Tausiyah

Meluruskan Loyalitas

“Dan barang siapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus.” (QS. 2 : 108)

Tidak ruang untuk keraguan dalam Islam. Kesaksian kita terhadap Allah dan Rasul-Nya adalah satu hal yang sepatutnya tetap, konstan dan tidak berubah. Demikianlah yang telah dicontohkan oleh para sahabat yang mulia dalam keimanan mereka, dalam loyalitas mereka, dalam kecintaan mereka, dari sejak mereka mengucapkan kesaksian iman hingga nyawa mereka dikembalikan kepada Allah.

Bilal, seorang budak dari Habasyah. Kulitnya gelap hitam, perawakannya kecil dan kurus. Ia disiksa oleh tuannya selama berminggu-minggu lamanya. Namun iman didalam dadanya lebih tegar dan besar daripada badannya. Jiwanya kukuh dalam tauhid, lidahnya basah dengan kesaksian “Ahad, ahad, ahad..” Bahwa Allah adalah Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Jadilah terompah Bilal ra terdengar oleh Rasulullah saw di dalam surga.

Az-Zubair bin Awwam, masuk Islam pada usia ke 15. Ia disiksa oleh pamannya sendiri karena keislamannya. Badannya digulung dalam tikar, kakinya digantung dan kepalanya ditempatkan diatas api yang menyala. Namun iman adalah satu hal yang tetap dan tidak berubah. Pamannya meneriakkan kepadanya agar ia kembali kepada agama nenek moyangnya dan menyembah kembali patung-patung mereka. Dan wala’ (loyalitas) adalah hanya kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Ia membantah dengan kalimat yang lantang, “Saya tidak akan kembali kafir lagi sama sekali.”

Kebencian terhadap kekafiran dan kemusyrikan adalah bagian dari beriman kepada Allah Ta’ala. Bagi yang sudah merasakan manisnya iman, mereka akan benci untuk kembali kepada kekafiran. Loyalitas dan cinta mereka adalah untuk Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Mereka tidak akan mengutamakan seorang yang melakukan kekafiran dan kemusyrikan diatas seorang yang beriman dan ikhlas. Inilah konsekuensi dari keimanan seseorang.

Allah Ta’ala menanamkan kecintaan kepada iman dan kebencian kepada kemusyrikan dan kekafiran. Tak ada lagi keraguan dalam iman kepada Allah dan Rasul-Nya setelah kita memiliki cinta kepada iman dan membenci untuk kembali kepada kekafiran dan kemusyrikan, kepada kejahiliyahan dan mencintai kefanaan.

“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, ..” (QS. 49:7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s