Tadabbur

Rezeki, Ketakwaan Kepada Allah

Sebuah kisah mengenai seorang Imam yang mengutamakan seorang muridnya yang paling muda, yang kemudian mendapatkan pertanyaan kritis dari muridnya yang lain mengapa si Fulan tersebut mendapatkan keutamaan dari sang Imam. Maka suatu hari sang Imam memanggil semua muridnya dan memberikan mereka masing-masing seekor burung dara dan sebilah pisau.”Potonglah burung ini dimana tidak ada sesuatu apapun yang dapat melihatmu,” perintah sang Imam kepada para muridnya. Pergilah mereka masing-masing.

Tak lama berselang, mereka kembali dengan burung dara sudah tersembelih kecuali si Fulan yang burung daranya masih hidup dan belum terpotong sedikitpun. Mereka pun heran. Sang Imam bertanya, “Mengapa engkau tidak menyembelih burung dara itu?” Si Fulan menjawab dengan muka memerah malu, “Wahai Imam, aku tidak dapat menemukan tempat dimana Allah tidak melihatku, sehingga aku tidak dapat menjalankan perintahmu.”Konsekuensi iman yang utuh adalah rasa takut kepada Allah semata. Dalam kondisi apapun seorang Muslim akan menyadari bahwa Allah senantiasa mengawasinya. Tidak ada lemparan langkah kita, hembusan nafas kita, ataupun sedegup jantung kita yang tidak diawasi oleh Allah. Azab Allah adalah nyata bagi orang yang beriman, terpampang jelas di depan matanya sebagaimana ia melihat dirinya di dalam kaca. Suara siksa neraka terdengar utuh memekakkan telinganya sebagaimana ia mendengar panggilan shalat. Rasa takutnya kepada Allah adalah semata-mata karena ia ingin menghindari dirinya dari kemudharatan yang Allah berkuasa menjatuhkan atasnya.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal : 2)

Gemetar hati mereka. Luluh lantak rasanya jiwa mereka mendengar ayat-ayat Allah yang mengancam setiap perbuatan dosa mereka. Berguguran air mata mereka membayangkan pedihnya siksa Allah, dan betapa mereka membenci untuk berada dalam kerugian semacam itu. Inilah ciri keimanan seorang Muslim.

Lalu mereka akan menguatkan iman mereka dengan sekuat-kuatnya, lalu berharap akan kemudahan dari Allah. Mereka pun tahu bahwa ketentuan Allah adalah yang terbaik bagi mereka sehingga mereka mengerjakan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin. Hasil adalah perkara belakangan karena hasil adalah ketentuan dan berdasarkan keridhaan Allah. Yang utama adalah bagaimana bersungguh-sungguh dalam berupaya mengejar keridhaan Allah tersebut, karena hanya sebatas itulah kemampuan seorang manusia. Maka segala upaya dan usaha mereka akan dilandasi oleh iman kepada Allah dan tawakkal mereka kepada Allah.

“(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS Al-Anfal : 3)

Semua ibadah mereka adalah bentuk ketundukkan diri mereka kepada hukum-hukum Allah yang berlaku atas mereka. Tidak ada satupun yang mereka lakukan tanpa mengharap secercah keridhaan dari Allah Ta’ala. Ketentuan Allah atas mereka adalah keharusan, dan mereka menjalaninya demi menghindari azab Allah dan mengharapkan keridhaan. Inilah iman dalam tahap yang sempurna. Karena azab-Nya adalah keniscayaan bagi yang bermaksiat kepada-Nya, dan ridha-Nya adalah sebaik-baik harapan yang dapat diharapkan oleh seorang hamba.

Seorang muslim menyadari betul bahwa ibadah adalah ketaatan yang ditujukan kepada Allah Ta’ala dan berujung kepada ketakwaan kepada-Nya. Dan hanya dengan ketakwaan itu ia mendapatkan keridhaan Allah swt, baik di dunia maupun di akhirat.

“Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal : 4)

Dan dengan ketakwaan dari dirinya kepada Rabb-nya, ia akan mendapatkan kemuliaan dan keagungan yang akan membedakannya dari orang lain, menjadikannya istimewa dengan karunia Rabb-nya. Lebih dari itu, ada ampunan yang mengangkat beban dari hatinya, membersihkannya dari noda-noda fitnah dunia dan mensucikan jiwanya kembali kepada fitrahnya. Dan yang terakhir, bagi mereka yang bertakwa sebuah kenikmatan akan rezeki Allah kepada mereka. Rasa syukur atas segala nikmat yang sekecil biji kurma terpancar dari wajahnya, sikapnya dan tutur katanya. Rasa syukur yang dilandasi oleh ilmu yang menyadarkannya bahwa ia tidak dapat menciptakan sesuatu apapun, bahwa segala sesuatu adalah milik-Nya.

Iman adalah modal dasar seorang Muslim dalam menjalani kehidupan ini. Banyak dari kita belum memiliki iman sebagaimana yang disyaratkan Allah. Dalam banyak kesempatan, seakan iman kita luntur seketika dan kemudian dengan lenggang kita bermaksiat kepada Allah. Tidakkah kita sadar bahwa Allah adalah Yang Maha Melihat, Mendengar dan Mengetahui? Demikianlah iman belum meresap dalam hati kita sehingga dengan mudah iman raib terbawa suasana dan hilang dalam sekejap.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s