Tadabbur

Sepanjang Masa

“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih dan saling bertausiyah kepada kebenaran dan saling bertausiyah kepada kesabaran.” (QS. 103:1-4)

Kumpulan ayat yang sederhana namun memiliki makna yang sangat mendalam dan juga luas. Dibutuhkan pemahaman yang utuh untuk dapat menjalankan surat ini dalam praktik nyata. Al-Imam Asy-Syafi’i mengatakan, “Jika Allah tidak menurunkan hujjah selain daripada surat ini kepada mahluk-Nya, maka sudah cukup,” sebagai gambaran bahwa surat ini mencakup seluruh hujjah untuk manusia sehubungan dengan eksistensi mereka.

Ayat pertama surat ini menjelaskan mengapa¬†Allah swt bersumpah atas nama mahluk-Nya yang memiliki ke-khas-an, keunikkan dari sisi sifatnya, yaitu masa atau waktu. Kesederhanaan namun sangat berarti, yang merupakan salah satu keunikkan penyajian ayat Qur’an.

Masa adalah mahluk yang tidak mengenal jalan mundur, ia hanya memiliki satu jalan yaitu untuk terus maju. Masa juga menggambarkan jangka waktu yang bukan merupakan sebuah keabadian, yang artinya ia akan berakhir sesuai dengan ketentuan Allah swt. Sepanjang sejarah manusia, tidak pernah didapati masa itu berjalan lebih lambat atau bahkan lebih cepat, ia konstan dan stabil sebagaimana telah Allah swt tentukan baginya.

Manusia hidup di dalam jaman yang berubah-ubah, namun pada hakikatnya manusia hidup di masa yang satu itu dan belum pernah mati atau berakhir. Demikianlah ayat pertama ini menegaskan sebuah pemandangan alam yang memiliki nuansa yang serupa dari jaman ke jaman. Ayat ini menjelaskan bahwa surat ini berlaku dari sejak masa itu diciptakan hingga masa itu berakhir. Dari sejak awal jaman hingga akhir jaman.

Lalu dilanjutkan dengan ayat yang didalamnya Allah swt berikan gambaran akan kondisi manusia, secara individu masing-masing. Manusia seringkali lalai dalam menakar dirinya sendiri dan menimbang dirinya, dan Allah swt menyatakan kondisi manusia secara jujur, polos dan sederhana, bahwa keadaan mereka adalah keadaan yang merugi.

Disini kita melihat pentingnya bagi diri kita untuk mulai menimbang diri kita sendiri. Muhasabah adalah pintu hati yang harus selalu terbuka. Dengan muhasabah, manusia belajar untuk mengkritik dirinya ketika salah dan mengoreksi ketidaksempurnaan diri mereka. Mereka yang menganggap remeh muhasabah adalah mereka yang terjangkit oleh virus kesombongan dalam hati mereka. Padahal mereka tidak lebih dari mahluk Allah swt yang penuh dengan cela dan dosa.

Muhasabah adalah menimbang pada posisi apakah iman kita berada dan bagaimana kondisi timbangan amal dan dosa kita. Amirul Mukminin Umar bin Khaththab ra pernah berwasiat kepada kita agar senantiasa menakar diri kita, menimbang amal dan dosa, dan menghisab jiwa kita. Karena pada akhirnya diri kita akan dihisab kelak, dan merugilah orang yang telat menyadari bahwa timbangan dosanya lebih berat daripada pahala dari amalnya.

Ujung dari muhasabah adalah taubat dari maksiat dan kembali kepada jalan Allah swt. Seorang yang cerdas tentu akan mengharapkan surga Allah swt, dan ketika ia merasa posisi amalnya sedikit, maka ia akan bergerak untuk beramal. Ketika ia merasa bahwa amalnya cukup, maka ia akan terus berupaya menambah amalnya dan menghindari ujub dan takabur.

Sebagai upaya menimbang dan menghisab diri, tentu diperlukan parameter yang jelas dan baku dalam bermuhasabah. Tanpa adanya parameter ini, tentu timbangan bisa memiliki standar yang ganda dan bahkan disesuaikan dengan syahwat. Namun Allah swt memberikan jawabannya kepad kita, yaitu iman. Dengan iman yang utuh maka pertimbangan benar atau salah tidak lagi menjadi satu hal yang relatif. Iman adalah yang membakukan persepsi setiap Muslim dalam hal apapun, hingga jelas baginya mana yang benar dan mana yang baik.

Ayat selanjutnya memberikan kita persepsi yang kontras dengan ayat sebelumnya, bahwa tidak semua manusia dalam keadaan merugi. Adalah Allah swt Yang Mahapengasih dan Mahapenyayang memberikan rahmat-Nya kepada kita dan mengharamkan kedzaliman dari-Nya atas hamba-Nya. Bahwa ada diantara mahluk-Nya yang untung, sebuah posisi yang jelas lebih kita inginkan. Namun ada kondisi yang perlu dipenuhi oleh seorang hamba hingga ia dapat mengganti kerugian itu denga keuntungan yang nyata.

Beriman kepada Allah swt dan Rasul-Nya. Iman yang dilandasi oleh ilmu yang membawa manusia pada kesadaran penuh akan dosa-dosanya dan ketidakberdayaan dirinya sendiri. Iman yang berasal dari perenungan akan hakikat dirinya dan kesadaran akan Mahakuasa-nya Allah swt. Beranjak dari muhasabah hingga ke taubat dengan kembali menguatkan iman akan Allah swt dan Rasulullah swt.

Namun iman adalah satu hal yang sia-sia tanpa adanya amal yang nyata. Karena konsekuensi dari keimanan adalah amal, sebagaimana dikatakan oleh Sayyid Quthb dalam tafsir Fi Dzilal bahwa agama ini adalah manhaj ibadah. Dan ibadah adalah ketaatan mutlak kepada siapa yang diibadahi. Keimanan kepada Allah swt menuntut setiap Muslim untuk kemudian taat secara mutlak kepada Allah swt, beribadah kepada Allah swt sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw kepada kita. Inilah agama yang lurus itu.

Tidak berhenti sampai disitu, iman juga menuntut setiap Muslim untuk menyerukan kebenaran akan Allah swt dan agama yang diridhai-Nya ini. Para nabi dan rasul as mencontohkan kehidupan seorang da’i yang menyeru kepada umat mereka masing-masing kepada kebenaran dan mengingkari kesyirikan. Bahwa ibadah adalah hanya untuk Allah swt dan satu-satunya syariat adalah syariat yang diturunkan oleh Rabbul ‘alamiin. Dakwah adalah bagian dari konsekuensi keimanan kepada Allah swt sebagaimana telah dicontohkan oleh para Muslimin pendahulu kita.

Dan yang terakhir adalah untuk saling menasehati agar senantiasa bersabar. Kesabaran adalah keteguhan hati, dan setiap insan yang berjalan di jalan agama yang lurus ini akan selalu menemui godaan dan aral rintangan. Kesabaran adalah jawaban sekaligus bagian konsekuensi dari keimanan. Dengan menahan diri, kita belajar untuk menjadi sosok yang tegar dan kokoh.

Kaum beriman adalah kaum yang satu, bagian yang ini adalah bagian bagi yang lain. Luka di satu bagian merupakan luka bagi yang lain. Dalam ayat ini terlihat jelas nuansa ini, kekentalan ukhuwah yang melebihi kentalnya darah atau minyak. Saling bertausiyah akan kesabaran antara satu ikhwah dengan ikhwah yang lain. Bahwa beban dakwah adalah beban bersama, bukan beban sebagian golongan saja. Perlulah kita pertanyakan keimanan dari seseorang yang lalai dalam menerima tanggung jawab ini dipundaknya, lalu kemudian berdalih atas nama golongan atau nasab.

Rumusan surat ini berlaku dari sejak masa diciptakan oleh Allah swt, dan hanya akan berakhir ketika Allah swt menentukannya bagi masing-masing kita. Ayyuhal ikhwah, mari kita resapi ayat demi ayat dalam Al-Qur’an yang agung ini agar dapat menjadi manfaat bagi diri kita di dunia terutama di akhirat kelak. Semoga kita dapat menjadi bagian dari ummat yang Allah swt berikan kenikmatan atas mereka. Aamiin ya Robbal ‘alamiin.

Billahi taufiq wal hidayah, wallahu a’lam bish-showab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s