Berbagai kudeta yang dilancarkan oleh agen rahasia AS juga selalu dipatahkan. Mereka adalah kekuatan politik yang dapat menjadi duri dalam daging bagi AS mengingat dekatnya posisi negara mereka. Hanya saja kemampuan militer negara-negara penentang AS ini masih minim sehingga mereka tidak dapat membalas AS secara langsung.

Palestina kemudian dipandang sebagai salah faktor yang dapat mencederai AS secara politik dan kemungkinan sekaligus dari sisi ekonomi AS. AS secara ekonomi sedang berada dalam keterpurukan akibat kekalahan mereka dalam perang Afghanistan dan Iraq. Dan keterpurukan ini akan semakin bertambah jika dana untuk Israel kemudian harus juga dikucurkan kembali. Kita sama-sama mahfum dengan posisi Israel bagi AS. Jadilah Palestina menjadi sebuah momok yang dapat meruntuhkan AS. Dan yang perlu mereka lakukan adalah sederhana, yaitu mengakui Palestina sebagai negara yang berdaulat dan merdeka yang kemudian akan berimplikasi pada kekuatan politik bagi rakyat Palestina untuk mengajukan pengakuan atas status mereka dari dunia internasional.

Hal ini menjadi daya tarik bagi Fatah untuk kemudian terlibat dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina yang menjadi lebih mudah daripada sebelumnya, dengan kemudian meninggalkan aliansi mereka denga Israel yang stagnan. Beberapa proyek Fatah memang tertahan sejak serangan gagal Israel ke Gaza. Yang paling besar mungkin proyek pengadaan jaringan telekomunikasi di Tepi Barat yang dimotori oleh anak dari Abbas sendiri.

Ketiga, kebijakan Israel yang tidak menghentikan pembangunan pemukiman gelap di Tepi Barat dan Yerusalem juga memiliki pengaruh. Abbas ingin menunjukkan giginya di hadapan Israel dan AS bahwa ia masih bisa menentukan sikap tegas terhadap mereka. Depopularitas adalah faktor utama yang mendorong Abbas untuk mengambil kebijakan tegas. Kesalahan Abbas adalah berpikiran bahwa Israel akan menghentikan pembangunan apartemen-apartemen pendudukan. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa bagi Israel apartemen-apartemen tersebut adalah bisnis nyata yang menghasilkan proyek jutaan dollar AS. Dan memang pendirian negara Zionis Israel adalah uang disamping ideologi zionisme.

Lebih lanjut pemerintahan Abbas telah kehilangan legitimasi dari rakyat Palestina. Terbongkarnya beberapa dokumen pembicaraan rahasia antara dirinya dengan pemerintahan Israel oleh Wikileaks beberapa waktu yang lalu memiliki dampak yang besar, walaupun sebelumnya pun Abbas telah kehilangan muka. Serangan Israel ke Gaza adalah konsekuensi yang harus ditelan oleh Abbas, sehingga ia ‘merelakan’ Gaza digempur dengan syarat Israel harus benar-benar menghabisi pengaruh kuat Hamas dari Jalur Gaza. Kebijakan politik yang sarat dengan nuansa pragmatisme ini justru menjadi senjata yang berbalik kepada dirinya ketika ternyata Israel gagal melumpuhkan Hamas sama sekali. Kecaman Abbas terhadap serangan tersebut pun hanya sandiwara politik sebagaimana AS pun mengecam tindakan tersebut. Laporan Goldstone kemudian tidak didukung oleh pemerintahan AS, Abbas apalagi Israel menjadi bukti nyata bahwa serangan tersebut adalah serangan terencana.

Selepas terjadinya kebangkitan rakyat Arab di Mesir, Israel kemudian kalap dengan kondisi tersebut. Tergulingnya Mubarak membuka peluang untuk berkuasanya Ikhwanul Muslimin di Mesir, setidaknya pengaruh mereka secara politik akan semakin terbuka lebar. Dukungan Ikhwanul Muslimin terhadap Hamas memang tidak bisa ditutupi. Barang tentu AS dan Israel juga harus berpikir keras dalam meredam kondisi politik Mesir agar tidak menjadi pintu yang terbuka bagi Ikhwanul Muslimin dalam memberikan bantuan terhadap Hamas secara lebih masif. Isu terorisme dan serangan secara langsung terhadap Jalur Gaza kembali terjadi, dan Abbas kembali hanya menunggu dan melihat apa yang akan terjadi kali ini. Pengalaman membuktikan bahwa Israel pun dengan persenjataan militer peringkat ke empat teratas di dunia bisa gagal dalam upaya menghancurkan sebuah gerakan politik seperti Hamas. Dan langkah Abbas kali ini lebih bijak, karena terbukti Israel kembali gagal menghilangkan pengaruh Hamas.

Maka langkah yang paling logis bagi seorang oportunis seperti Abbas dengan partainya Fatah adalah untuk menjalin koalisi dengan Hamas. Inilah faktor keempat yang membuat Abbas sepakat menandatangani kesepakatan damai. Turki yang kini dijalankan oleh pemerintahan Erdogan yang memiliki afiliasi dengan Ikhwanul Muslimin membukakan pintu perdamaian antara Fatah dengan Hamas. Terlihat dari komposisi yang melakukan perjanjian ini, Fatah sekali lagi menghadapi dirinya di bawah tekanan. Solidaritas pemerintah Turki terhadap Hamas beranjak dari afiliasi mereka dengan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Namun Abbas memiliki bargaining position, yaitu dunia internasional mengakui dirinya adalah ‘pemerintahan’ Palestina dalam organisasi PLO. Kartu ini yang kemudian dimainkan. Ditambah lagi Hamas tercatat sebagai organisasi teroris di PBB.

Namun tampaknya Israel tidak semudah itu memberikan kepercayaan kepada Abbas. Israel kini menahan pendapatan utama PLO, yaitu dari pendapatan pajak rakyat Palestina. Israel berdalih bahwa koalisi antara Fatah dengan Hamas adalah alasan yang kuat agar dana tersebut tidak terkucur kepada Hamas selaku organisasi teroris.

Beginilah Palestina dengan politik pragmatis yang berlaku disana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s