Kehidupan

Perjalanan Dakwah Mereka

Semangat muda yang cair dan dashyat tidak dapat dibendung oleh tembok-tembok tirani, telah mencetuskan ide untuk mengusung kembali apa yang telah terlupakan, apa yang telah tertinggal dalam kenangan masa lalu. Diawali dari sebuah pergerakan yang berumur hampir seratus tahun silam, dan kini telah bermetamorfosa menjadi embrio-embrio gerakan yang sama di berbagai penjuru dunia. Dan khususnya di Indonesia, gerakan ini seakan-akan hendak berbuah, nampak ranum dan tidak sabar menampakkan hasil.

Mereka menamakan diri mereka sebagai kader dakwah. Sempat mewabah dan kini kembali mulai surut. Sebagian dari mereka tulus dan ikhlas, memerah keringat, mengorbankan pekerjaan, bahkan rumah tangga mereka. Satu hal yang ditanamkan ke dalam diri mereka. Mereka mencintainya. Mereka menikmatinya. Mereka terpana didalamnya. Dakwah. Sebuah kata yang melekat dengan citra Islami. Sebuah kata yang menuntut pemahaman mendalam, keikhlasan, pengorbanan, totalitas, kesungguhan dan kerja keras. Sebuah kata yang kini terlontar kehadapan masyarakat seperti kacang.

Masa Yang Lampau

Tercatat sebagai referensi dalam riwayat perjalanan gerakan ini, mereka telah menorehkan prestasi demi prestasi. Tidak dapat dikatakan sebuah kesuksesan, namun tidak dapat dipungkiri adalah sebuah langkah yang lebih baik daripada sebuah stagnansi. Pada eranya, gerakan ini berhasil mencetak tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh langsung dalam masyarakat, berkecimpung menghadapi masalah sosial politik, merasakan  dan menghadapi keluh kesah masyarakat, dan salah satu prestasi yang sangat saya acungi jempol adalah mengisi kekosongan ruhani dari masyarakat yang kering karena tertindas oleh tirani demi tirani. Dari tirani eksport yang kemudian beralih kepada tirani domestik namun sama parahnya.

Fokus gerakan ini adalah pada mendidik dan membina masyarakat hingga mencapai tahapan cerdas secara moriil, memiliki landasan aqidah yang kokoh, pemahaman agama yang utuh dan menyeluruh. Dan perlahan demi perlahan, mereka menunjukkan kemajuan. Kondisi masyarakat yang ketika itu sangat kekeringan ruhani menyambut dengan hangat apa yang mereka tawarkan. Dakwah mereka menjamur. Walaupun mendapatkan pertentangan keras dari rezim tiran pada masa itu. Agama Islam adalah momok yang mengerikan bagi setiap rezim tiran dan tak terkecuali rezim ketika itu. Namun, uniknya adalah kezhaliman rezim itu tidak dapat membendung semangat dan jiwa muda dari gerakan dakwah ini.

Dakwah. Ketika itu dakwah memiliki arti yang utuh, sebagai upaya menegakkan Islam sebagai sebuah sistem yang menyeluruh. Menyerukan kepada manusia, mengajak mereka kepada jalan Allah Ta’ala dengan konsekuensinya adalah mengajak manusia untuk mengingkari segala bentuk kemusyrikan yang menduakan hak Allah Ta’ala terhadap hamba-Nya. Thogut adalah musuh dakwah dan musuh agama Islam. Thogut dengan sewenang-wenang menyatakan diri memiliki hak untuk mengatur manusia dengan cara dan aturan mereka sendiri, menzhalimi manusia, menyatakan diri sebagai tuhan yang layak untuk diibadahi, ditaati dan diikuti aturannya.

Perhatikan bagaimana jamaah ini menggunakan istilah-istilah yang mencerminkan semangat jihadnya, seperti katibah (batalyon), jundi (prajurit) dan lain sebagainya. Jihad masih merupakan sebuah langkah yang terbuka untuk ditempuh, bagaikan pintu menuju gerbang-gerbang surga yang dinanti bila telah diijinkan untuk dibuka. Sebagaimana semboyan mereka yang sering mereka lantunkan “Jihadis-sabiiluna, Jihad adalah jalan kami..”

Tidak ada keraguan bagi mereka dalam mengorbankan nyawa sekalipun karena kemuliaan adalah ketika mereka menjual jiwa mereka kepada Allah swt. “Asy-syahadah umniyatuna, Mati sebagai syahid adalah cita-cita kami..”

Bagaimana perkembangan gerakan ini? Luar biasa. Masyarakat menyambut mereka dengan antusias. Kesabaran mereka selama bekerja dan berdakwah puluhan tahun menghasilkan insan yang terbina dan terdidik untuk menjadi da’i. Ribuan yang menyambut dakwah kemudian ribuan juga yang berdakwah. Kontinuitas keringat demi keringat yang melebur bersama iman mereka, menyingsing harapan akan kesadaran masyarakat untuk kembali kepada Allah dan hanya beribadah kepada Allah secara utuh, lalu mengingkari thogut, membenci kemusyrikan dan kekufuran. Selangkah demi selangkah. Tahap demi tahap.

Namun perubahan roda politik terjadi. Keran-keran demokrasi terbuka. Sebuah euforia melanda masyarakat secara umum dan meluas. Jamaah ini tidak terhindar dari euforia tersebut.

Beranjak dari sebuah ide untuk turut andil dalam pemerintahan secara aktif selagi keran demokrasi terbuka, setelah sekian lama rezim represif dan tiran membungkam aspirasi mereka. Ijtihad yang diperdebatkan dan banyak tidak disetujui. Banyak yang menolak ide ini. Banyak yang melihat bahwa demokrasi hanyalah sebuah jargon yang tidak akan terealisasi. Tak elak dengan tipu daya dan fitnah, mereka terjerembab dalam lembah sistem yang korup.

Berjalan Bersama Waktu

Idealisme yang masih melekat dalam dada memang sulit untuk luntur, namun bukan berarti tidak bisa luntur. Kondisi dan lingkungan dapat merubah pola pikir secara perlahan yang kemudian menggeser paradigma dan prinsip. Sebuah batu pun akan berlubang dan pecah menghadapi tetesan air di tempat yang sama selama bertahun-tahun. Demikianlah keadaan jamaah ini.

Awal keterlibatan dalam sistem kepartaian, mereka mencatat sebuah fenomena dan kebijakan-kebijakan yang mereka keluarkan tergolong keras dan ideologis. Tidak tanggung-tanggung ideologi negara menjadi sasaran utama mereka. Banyak ummat Islam yang terkesan dengan kelantangan mereka dan keberanian mereka. Nuansa tauhid masuk ke dalam parlemen memang membuat suasana sedikit berbeda. Ada ketegasan dalam sikap dan kebijakan. Seakan mimpi dapat diraih selangkah demi selangkah.

Sebuah sistem berisi perangkat-perangkat yang bekerja demi mewujudkan tujuan sistem tersebut dibentuk. Terlepas dari betapa zhalimnya sistem itu, atau seberapa korupnya sistem itu. Ketika ada perangkat dalam sistem tersebut yang bekerja berlawanan arah dengan yang lain, maka secara otomatis perangkat yang satu itu akan dikategorikan sebagai perangkat ‘rusak’ dan perlu diganti. Kecuali tentu saja, dapat dicapai sebuah langkah kompromi yang akhirnya menjadikan perangkat tersebut dapat kembali berjalan dan bekerja seiring dengan perangkat yang lain dalam sistem itu. Ini adalah keniscayaan dalam sebuah sistem. Dan inilah yang kurang lebih terjadi.

Secara perlahan, ketegasan yang ditunjukkan pada awal-awal mulai mereda. Kesederhanaan yang menyiratkan wajah seorang da’i, tampak memudar. Tidak butuh waktu yang relatif lama untuk hal ini terjadi. Sekitar 5 tahun sudah cukup. Terlihat beberapa kalangan petinggi yang mungkin merasa gerah dengan gerakan yang stagnan ketika masuk ke dalam sistem yang korup. Ditambah lagi adanya isu internasional yang mengakibatkan tersendatnya dukungan finansial yang selama ini menjadi andalan. Alhasil, ketegasan yang semula terlihat berubah menjadi sikap yang plin-plan dan penuh kompromi. Berbagai prinsip-prinsip dasar diterobos dan dilangkahi.

Pengaruh dari hal tersebut adalah perubahan sikap dan mentalitas secara perlahan-lahan dari jamaah ini. Kesederhanaan tidak lagi mencuat dan menjadi ciri khas, karena sudah berganti dengan kemewahan. Bagi yang menolak fasilitas negara yang mewah, mendapatkan sanksi. Uang yang selama ini diharamkan, kini menjadi halal asalkan digunakan untuk ‘dakwah’. Apa yang sebelumnya terlarang dan tabu, menjadi lumrah dan wajar. Muslimah yang sebelumnya mendapatkan keistimewaan seakan menjadi salah satu komoditas eksploitasi ala emansipasi wanita di Barat. Dampak dari hal yang terakhir secara khusus, merubah tatanan rumah tangga jamaah yang sebelumnya dikenal harmonis. Perceraian terdengar di satu-dua rumah tangga yang sebelumnya jarang sekali terdengar. Permasalahan semakin banyak mencuat ke permukaan.

Beberapa kalangan yang menyadari adanya penyimpangan ideologi dasar dari jamaah ini mulai bertanya-tanya. Darimana asal perubahan ini dan bagaimana memperbaikinya? Namun itu adalah kesia-siaan, karena ternyata pucuk jamaah telah memutuskan untuk mengubah sikapnya selama ini.’Dakwah’ perlu berevolusi menjadi sesuatu yang baru. Kalangan yang sadar pun diasingkan dan dikeluarkan dari jamaah. Beberapa memutuskan untuk keluar dengan sendirinya. Ada segelintir yang sadar dengan keadaan ini dan tetap berharap pada harapan hampa dan semu akan adanya perbaikan pada jamaah.

‘Dakwah’ Mereka Kini

Kini. Asatidz yang mengutamakan ideologi awal pembentukan partai memilih untuk berlepas diri dari mereka. Mereka berjalan dengan asas pragmatisme dan politik sekuler mereka. Berbagai kebijakan yang sebelumnya tidak mungkin dikeluarkan atau bahkan bertentangan dengan prinsip, kemudian malah menjadi sebuah kewajaran atau bahkan konsekuensi dari kebijakan. Ya, bagi mereka yang mengulangi materi-materi awal gerakan ini terbentuk, akan mengalami kebingungan akan kebijakan-kebijakan yang baru itu. Karena bagaimanapun pembenaran yang diberikan pada setiap kesempatan, semua tetap saja bertentangan.

Banyak yang kemudian berguguran satu per satu. Sebagian asatidz yang masih berada dalam jamaah menyadari penyimpangan tersebut namun mereka enggan untuk menentukan sikap. Sebagian besar menikmati perubahan yang terjadi dalam jamaah. Para pengikut mereka yang baru bergabung merasa sangat bangga dengan diri mereka dan bendera yang mereka pasang tinggi-tinggi.

Mereka tidak mengerti apa yang dimaksud dengan dakwah ketika jamaah ini awal bergerak. Mereka tidak mengerti perjuangan dan pengorbanan yang tercurah demi dakwah yang dipahami ketika itu. Betapa balok es yang melekat di tubuh selama berhari-hari dan pukulan siksa bertubi-tubi ditelan dan menghasilkan radang kronis pada paru-paru para aktivis dakwah ketika itu. Penjagaan mereka terhadap akidah dan tauhid mereka menyebabkan diri mereka dikucilkan dari masyarakat, diteror oleh pemerintah. Saat ini, itu semua tiada artinya lagi.

Yang dulu menyiksa kini dijadikan pahlawan dan guru bangsa. Yang dulu dilaknat kini dirangkul dengan mesra. Yang dahulu dijaga, kini dihumbar tanpa dosa.

Sebuah pelajaran dari Allah Swt yang tidak menggambarkan ‘dakwah’ mereka.

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf : 108)

Di penghujung jalan, adakah pengingkaran terhadap kemusyrikan dalam ‘dakwah’ mereka?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s