Tausiyah

Bashirah Seorang Zaid bin Harits

Pernahkah kita bayangkan hidup sebagai seorang budak? Sebagai seseorang yang tidak memiliki hak sebagaimana manusia pada umumnya. Seorang budak hanya memiliki kewajiban, dan karenanya posisi seorang budak tidak lebih tinggi dari seekor hewan jika tidak lebih rendah. Sampai dia dibebaskan oleh tuannya, begitulah kehidupan seorang budak. Bisa jadi, adalah impian seorg budak utk bisa dibebaskan. Bisa jadi, kebebasan adalah mimpinya yang terindah.

Kisah salah seorang sahabat yang mulia, Zaid bin Harits ra, yang merupakan seorang budak yang dibeli oleh Khadijah ra dan kemudian diberikan kepada Muhammad Saw sebelum kenabiannya. Zaid ra menjadi budak sejak ditawan pada umur 8 tahun. Belasan tahun Zaid ra hidup menjadi budak dari seorang Muhammad Saw, dan selama itu pula ia merasakan bagaimana keagungan akhlak dari tuannya itu.

Zaid ra pernah memiliki kesempatan untuk merdeka, ketika orgtuanya menjemputnya dari rumah Rasulullah Saw. Rasulullah Saw memberikan pilihan kepada Zaid ra untuk bebas dan pulang bersama orang tuanya, bertemu kembali dengan keluarganya dan teman-temannya. Bukankah ini impian tertinggi dari seorang budak?

Namun Zaid ra menolak semua itu.

Bayangkan apa yang mungkin menyebabkan seorang Zaid ra sebagai seorg budak, menolak kebebasan dan pulang kerumahnya? Apa yang menyebabkan Zaid ra ini menolak untuk mendapatkan hak asasinya sebagai seorang manusia, kehormatan dan harga dirinya? Keputusan yang sama sekali tidak wajar bagi seorang yang berakal sehat. Tapi Zaid ra bukan seorang gila, akalnya sama sehatnya dengan orang sebayanya. Lalu apa motivasi Zaid ra untuk mengambil keputusan yang luar biasa menyimpang dari kewajaran ini?

Kepada ayahnya yang ketika itu menjemputnya, Zaid ra mengatakan, “Sungguh aku melihat kebaikan pada org ini (Rasulullah saw).” Seorang budak yang memiliki nurani yang bersih sehingga ia dapat melihat keagungan akhlak Rasulullah saw. Menjadi budak Rasulullah saw tidak membuatnya kehilangan harga dirinya, tidak membuatnya kehilangan kehormatannya ataupun didzalimi. Namun sebaliknya, jiwanya senantiasa bersih dan fitrahnya terjaga.

Inilah bashirah seorang Zaid ra, yang lebih memilih menjadi seorang budak dari seseorang yang bersosok mulia. Perlu dicatat, tidak Rasulullah Saw maupun siapapun yang mengetahui bahwa Rasulullah Saw akan diangkat menjadi nabi Allah Swt ketika itu. Namun Zaid ra bisa mencium aroma kemuliaan dan keagungan Rasulullah Saw dari kesempurnaan akhlak dan kejujuran seorang Muhammad Saw. Hanya orang yang memiliki kebersihan hati dan kejujuran jiwa yang dapat melihat kebenaran dan kebaikan dengan sedemikian jernih sehingga ia lebih memilih untuk menjadi seorang budak dibandingkan bebas.

Ali ra pernah mengatakan sebuah kalimat yang bijak, “Kenalilah kebenaran, maka kau akan mengenali ahlinya.” Dan dibutuhkan apa yang dimiliki Zaid ra, seorg budak Rasulullah Saw, untuk mengenali kebenaran itu. Mari kita belajar dari kebersihan hati dan kejujuran seorang budak bernama Zaid bin Haritsah ra, lalu kita rengkuh kebenaran dari ahlinya.

Wallahu a’lam bish-showab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s