Kehidupan

Az-Zuhud, Sebuah Kemuliaan Diri

Alkisah mengenai seorang ustadz, hidup di masa modern ini. Wajahnya menampakkan kesederhanaan, cerah, cerdas, juga menunjukkan umur yang penuh kebijaksanaan. Tidak banyak yang tahu bahwa masa mudanya dipenuhi debu-debu pasar di kala ia masih menafkahi dirinya sebagai kuli panggul. Tak banyak yang tahu juga prestasinya menghadapi mafia perpolitikkan negara ini. Hanya rautan mata yang tetap bersinar dan masih menunjukkan semangat tersisa dan kemuliaan hati yang demikian besar.Hidup terus berjalan dan jaman datang silih berganti, namun izzah sebagai seorang Muslim menjaganya dari keputusasaan menghadapi rintangan di jalan hidup yang ia pilih. Penyesalan mungkin ada, namun taubat adalah jawaban yang senantiasa tersedia bagi jiwa yang tenang dan beriman. Harinya dipenuhi dengan majelis-majelis ilmu. Mengajar setelah diajar, seakan memenuhi semangatnya di sisa umur beliau. Bagi yang mengenalnya, tidak ada yang meragukan kelembutan hatinya dan besarnya cinta beliau terhadap Islam.

Dalam sebuah majelis, beliau datang diantar oleh motor usang yang sudah beberapa tahun terakhir menemaninya. Mengisi materi dan berbagi ilmu kepada para jamaah yang hadir. Anehnya, setelah majelis itu selesai, beliau masih tidak beranjak dari masjid tersebut. Panitia pun penasaran. Apa kira-kira yang menahan beliau? Mereka pun mulai bertanya-tanya. Waktu mulai larut dalam kesunyian malam, tapi jawaban beliau kepada mereka, “Ana mungkin bermalam di masjid malam ini.”

Semakin mengherankan karena memang hal tersebut tidak ada dalam rencana. Panitia pun semakin gencar bertanya. Apa gerangan yang membuatnya tiba-tiba ingin bermalam di masjid? Keberadaan beliau jelas menahan panitia yang sudah berencana pulang malam itu. Setelah panitia dengan gencar bertanya kepadanya, akhirnya beliau menjelaskan duduk perkaranya. “Akhi, sebenarnya bensin motor ana habis tadi di jalan dan ana belum pegang uang untuk beli bensin,” jelasnya.

Satu hal yang luput dari perhatian para panitia tersebut adalah ia datang dengan motor yang tanpa bahan bakar dan juga bahwa ia datang tanpa membawa sepeserpun uang. Kedatangannya di majelis itu tak lain karena kecintaannya kepada ilmu dan semangat dari para jamaah yang ingin menambah ilmu. Sayap-sayap malaikat yang menaunginya dan pahala dari Allah swt lebih ia cintai daripada harus melalaikan majelis tersebut karena kondisinya.

Di lain kesempatan, sang ustadz mendapatkan panggilan untuk menjadi pembicara dalam sebuah dauroh. Dengan semangatnya, beliau menyampaikan ilmu kepada jamaah. Selepas acara, panitia memberikannya sepucuk amplop seraya berbasa-basi, “Untuk transport, stadz.” Tentu dalam masyarakat Melayu seperti kita ini, budaya berbasa-basi seperti itu adalah wajar.

Sambil tersenyum, sang ustadz menerima amplop itu, membuka amplop tersebut, mengambil selembar uang kertas dari dalam amplop dan kemudian mengembalikan amplop itu kepada si panitia. “Ini kebanyakan kalau hanya untuk transport, akhi,” jelas sang ustadz.

Ya, sang ustadz kembalikan apa yang tidak menjadi haknya. Yang beliau ambil adalah apa yang menjadi pemberian dari si panitia, tidak lebih untuk transport. Jiwanya yang bersih menolak jika harus memakan apa yang bukan menjadi haknya. Beliau sadar betul bahwa semakin banyak harta yang dimilikinya, maka akan semakin lama ia akan mempertanggungjawabkannya di akhirat kelak. Dan semakin lama pula ia akan sampai ke surga, dan semakin lama pula pertemuannya kelak dengan yang dicintainya.

Zuhud bukanlah penafian terhadap dunia. Zuhud adalah kecerdasan intelektual yang membutuhkan kebersihan jiwa dengan tujuan yang jauh lebih besar, yaitu surga. Tidak dibutuhkan kekayaan berlimpah untuk zuhud.

Perhatikan bagaimana Abdurrahman bin Auf ra menyerahkan seluruh hartanya yang milyaran itu untuk agama Allah swt. Lalu bagaimana seorang Aisyah ra bisa lupa menyisihkan seper dinar pun untuk berbuka puasa, padahal ia baru saja membagi-bagikan sedekah kepada kaum fakir. Lihatlah juga para sahabat yang bersedekah dengan setengah biji kurma karena Rasulullah menjelaskan kepada mereka keutamaan sedekah.

Itulah zuhud. Keagungan akal dan kebersihan jiwa. Lebih memilih surga kebanding dunia.

6 pemikiran pada “Az-Zuhud, Sebuah Kemuliaan Diri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s