Pemikiran

Mengapa Islam?

Pertanyaan yang paling sering diajukan oleh teman yang mengetahui bahwa saya sebelumnya adalah penganut agama Katholik adalah, mengapa saya memilih Islam. Pertanyaan ini sedemikian sering, sampai terkadang untuk menjawabnya berasa seperti sedang memberikan kuliah mengenai sebuah mata kuliah dengan tema Kristologi. Namun semua masih dalam batas kewajaran dan sama sekali saya hargai. Bentuk perhatian dari teman-teman yang ingin mengetahui latar belakang seseorang dalam mengimani keimanan yang sama dengannya mungkin merupakan salah satu hal yang paling wajar dan alami. Kesamaan aqidah menjadi sebuah ikatan baru dan seakan-akan terasa perlu untuk dirayakan, diawali dengan perkenalan dan persahabatan.

Mengapa Islam? Sejujurnya, saya juga tidak dapat memastikan apa daya tarik Islam bagi saya pada awalnya. Pada waktu itu, saya melihat Islam sebagaimana dapat anda temukan pada seorang Islamophobic pada umumnya. Ajaran terbelakang yang penuh dengan kekerasan dan intimidasi. Islam adalah sebuah momok yang mengerikan dengan jenggot dan celana cingkrang, dengan baju bermotif tenunan Arab dan sorban di kepala.

Ada sebuah pernyataan yang menjadi sebuah acuan saya ketika saya berada dalam posisi pencarian akan kebenaran, yaitu “Semua agama itu baik, namun hanya satu yang benar.” Ya, kebenaran adalah faktor yang perlu kita penuhi dalam hidup ini. Saya lebih memilih mati dengan membawa kebenaran daripada harus hidup dengan kepalsuan belaka, ini adalah prinsip yang setidaknya bisa saya pegang. Maka inilah yang menjadi pegangan awal saya, kebenaran.

Dengan apa saya menguji kebenaran? Pertama, akal. Modal dasar seorang manusia yang paling primitif sekaligus termutakhir inilah yang menjadi andalan saya. Lalu kedua, ilmu dan informasi yang berkembang di luar sana. Buku, artikel, pengalaman langsung dan lain sebagainya. Dengan dua modal dasar ini saya berusaha temukan kebenaran, dan seiring jalan hati memainkan peranannya di tempat dan suasana yang tepat. Subhanallah.

Awal Perjalanan

Singkat cerita, saya berada dalam kondisi dimana Ibu dan saya memiliki keyakinan yang berbeda. Saya sebagai seorang Katholik dan Ibu sebagai seorang Muslimah. Secara naluriah, Ibu mengajak saya beserta adik-adik saya untuk memeluk agamanya. Tentu saya menolak mentah-mentah. Tidak mungkin! Bagaimana mungkin saya harus memeluk sebuah agama yang saya nilai mengintimidasi kaum wanita, memerintahkan kebiadaban hukum rajam, memerintahkan pembunuhan terhadap yang berbeda agama, dan haus peperangan. Naluri saya secara tegas menolaknya. Saya menyampaikan dengan cara sehalus mungkin kepada Ibu saya, dan ia pun menerimanya dengan bersabar.

Selang beberapa lama, saya lalu berpikir. Saya jelas akan hidup berdampingan dengan orang tua saya, terutama Ibu, untuk waktu yang lama, mungkin ada baiknya saya mempelajari Islam sebagaimana dipahami oleh seorang Muslim. Demikianlah saya mentuluskan niat saya untuk mempelajari Islam dengan harapan saya bisa mengerti bagaimana seorang Muslim memahaminya. Sama sekali tidak terbersit dalam benak saya untuk pindah agama ataupun menodai Islam. Saya hanya sebatas ingin memahaminya.

Saya membaca beberapa literatur. Saat ini saya sendiri sudah lupa buku apa saja yang saya baca mengenai Islam, tapi sejauh ingatan saya, ada beberapa buku mengenai Allah, Asma ul-Husna, biografi Muhammad saw, sirah nabawiyah, dan beberapa buku lainnya yang saya lupa. Ada hal yang menarik perhatian saya, yaitu bagaimana Muslim memahami konsep ketuhanan yang demikian sederhana dan mudah. Allah Ta’ala. Tidak ada yang lain. Hanya Allah yang merupakan kemutlakan dan yang lain adalah fana. Sebuah pemahaman yang bagi saya di kala itu adalah pemahaman yang revolusioner. Sangat radikal mengubah dan menggugah cara saya memahami Islam dan agama saya ketika itu.

Mulailah saya melakukan perbandingan antara Islam dengan agama saya. Dari mulai konsep ketuhanan hingga ajaran-ajaran yang sebelumnya saya tidak ragukan kebenarannya.

Ketuhanan dalam Islam sungguh berbeda dengan ketuhanan dalam ajaran Katholik, walaupun sepengetahuan saya ajaran kedua agama dikatakan berasal dari sumber Tuhan yang sama. Sulit bagi saya untuk menerima pemahaman seperti itu karena keduanya jelas memiliki Tuhan yang sama sekali berbeda. Yang satu memiliki Tuhan yang Tunggal dan tidak terbelah, tidak ada satupun yang menyamai-Nya. Gambaran akan kesempurnaan yang sangat layak untuk dinisbatkan kepada sosok Tuhan itu sendiri. Sedangkan yang lainnya memiliki pemahaman bahwa Tuhan itu dapat terbelah dan turun ke Bumi, menjadi Roh Kudus, dan sekaligus secara terpisah menjadi manusia yang memberikan ajaran kepada ummat perihal agama.

Wait a second, did I describe that one right? Yup. Sesosok Tuhan yang demikian rentannya dan memiliki kebutuhan yang demikian tinggi terhadap manusia sehingga Dia turun ke Bumi untuk mengajarkan manusia agama-Nya dan menjadikan diri-Nya sendiri sebagai manusia sekaligus Roh Kudus. Dan inilah pertama kali saya meragukan doktrin Trinitas karena mulai terbersit secercah kebingungan dalam akal saya untuk memahami Tuhan yang selama ini saya sembah.

Awalnya saya juga berusaha memahami perbedaan ajaran dari kedua agama, namun setelah menemukan adanya perbedaan mencolok pada konsep ketuhanan pada keduanya maka saya fokuskan perhatian saya pada konsep ketuhanan ini. Semakin saya pusatkan perhatian saya, semakin banyak bahan yang saya temukan untuk menjadi perbandingan. Hingga suatu saat saya terpikir untuk mencoba melihat pandangan seorang ulama Muslim terhadap ajaran agama saya. Mulailah saya bergelut dan bertemu dengan buku dan rekaman CD dari tokoh-tokoh ulama yang sering berdebat dengan pendeta dari agama saya. Nama yang sangat menarik perhatian saya adalah Ahmad Deedat -rahimahullah-, karena sebelumnya saya upayakan untuk membaca terlebih dahulu latar belakang beliau. Lalu saya juga baca pengakuan dari Irena Handono yang sempat heboh waktu itu.

Argumentasi al-ustadz Ahmad Deedat sangat mendalam. Beliau fasih dalam bahasa Yunani, dan Bible tertua dinyatakan tertulis dalam bahasa Yunani. Menariknya adalah beliau bersemangat mempelajari bahasa Yunani, secara khusus untuk mempelajari Bible. Dengan retorika berpikir yang mengagumkan dan pesona seorang ulama cerdas, tidak sulit bagi saya untuk memahami apa yang dikatakannya mengandung kebenaran. Namun, saya tidak semudah itu menyerah dengan agama saya, setidaknya dengan pemahaman Kristen. Pandangan saya, jika bukan Katholik mungkin Protestan benar.

Tidak perlu waktu lama bagi saya untuk menyudahi pembenaran saya terhadap ajaran Protestan. Pada dasarnya, Protetan adalah liberalisasi ajaran Katholik dan doktrin Vatikan. Sehingga keduanya memiliki konsep ketuhanan yang mirip dan serupa. Jika saya meragukan kebenaran konsep ketuhanan dari doktrin Vatikan, barang tentu saya juga meragukan doktrin liberalisasi yang dibungkus dengan gula-gula pemanis dari Gereja Protestan. Selesailah sudah. Namun sekali lagi, kesombongan seorang manusia memang tidak terukur. Saya tetap menolak kebenaran yang datang dari Islam. Ada sebongkah gengsi dalam diri saya yang mewajibkan saya untuk menolak Islam sebagai ajaran yang benar, yang sejujurnya saya pun tidak mengerti kenapa.

Tinjauan Sejarah Akan Kebenaran

Satu hal yang menarik dari pengakuan Irena Handono adalah beliau juga mencantumkan dasar-dasar sejarah perkembangan ajaran Gereja yang selama ini saya sama sekali buta. Saya yakin, sebagian besar umat Kristiani gagal dalam hal ini terlepas dari apapun alasan mereka. Sebagian menerima doktrin tanpa perlu penjelasan, sebagian merasa cukup dengan apa yang sudah mereka dapatkan sehingga kebenaran bukanlah tujuan.

Beranjak dari situ, saya mulai mencoba melakukan sedikit penelitian sejarah dan menguak apa yang selama ini tersembunyikan dari pengetahuan saya. Perkembangan sejarah ajaran Gereja sangat mengagumkan. Penuh dengan manipulasi dan kepentingan politik. Hal ini menjadikannya sebuah tantangan tersendiri dalam mempelajarinya.

Dimulai dari kematian Yesus, hingga terbentuknya Gereja pertama di dunia yang diakui secara resmi dan diterima sebagai entitas politik, sejarah perkembangan ajaran Gereja bertaburan banyak sekali darah dan kematian. Dari pembantaian umat Nasrani pada masa penjajahan Romawi, hingga berdampak pada diaspora kaum Yahudi ke seluruh penjuru dunia, kemudian berujung pada pembantaian umat Nasrani yang memiliki pemahaman tauhid oleh umat Kristiani yang memiliki pemahaman Trinitas yang didukung oleh kekuasaan politik yang ada saat itu. Barulah kemudian Gereja terbentuk dengan satu pemahaman dan satu doktrin akan ketuhanan, Trinitas.

Satu hal yang baru saya ketahui belakangan adalah bahwa ada Gereja Unitarian yang memiliki pemahaman tauhid, bahwa Tuhan adalah satu dan Yesus adalah nabi yang diutus untuk kaum Yahudi. Gereja ini menolak dakwah dari Paulus yang mengusung ide Trinitas. Menariknya adalah Gereja Unitarian ini berkalang tanah akibat pembantaian dari kelompok Trinitas, beberapa ratus tahun sebelum lahirnya Muhammad saw.

Selain itu, fakta sejarah menunjukkan ada perubahan signifikan dari ajaran Kristen sebelum terbentuknya Gereja Trinitarian dengan setelah terbentuknya Gereja tersebut. Perubahan tersebut berasal dari doktrin awal yang dikeluarkan secara konsensus oleh Gereja Trinitarian, seperti Yesus adalah Tuhan atau bagian dari ketuhanan, hari Natal dan kepausan sebagai perwakilan Tuhan di dunia. Perubahan yang mengubah drastis peta perpolitikan Eropa di masa yang akan datang. Semua riset ini saya dapatkan dari berbagai sumber yang saya usahakan senetral mungkin. Tidak mungkin anda mendapatkan kebenaran seperti ini dari sumber resmi Gereja.

Dan semua fakta ini berujung pada beberapa kesimpulan yang berulang, bahwa ajaran Gereja adalah ajaran yang sudah terkooptasi dengan pemahaman pagan Romawi dan Islam adalah benar. Namun sekali lagi, saya merasa kekurangan.

Bible dan Qur’an

Lalu mulailah saya beranjak dari riset sejarah tersebut ke satu hal yang lebih dapat meyakinkan saya, yaitu Bible itu sendiri. Kitab suci yang sebelumnya saya yakini sebagai kumpulan dari firman Tuhan sendiri dan diperuntukkan kepada manusia. Dan Qur’an, sebuah kitab yang janggal dan aneh menurut saya karena tata urutannya yang seringkali melompat dari sebuah kisah ke kisah yang lain, lalu kemudian kisah tersebut kemudian diulang kembali pada tempat yang berbeda dengan redaksi yang hampir sama. Belum lagi gaya bahasa yang digunakan oleh Al Qur’an yang sedikit rumit untuk dipahami.

Namun semua itu berujung pada pemahaman saya akan bahasa Al Qur’an dan gaya bahasa Al Qur’an yang unik. Satu-satunya yang menurut saya adalah merupakan kehebatan mutlak dari Al Qur’an, bahwa Al Qur’an adalah sepenuhnya firman Allah Ta’ala. Sangat berbeda dengan Bible yang merupakan riwayat dari kisah yang diceritakan secara turun temurun kemudian dituliskan sehingga mirip dengan anda membaca sebuah dongeng sebelum tidur. Tepat sekali, dongeng sebelum tidur. Kisah yang disusun secara kronologis dan terurut dari peristiwa ke peristiwa. Yang kemudian berujung pada sebuah pertanyaan, apakah mungkin Tuhan menuturkan cerita-cerita ini kepada para nabi? Jelas tidak.

Logika akal sehat kita, jika bekerja, akan mencoba mengurutkan alur pewahyuan dan bagaimana kira-kira wahyu tersebut akan tertulis. Bible sangat gagal dalam hal ini. Sebuah penelitian dari para pakar teologis, Bible dengan seluruh isinya hanya mengandung kurang dari 20% firman Tuhan. Yang artinya, lebih dari 80% adalah narasi pemaparan dari orang yang mengisahkan riwayat tersebut hingga akhirnya dituliskan. Fakta ini kemudian berujung kepada sebuah pertanyaan lagi, siapakah orang-orang yang meriwayatkan dan menuliskan segala sesuatu yang ada dalam Bible?

Kembali saya melakukan penelitian mengenai penulis Bible. Dengan berdasarkan pada pertimbangan jarak rentang waktu, maka saya khususkan pada Perjanjian Baru. Asumsi saya adalah Perjanjian Lama sudah terlalu jauh jarak rentang waktunya sehingga tidak memungkinkan tercatat secara detail mengenai periwayat dan penulisnya. Saya mengambil dari beberapa situs, termasuk situs resmi Gereja, situs kaum atheis yang skeptis terhadap Bible, situs berita yang cenderung netral yang mendokumentasikan sejarah penemuan Bible dan penelitian ilmiah terhadap Bible. Yang mencengangkan saya adalah adanya kurun waktu yang terpaut cukup jauh antara kematian Yesus di kayu salib, dengan penulisan The Four Gospel. Memang, Yesus tidak pernah memerintahkan penulisan terhadap apa yang diajarkan kepada muridnya. Dan berdasarkan fakta bahwa para muridnya adalah nelayan dengan pendidikan rendahan, hanya satu diantara mereka yang bisa menulis.

Sejarah juga mencatat perkiraan kematian para murid Yesus hanya berselang beberapa tahun dari kematian Yesus. Pembantaian oleh kekaisaran Romawi yang takut akan pemberontakan dengan dimotori oleh kaum Yahudi yang membenci ajaran Yesus. Lalu siapakah yang menuliskan The Four Gospel? Ada berbagai teori mengenai ini, dan tidak ada satupun teori yang menyatakan kalah murid Yesus langsung yang menuliskan The Four Gospel, kecuali teori dari Gereja tentunya yang sangat minim pendukung bukti ilmiah. Sampai disini, jelas bahwa The Four Gospel adalah karangan dari seseorang yang mungkin mendapatkan ajaran Kristen, dua atau tiga generasi, setelah 12 murid Yesus tersebut. Tapi siapa? Sejarah tidak mampu mengungkapkan sebuah namapun. Akhirnya, dari sekian banyak kitab yang tercakup dalam Bible, hanya surat-surat dari Paulus yang dapat dibuktikan otentitasnya.

Kebenaran Adalah Mutlak

Kesimpulan terakhir menutup semua keraguan saya akan ajaran Kristen. Ada sebuah kepastian, yang didasari penemuan dan bukti ilmiah, tes laboratorium, tinjauan sejarah, kebudayaan dan faktor sosial, bahwa apa yang ada dalam Bible tidak dapat dinyatakan sebagai firman Tuhan. Sungguh keadaan yang sangat berbeda dengan Al Qur’an.

Konsep ketuhanan dalam Islam, otentitas sumber ajaran dan Kitab Suci seharusnya sudah cukup untuk menjelaskan mana ajaran agama yang terlindungi dan berasal dari satu Tuhan yang Mutlak, satu kebenaran yang mutlak. Kesederhanaan konsep ketuhanan yang sangat mudah dicerna oleh akal, lalu ajaran yang terlindung dari penyimpangan karena ada parameter yang jelas akan penyimpangan, yaitu Al Qur’an yang otentik dan tidak berubah.

Itulah jawaban dari pertanyaan di awal artikel ini.

10 pemikiran pada “Mengapa Islam?

  1. jadi antum belajar sendiri? sepenuhnya? pernah nggak terbersit kekhawatiran, “ah, jangan2 pemahamanku ttg bibel salah nih. aku tanya pada pendeta2 dan rahib2ku deh”?

    adakah da’i/ustadz yg kemudian datang pada antum utk jelaskan Islam? atau antum sendiri yg datang pada mereka? apa materi yg mereka berikan pada antum? gimana cara mereka menjelaskan?

    afwan ya, kebanyakan nanya. sebenernya ada lagi nih. tapi disimpen dulu deh. penasaran aja pas kemarin malam mikir2.🙂

    1. pada dasarnya, iya, ana belajar sendiri. sekarang ana melihat itu sebagai salah satu kesalahan ana karena dengan begitu ana malah kurang memahami Islam sebagaimana seharusnya. karena sebagian pemahaman yang ana dapat mengenai Islam, murni dari buku. bahkan ana belajar shalat itu menggunakan Fiqh Sunnah Sayyid Sabiq, pada awalnya.

      untuk pemahaman mengenai Trinitas, insya Allah ana cukup paham bahkan ketika itu. tidak terlalu rumit sebenarnya untuk memahaminya, hanya saja sangat tidak masuk akal. ini yang menjadi permasalahan besarnya buat ana.

      ana ga pernah belajar Islam sebelumnya kecuali dari buku. ga punya guru, ustadz atau siapapun yang membina atau memandu pemahaman ana sendiri. baru pada tahun 2010, ana mulai ngaji. dan ini benar-benar mulai dari a-ba-ta-tsa. ya itulah salah satu kekurangan dari proses masuk Islam ana, tidak ada yang bina.

  2. wah, baru tau ane ente dulunya kristen. welcome back deh bro… hehehe… di benua eropa dan amerika biasanya yang dipake konsepnya bukan convert tapi revert, alias kembali ke asalnya.

  3. Baarokallah Bang Iqbal.Mantap.Seperti status Antum di twitter,”Qul Aamantu Billah Tsumma Istaqim!”

  4. Wah..akhirnya tau juga ceritanya..padahal dulu pernah nanya cuman belum sempet djawab.
    Subhanallah,,ternyata antum belajar sendiri ya akh,,barakallahu fiik..semoga Allah selalu menjaga aqidah antum supaya tetap lurus..btw..sy share ya,,😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s