Pemikiran

Memahami Agnostisisme

Agnostisisme adalah suatu pandangan filosofis bahwa suatu nilai kebenaran dari suatu klaim tertentu yang umumnya berkaitan dengan teologi, metafisika, keberadaan Tuhan, dewa, dan lainnya yang tidak dapat diketahui dengan akal pikiran manusia yang terbatas.

Seorang agnostik mengatakan bahwa adalah tidak mungkin untuk dapat mengetahui secara definitif pengetahuan tentang “Yang-Mutlak”; atau dapat dikatakan juga, bahwa walaupun perasaan secara subyektif dimungkinkan, namun secara obyektif pada dasarnya mereka tidak memiliki informasi yang dapat diverifikasi. Dalam kedua hal ini maka agnostikisme mengandung unsur skeptisisme.

Agnostisisme berasal dari perkataan Yunani gnostein (tahu) dan a (tidak). Arti harfiahnya “seseorang yang tidak mengetahui”.

http://id.wikipedia.org/wiki/Agnostisisme

Demikianlah arti secara harfiah dari kata agnostik menurut Wikipedia.org, yang akan kita telaah dalam artikel ini bagaimana agnostik itu dan bagaimana mereka memahami Tuhan. Membahas ini saya teringat akan seorang teman, atheis dari Yunani, yang mengatakan : “Agnostisisme adalah kebodohan yang sempurna.” Saya setuju dengannya setelah saya pahami apa yang dimaksud dengan agnostisisme itu. Perlu saya akui bahwa saya awalnya agak kesulitan memahami perbedaan yang nyata antara agnostisisme dengan atheisme.

Agnostisisme tidak menyangkal keberadaan Tuhan secara mutlak. Mereka beranggapan bahwa keberadaan Tuhan adalah sesuatu yang tidak mungkin dapat dinalar oleh akal manusia, dan konsekuensinya adalah keberadaan Tuhan tidak dapat diketahui dengan cara apapun. Sedangkan atheisme adalah paham yang menyangkal sama sekali keberadaan Tuhan karena tidak dapt dibuktikan secara empiris ataupun logis akan keberadaan-Nya. Dua pemahaman yang sebenarnya sama sekali berbeda. Yang satu tidak berani atau ragu akan keberadaan Tuhan walaupun ia dapat melihat bukti ketuhanan dan yang lain sama sekali menolak bukti keberadaan Tuhan dengan alasan tidak logis. Yang satu adalah ‘kebodohan sempurna’ -meminjam istilah teman saya itu- dan yang lain adalah kesombongan sempurna menurut pendapat saya sendiri.

Mengapa ‘Kebodohan Sempurna’?

Seorang agnostik tidak menyatakan bahwa Tuhan itu ada, walaupun beberapa dari mereka juga meyakini akan keberadaan Tuhan, pada akhirnya. Ia juga tidak akan menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada, karena ia menyadari akan bukti-bukti keberadaan Tuhan.

Bagi yang meyakini bahwa Tuhan itu ada, mereka akan menyangkal bahwa Tuhan menurunkan syariat, ketentuan, hukum untuk manusia. Mereka menolak keberadaan agama apapun yang dinisbatkan kepada Tuhan. Dalam kesimpulan mereka, keberadaan Tuhan tidak berarti keberadaan agama. Bahwa Tuhan ada tidak mengharuskan-Nya menurunkan nabi atau rasul untuk menjelaskan agama untuk ummat manusia. Mereka menilai Tuhan menciptakan semesta alam berikut manusia didalamnya, namun bukan Tuhan yang menetapkan fitrah dari tiap-tiap mahluk-Nya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa agnostisisme menyatakan bahwa Tuhan mungkin menciptakan alam semesta beserta manusia didalamnya, dan beberapa yakin bahwa memang Tuhan yang menciptakan, namun tanpa tujuan untuk apa dan alasan mengapa Tuhan menciptakan itu semua. Atau dengan bahasa yang lebih sederhana, Tuhan ‘iseng’ kemudian menciptakan alam semesta dengan manusia didalamnya.

Mungkin dalam pemikiran mereka, tidak mungkin manusia mengetahui misteri sebesar itu. Artinya Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan ketidaksempurnaan yang fatal atau kembali kepada kesimpulan awal, ‘iseng’. Semoga sampai sejauh ini pertanyaan besar sudah terjawab, mengapa ‘kebodohan sempurna’.

Konsekuensi dari Agnostikisme

Pertama; penyangkalan terhadap agama apapun yang berkembang. Atau penerimaan terhadap semua agama sekaligus karena semuanya mungkin benar. Yang manapun seorang agnostik tidak mungkin dapat menerima doktrin agama, sehingga pada akhirnya ia hanya akan kembali kepada posisinya yang tidak beragama.

Kedua; tak ada tujuan hidup, kecuali untuk dirinya sendiri. Atau mengabdikan diri untuk kemanusiaan namun tanpa memiliki parameter yang baku akan benar dan salah kecuali syahwatnya sendiri. Bahkan benar dan salah akan selalu menjadi sesuatu yang relatif, dan tidak ada yang absolut dalam hidup ini. Kebenaran adalah yang semata-mata nampak di depan mata.

Ketiga; tidak memiliki standar nilai atau moralitas, kecuali syahwatnya sendiri atau konsensus yang diterima oleh masyarakat. Karena kebenaran adalah suatu hal yang relatif, maka standar nilai atau moralitas pun akan menjadi relatif. Perselingkuhan akan dapat dibenarkan dengan alasan yang tepat, ini hanya salah satu contoh.

Dari ketiga poin diatas, terlihat jelas kemiripan antara konsekuensi agnostisisme dengan konsekuensi atheisme terhadap seseorang. Hanya saja ada perbedaan ideologis yang menjadi latar belakang keduanya, sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya. Lalu bagaimana Islam menjawab keraguan dari seorang agnostik?

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. 2:23)

Sederhana saja. Kalau Al Qur’an bukan bukti nyata keberadaan Tuhan yang dapat diterima dengan akal sehat, silahkan menjawab tantangan ini. Kalau tidak bisa memenangkan tantangan ini, jelas berarti klaim Al Qur’an adalah benar dan ternyata keberadaan Tuhan dapat diterima dengan akal sehat dalam kapasitasnya. Perlihatkanlah klaim dari Al Qur’an yang menunjukkan supremasinya diatas akal manusia, sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala :

“Tidaklah mungkin Al Qur’an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Qur’an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.” (QS. 10:37)

Al Qur’an, sebuah bukti nyata yang terang benderang dan menunjukkan kesalahan pola pikir mereka yang didasari oleh asumsi-asumsi manusia tanpa kebenaran sama sekali. Namun jika setelah itu, mereka masih berbantah-bantahan maka selesaikanlah dengan firman Allah Ta’ala :

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka orang-orang lalim itu tidak menghendaki kecuali kekafiran.” (QS. 17:99)

Lalu lakukanlah sebagaimana Allah swt perintahkan dalam firman-Nya :

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.” (QS. 7:199)

Demikianlah selesai kewajiban kita untuk beramar ma’ruf nahi munkar.

Billahi taufiq wal hidayah, wallahu a’lam bish-showab.

23 pemikiran pada “Memahami Agnostisisme

  1. “Mereka menilai Tuhan menciptakan semesta alam berikut manusia didalamnya, namun bukan Tuhan yang menetapkan fitrah dari tiap-tiap mahluk-Nya.” ini bukan agnostik… tapi Deis..

  2. “Yang tiadak tahu Tuhan, tidak mampu membicarakan eksistensi Tuhan…
    Yang tahu Tuhan, juga tidak mampu membicarakan eksistensi Tuhan…”
    Hanya Tuhanlah yang mengetahui eksistensiNya itu sendiri…
    Jiwa yang sampai pada keilahian bukanlah suatu hal yang bersifat fana, karena tidaklah mungkin dimensi yang kasar mampu “disatukan” dengan dimensi yang maha halus (kecuali dimensi itu ada pada dimensi yang sama); itu artinya Siapa yang mengenal Tuhannya maka fanalah dimensi kasarnya). Jika demikian manusia (sesuatu yang bedmensi kasar atau alam) tidak akan pernah bisa mengetahui atau memahami Tuhan (bagi “orang-orang yang tunduk” itu pun hanya mengetahui/memahami Tuhan dari Kitab dan Orang-orang Suci tanpa berani mengkritisi: sehingga menjadi dogma. Orang-orang seperti ini menurut sabda Nabi Muhammad SAW belumlah termasuk dalam katagori orang yang beriman, melainkan baru termasuk dalam katagori orang-orang yang tunduk). Iman itu adalah rasa, yang hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang jiwanya terkoneksi dengan dimensi yang Maha Halus itu.
    Oleh karena itu pulalah, eksistensi Tuhan itu tidak mampu dibicarakan dan dipahami secara logika!.
    “Ia melain dari apa yang ada!”, itu artinya: apa pun kata yang digunakan terhadap eksistensi Tuhan itu jelas akan salah, karena manusia hanya mampu memaknai suatu kata dari penghayatan dan pengalamannya selaku manusia…
    Logika hanyalah awal dari kebertuhanan… (oleh karena itu Tuhan tidak ditemukan di sini) dan disinalah orang-orang Agnostik dan Atheis terperangkap!.
    Iman itu ada di hati (bukan hati sebagaimana dimaksud ilmu anatomi atau medis). Iman itu pemberian… yang lebih beharga dari langit dan bumi…
    Tiada sedikitpun keraguan di dalamnya…

    Wassalam….

  3. Ini alasan saya jadi Agnostik, orang beragama bisanya menjelek2 kan, mengungkapkan kebenaran dengan menghina dan menjelekan yg lain.
    Anda melarang orang lain merokok tapi ente sediri merokok?
    Menurut agnostik: Tuhan itu universal tidak terkotak2, tuhan menciptakan semua alam semesta itu saja, tentang hal2 yg kecil seperti nasib, pemikiran2, budaya, agama dan ide2 lain itu urusan masing2 (pernah dengan tentang ustad bilang: hanya umat yg bisa merubah nasibnya masing2?).
    Agnostik itu: “BERTUHAN TAPI TAK BERAGAMA” Merka percaya hukum alam: “Menuai apa yg di tanam” (berbuat baik menuai baik juga sebaliknya). Coba nonton DVD the secret,
    Agama biasanya hanya menjelek2kan satu sama lain.

    1. Salahnya anda adalah menilai agama dari praktik/perilaku umat beragama, bukan dari apa yang mereka ajarkan secara utuh. Anda melihat manusia sebagai mahluk dengan kemampuan luar biasa, namun gagal melihat kelemahan dan kealpaan mereka secara wajar. Sebaliknya anda melihat kelemahan dan kealpaan tersebut sebagai sebuah kesalahan sehingga anda menafikan peranan Tuhan dalam kelemahan dan kealpaan manusia tersebut. Ini juga merupakan kesalahan yang berpangkal dari dilusi anda mengenai Tuhan, agama dan mahluk-Nya.

      Anda mengatakan bahwa umat beragama saling menghujat satu sama lain dan menjelekkan satu sama lain, namun anda tidak melihat di sisi lain, umat beragama telah hidup selama berabad-abad peradaban manusia dengan berdampingan. Ini harusnya dapat menjadi pertimbangan apakah salah agama atau tabiat manusia itu sendiri yang menyebabkan mereka saling bermusuhan.

      Kontradiksi anda adalah, anda tidak melihat bahwa agnotisisme itu sendiri adalah sebuah agama walaupun tanpa syari’at. Dan anda sendiri sedang menghujat umat beragama lain saat ini dalam komentar anda. Jadi, apakah menjadi agnostik menghindari anda dari menghujat umat beragama lain? Komentar anda berikan jawaban yang sangat berbeda dengan alasan anda memilih agnostik.

      Sebagaimana dalam artikel ini disebutkan, kebodohan yang sempurna.

  4. Tuhan itu universal tidak terkotak2, tuhan menciptakan semua alam semesta itu saja (bintang, galaksi.. planet dan se isinya)
    Tentang hal2 yg kecil seperti nasib, pemikiran2, budaya, agama dan ide2 lain itu urusan masing2 (pernah dengan ustad bilang: hanya umat yg bisa merubah nasibnya masing2?).. jelas sekali di isaratkan disana Tuhan menciptakan apa.
    Gampangnya gini, Tuhan menciptakan Hardware (terdiri dari triliunan galaksi, bintang dngn sistem tata surya, planet dan seisinya termasuk manusia dan mikroba).
    Sedangkan software di samakan dengan dengan nasib, manusialah yg ciptakan (budaya, agama, pemikiran, sistem negara, ide2, hasil karya dll)
    Agama untuk mencerahkan katanya tapi nyatanya saling menghujat bahkan sling membunuh, sepertinya agama untuk kebaikan hanya ungkapan saja, kenyataan? jauhhhh.
    Bila tujuan anda untuk hidup lebih baik tidaklah cocok bagi anda untuk berAgama krn akan bertabrakan dengan hukum alam “Menuai apa yang di tanam”
    Tuhan itu hanya tentang kebaikan tentang hukuman biarkan negara yg urus (KUHP).
    masih banyak sih hal2 lain yg akan panjang di tulis
    pertanyaan:
    Apakah Tuhan perlu di bela?
    Kalau perlu di bela betapa tidak mampunya tuhan?
    Bila bumi musnah di rusak manusia apa Tuhan tidak punya bumi lain?
    Bila umat manusia musnah tuhan masih ada atau ikut musnah? kalau pun tuhan masih ada apa dia menangisi manusia krn tidak ada sanjung2? atau Tuhan strest tidak ada yg sebut namanya?
    “Atau bahkan bila umat manusia musnah jangan2 tuhan ikut musnah?..krn Tuhan hanya ada di otak manusia (hasil dr sebuah ide)”
    Agama=memanusiakan tuhan

  5. Astaghfirulloh saya bodoh sempurna, subhaanaka laa ‘ilma lanaa illa maa ‘allamtana innaka anta al-‘aliimul hakiim.
    Terima kasih pencerahannya..

  6. “Agnostisisme tidak menyangkal keberadaan Tuhan secara mutlak. Mereka beranggapan bahwa keberadaan Tuhan adalah sesuatu yang tidak mungkin dapat dinalar oleh akal manusia, dan konsekuensinya adalah keberadaan Tuhan tidak dapat diketahui dengan cara apapun. Sedangkan atheisme adalah paham yang menyangkal sama sekali keberadaan Tuhan karena tidak dapt dibuktikan secara empiris ataupun logis akan keberadaan-Nya. Dua pemahaman yang sebenarnya sama sekali berbeda. Yang satu tidak berani atau ragu akan keberadaan Tuhan walaupun ia dapat melihat bukti ketuhanan dan yang lain sama sekali menolak bukti keberadaan Tuhan dengan alasan tidak logis. Yang satu adalah ‘kebodohan sempurna’ -meminjam istilah teman saya itu- dan yang lain adalah kesombongan sempurna menurut pendapat saya sendiri.”

    ===================================================================

    hahaha…memahami definisi agnostik saja masih salah, kok sudah setuju agnostik itu kebodohan sempurna

    agnostik itu ada agnostik atheist, ada agnostik theist. agnostik atheist adalah orang yang secara keyakinan tidak percaya adanya Tuhan atau adanya pencipta Alam Semesta namun tidak mengklaim secara ilmu pengetahuan bahwa Tuhan atau Pencipta Alam Semesta itu ada atau tidak ada

    sedangkan agnostik theism adalah orang yang secara keyakinan percaya bahwa Tuhan atau pencipta alam semesta itu ada namun tidak mengklaim secara ilmu pengetahuan bahwa Tuhan atau pencipta alam semesta itu ada atau tidak ada

    atheist adalah orang yang secara keyakinan tidak percaya adanya Tuhan dan mengklaim secara ilmu pengetahuan bahwa Tuhan itu tidak ada

    theist atau orang-orang beragama seperti anda adalah orang yang secara keyakinan percaya adanya Tuhan dan mengklaim secara ilmu pengetahuan bahwa Tuhan itu ada….

    sudah paham? agnostik bukan seperti gambaran anda pada kalimat ini :

    “Yang satu tidak berani atau ragu akan keberadaan Tuhan walaupun ia dapat melihat bukti ketuhanan” <<<<< agnostik bukan seperti kalimat ini, apalagi anda menuliskan

    "walaupun ia dapat melihat bukti ketuhanan" <<<< lucu sekali kalimat ini, karena anda sendiri mengartikan agnostik itu seperti apa… hahaha

    ====================================================================
    "Seorang agnostik tidak menyatakan bahwa Tuhan itu ada, walaupun beberapa dari mereka juga meyakini akan keberadaan Tuhan, pada akhirnya. Ia juga tidak akan menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada, karena ia menyadari akan bukti-bukti keberadaan Tuhan."
    ====================================================================

    menyadari bukti-bukti keberadaan Tuhan, makanya pahami dulu, agnostik tidak mengklaim secara ilmu pengetahuan bahwa Tuhan itu ada atau tidak. Yang merasa "bukti" itu adalah orang-orang theist atau orang-orang beragama seperti anda. "bukti" disini adalah klaim dari anda, orang-orang beragama, yang berasal dari ajaran keyakinan, ajaran dogma agama anda namun klaim anda tidak memiliki kebenaran secara ilmiah, tidak diuji secara empiris melalui metode ilmiah. yang anda klaim sebagai "bukti" dimata para agnostik tidak lebih hanyalah bentuk keyakinan anda.

    lalu apa kami para agnostik menganggap bahwa keyakinan anda itu salah. Tidak! kami tidak mengklaim bahwa keyakinan anda itu benar atau salah. Yang bilang keyakinan anda itu salah adalah mereka yang Atheist murni, mereka yang Atheist murni ini juga mengklaim memiliki "bukti" bahwa Tuhan itu tidak ada.

    ==========================================================================
    "Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa agnostisisme menyatakan bahwa Tuhan mungkin menciptakan alam semesta beserta manusia didalamnya, dan beberapa yakin bahwa memang Tuhan yang menciptakan, namun tanpa tujuan untuk apa dan alasan mengapa Tuhan menciptakan itu semua. Atau dengan bahasa yang lebih sederhana, Tuhan ‘iseng’ kemudian menciptakan alam semesta dengan manusia didalamnya.

    Mungkin dalam pemikiran mereka, tidak mungkin manusia mengetahui misteri sebesar itu. Artinya Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan ketidaksempurnaan yang fatal atau kembali kepada kesimpulan awal, ‘iseng’. Semoga sampai sejauh ini pertanyaan besar sudah terjawab, mengapa ‘kebodohan sempurna’."
    ==========================================================================

    kalimat diatas hanyalah interpretasi atau penafsiran anda sendiri didasarkan pengetahuan yang salah akan arti agnotisme.

    ==========================================================================
    Pertama; penyangkalan terhadap agama apapun yang berkembang. Atau penerimaan terhadap semua agama sekaligus karena semuanya mungkin benar. Yang manapun seorang agnostik tidak mungkin dapat menerima doktrin agama, sehingga pada akhirnya ia hanya akan kembali kepada posisinya yang tidak beragama.
    ==========================================================================

    kami menghormati orang lain yang memiliki agama atau tidak. kami menghormati orang lain yang ingin menjalakan hak-hak beragamanya, kami menghormati mereka yang ingin menjalankan kegiatan-kegiatan beragamanya namun kami tidak mengklaim bahwa tuhan pada ajaran agama itu ada atau tidak ada, kami tidak mengklaim ajaran agama itu paling benar dimuka bumi atau paling salah dimuka bumi. kami tidak mengklaim!

    =============================================================================
    Kedua; tak ada tujuan hidup, kecuali untuk dirinya sendiri. Atau mengabdikan diri untuk kemanusiaan namun tanpa memiliki parameter yang baku akan benar dan salah kecuali syahwatnya sendiri. Bahkan benar dan salah akan selalu menjadi sesuatu yang relatif, dan tidak ada yang absolut dalam hidup ini. Kebenaran adalah yang semata-mata nampak di depan mata.
    =============================================================================

    orang tidak beragama bukan berarti tidak punya tujuan hidup. sempit sekali pemikiran seperti itu. orang agnostik sama seperti theist atau atheist lainnya, pada dasarnya memiliki tujuan hidup yang sama, ingin sukses berkarir, ingin memiliki penghasilan yang mapan, ingin memiliki istri yang baik, istri yang setia, ingin memiliki anak, ingin membangun keluarga yang harmonis, ingin membangun keluarga yang langgeng, ingin membantu orang-orang yang tidak mampu, ingin membantu anak-anak yang terlahir dikeluarga miskin supaya mereka bisa mengenyam pendidikan layak hingga sarjana, supaya mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik ketika sakit, supaya mereka bisa mendapatkan asupan gizi dan nutrisi yang baik, ingin membantu anak-anak yang terlahir dikeluarga miskin tersebut agar punya peluang yang sama dengan anak-anak yang terlahir dikeluarga mampu supaya mereka bisa keluar dari jerat kemiskinan. tujuan hidup seperti ini tidak bergantung punya agama atau tidak!

    ==========================================================================
    Ketiga; tidak memiliki standar nilai atau moralitas, kecuali syahwatnya sendiri atau konsensus yang diterima oleh masyarakat. Karena kebenaran adalah suatu hal yang relatif, maka standar nilai atau moralitas pun akan menjadi relatif. Perselingkuhan akan dapat dibenarkan dengan alasan yang tepat, ini hanya salah satu contoh.
    ==========================================================================

    lagi-lagi seperti sebelumnya anda menafsirkan sendiri tanpa obyektifitas yang jelas. didalam pemikiran anda kami ini sepertinya hanyalah orang yang buruk. kami juga memiliki emosi dan perasaan seperti anda, siapa yang mau diselingkuhi ? adakah orang yang rela diselingkuhi orang yang ia cintai ? kami memiliki perasaan yang sama jika diselingkuhi, kami memiliki perasaan dan akal yang sama bahwa selingkuh itu bukan perbuatan yang baik.

    tidak punya agama bukan berarti tidak punya moralitas. lucu sekali jika anda bersikeras dengan pemikiran seperti itu. moralitas bergantung pada kepribadian seorang individu, kepribadian individu lahir dari pengalaman bagaimana ia dibesarkan, bagaimana orang tuanya mendidik dia, bagaimana lingkungan pergaulan mengajarkannya. ada ibu-ibu hamil tua baru naik ke bus, semua kursi sudah penuh didekatnya ada perempuan berjilbab, perempuan itu sekilas melihatnya namun perempuan tersebut tak mempersilahkan sang ibu yang sedang hamil tua untuk menempati kursinya. saya tanya dimana moralitas orang beragama ini? apakah yang punya agama selalu bermoral baik ? tentu tidak,

    baik buruk, sopan tidak sopan, standar moralitas memang bergantung pada masing individu, walaupun beragama standar moralitas orang pasti berbeda-beda semua tergantung watak dan kepribadian individu tersebut. orang yang lahir dalam kebudayaan jawa, jika melewati orang biasanya membungkukkan badan sambil permisi. jika tidak dianggap tidak sopan. akan berbeda dengan orang yang lahir dikebudayaan batak atau dikebudayaan dayak… budaya ikut menjadi bagian pembentuk bagaimana karakter/kepribadian orang itu, serta bisa menjadi nilai dan tolak ukur… jadi moralitas memang relatif, masih banyak komponen lain, agama, hukum, bahkan pengalaman dan hati nurani sendiri bisa menjadi pembeda standar moralitas yang dipegang antara yang satu dengan yang lain.

      1. Ia membantah salah satu pernyataan saya, kemudian ia memberikan argumentasi atas bantahannya tsb. Lucunya, argumentasi yg ia ajukan justru merupakan hal yang saya angkat dalam pernyataan saya pertama kali. Dengan kata lain, ia membantah dulu lalu kemudian berargumentasi dengan memberikan pembenaran atas pernyataan saya. Sebuah paradoks.

      1. Hehe..sepanjang yg saya baca argumen dari DIMITRI kayaknya tidak ada yg membenarkan argumen anda loh… Kenyataannya saat ini Tuhan memang blm bisa dibuktikan wujudnya (kecuali DIA menunjukkan wujudnya sendiri). Keberadaannya baru bisa dibuktikan lewat logika sebab akibat… Malah dalam sains keberadaan Tuhan belum menunjukkan tanda2 keberadaannya… Jelas saat ini pengetahuan kita sangat terbatas akan segala sesuatunya. Yang konyol itu merasa dirinya paling benar,.. Itulah kebodohan yang sempurna

      2. Hehe..sepanjang yg saya baca argumen dari DIMITRI tidak ada yg membenarkan argumen anda loh… Kenyataannya saat ini Tuhan memang blm bisa dibuktikan wujudnya (kecuali DIA menunjukkan wujudnya sendiri). Keberadaannya baru bisa dibuktikan lewat logika sebab akibat… Malah dalam sains keberadaan Tuhan belum menunjukkan tanda2 keberadaannya… Jelas saat ini pengetahuan kita sangat terbatas akan segala sesuatunya. Yang konyol itu merasa dirinya paling benar,..

  7. iyo sekarang lagi musim keyakinan aneh2,sudah akhir zaman emang, agnostic juga lagi booming makin bertambah penganutnya.
    mereka percaya tuhan tapi gak percaya ajaranya,, nah lho, ih wow!

  8. Moral itu adalah apa2 yang baik bagi kemaslahatan dan tentu saja moral itu harus terus menerus selalu diuji agar sesuai dengan relevansi zaman.

  9. pahami lebih dalam lagi mas apa maksud dari “Menuai apa yg di tanam”? bagaimana anda mengenal TUHAN jika anda saja tidak mengenal apa yang diajarkan tuhan. gampangnya bagaimana anda bisa menulis suatu kalimat tanpa anda memahami dasar dasar yang diajarkan guru anda?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s