Tausiyah

Menanamkan Visi Dalam Diri

Manusia adalah mahluk yang penuh dengan angan-angan. Demikianlah fitrah kita dimana kita akan selalu berusaha menggapai masa depan kita. Sayangnya yang sering terjadi adalah manusia berangan-angan jauh dari kemampuannya dengan melupakan bahwa akan ada masanya hidup ini akan berakhir. Hidup adalah satu hal yang fana dimana tidak ada keabadian didalamnya. Angan-angan menjadi ringan bagi manusia karena seakan tanpa ada batasan, lepas sesuai dengan keinginan tanpa ada benturan dengan kondisi dan ketidakmampuan. Dunia menjadi indah dengan angan-angan yang jauh dari kemampuan kita.

Kehidupan yang berujung seakan mematikan angan-angan pada titik yang tidak dapat kita ketahui kapan dan dimana, sehingga akan timbul rasa tidak aman dalam menjalani hidup. Hal semacam ini yang membuat budaya dari manusia yang tidak mengenal Tuhannya demikian rentan dan seakan berusaha menghindari akhir dari hidup ini. Bayangkan betapa mengerikannya jika kita hidup tanpa mengetahui bahwa sama sekali tidak ada keamanan yang dapat menjamin keselamatan jiwa kita. Namun demikianlah kenyataan. Kenyataan yang berusaha diingkari oleh dunia Barat yang sangat takut akan kematian.

Dunia Barat berupaya untuk melawan kematian, berusaha menghindari diri mereka dari kematian. Karena bagi mereka kematian adalah akhir dari segala kenikmatan yang biasa mereka nikmati di dunia ini. Kematian adalah ujung pangkal dan momok yang mengerikan karena didalamnya tidak ada lagi rasa, tidak ada lagi warna, tidak ada lagi harumnya senja. Kematianlah yang memutuskan hidup mereka. Lihatlah betapa besar upaya mereka dalam melakukan riset untuk melawan penyakit atau betapa mereka rela mengeluarkan biaya yang tidak kecil untuk mengasuransikan jiwa mereka dan kesehatan mereka. Apakah seperti ini kehidupan yang bahagia? Tentu tidak.

Sebaliknya, seorang Muslim menyadari penuh bahwa kehidupan adalah semata-mata alat dan menggunakannya sebaik mungkin demi mencapai angan-angan akhir mereka. Apakah hidup seorang Muslim tidak akan berakhir di dunia ini? Tentu saja itu adalah pendapat yang salah. Kehidupan seorang Muslim jelas akan berakhir. Namun ada satu hal yang membedakan antara seorang yang berserah diri kepada Tuhannya dengan orang yang sedemikian sombong sehingga mereka pikir diri mereka adalah tuhan. Yaitu angan-angan mereka yang kemudian akan membedakan bagaimana mereka menyikapi hidup dan kematian.

Perhatikan bagaimana Allah swt menyindir keras para pelaku kekafiran dalam firman-Nya :

“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS. Al-Hijr : 3)

Mereka diindahkan dengan tipu daya dunia. Mereka bersenang-senang di dunia sehingga mereka melupakan darimana mereka berasal dan untuk apa mereka ada. Inilah makar Allah atas mereka itu.

Seorang Muslim tidaklah dibuaikan oleh angan-angan. Apa yang menjadi visinya adalah suatu hal yang demikian nyata dan jelas sehingga bukan merupakan angan-angan semata. Sebuah kenyataan yang kemudian mendorongnya untuk berupaya menggapainya. Inilah ciri seorang Muslim. Ia akan senantiasa berikhtiar demi mencapai kebenaran yang ditunjukkan oleh Rabb-nya secara tegas dan nyata. Juga berdasarkan petunjuk yang datang kepadanya dari Rasul-Nya dan Al-Qur’an yang membawa firman-firman dari-Nya. Dan karenanya seorang Muslim akan senantiasa bertawakkal. Kematian tidak lagi menjadi sebuah momok yang mengerikan bagi setiap Muslim, dan seringkali malah berlaku sebaliknya. Seorang Muslim akan merindukan kematian yang mulia.

“Sebab itu bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata.” (QS. An-Naml : 79)

Lalu kebenaran apakah yang dituju oleh setiap Muslim? Apa yang menjadi dorongan dan landasan motivasi setiap Muslim untuk senantiasa bertawakkal kepada Allah swt?

Tujuan hidup seorang Muslim jelas dan tidak berubah sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an. Seorang Muslim tahu kemana ia akan melangkah dan apa yang harus diperbuatnya. Tidak ada keraguan dalam dirinya kecuali atas apa yang ia tidak memiliki ilmu atasnya. Seorang Muslim memiliki bayangan dimana ia akan berakhir sebagaimana telah dijanjikan oleh Rabb yang telah menciptakannya. Karena tujuan itulah, mereka senantiasa berharap. Ketakutan mereka adalah dijauhkan sejauh-jauhnya dari tujuan itu. Itulah visi hidup seorang Muslim.

“Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. Al-Imran : 136)

Harapan itulah yang memacu mereka untuk senantiasa beramal dan melangkah. Tidak ada kesedihan jika sepanjang hidup dihabiskan untuk bersyukur. Tidak ada kelelahan jika di ujung jalan ada kekasih yang menanti. Tidak ada sedikitpun darah mereka akan tertuang tanpa ada imbalan dari Rabb mereka di akhirat kelak. Sehingga kematian tidak lagi menjadi momok yang mengerikan, tapi suatu hal yang dirindukan. Karena kematian membuka gerbang menuju surga, kekhawatirannya adalah apakah ia cukup membawa bekal untuk perjalanannya kelak? Hanya kepada Allah, ia bertawakkal.

Visi yang tertanam dalam jiwa setiap Muslim adalah surga. Karena hanya dari surga, ia dapat bertemu dengan Rabb-nya yang ia cintai. Hanya di dalam surga, kekekalan akan terasa nikmat dan indah. Baik untuk laki-laki atau perempuan.

“Barang siapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun.” (QS. An-Nisa’ : 124)

Demikianlah mereka akan berpegang teguh kepada keimanan dan konsekuensi dari keimanan mereka. Dunia menjadi kecil bagi mereka. Dunia menjadi terlalu sempit bagi mereka jika dunia harus dipertarungkan dan diperebutkan. Dunia hanya menjadi alat dan hamba atas diri mereka. Tidak lebih dan tidak kurang. Karena visi mereka begitu besar dan megah, begitu indah bergemerlapan pesona yang nyata. Tetes airmata mereka berlinang merindukannya. Satu-satunya keberhasilan dan kesuksesan yang mereka harapkan adalah tercapainya visi mereka itu.

“Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am : 127)

Karenanya mereka senantiasa memperhatikan dan siaga akan kondisi-kondisi yang dapat menjauhkan mereka dari visi mereka tersebut. Kewaspadaan yang senantiasa mereka jaga selayaknya ketika mereka berjalan melewati jalan yang penuh duri. Berhati-hati namun langkah tetap pasti dan cepat.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, ..” (QS Al-Imran : 133)

Ia tahu siapa yang menjadi kawan dan siapa yang menjadi musuhnya. Peringatan Allah benar-benar diperhatikannya. Tidak mungkin Rabb-nya mendustakannya dan tidak ingin ia mendustakan Rabb-nya.

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. ..” (QS. Al A’raf : 27)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s