Tausiyah

Nuansa Ikhlas

‎​Kunci dari diterimanya sebuah amal adalah keikhlasan hati. Banyak dari kita yang kurang menyadari kalau seluruh hidup kita adalah serangkaian ibadah yang satu ke ibadah yang lain.

Seorang suami yang bangun sebelum subuh kemudian mengajak istrinya untuk qiyammullail, maka si suami telah memberikan semangat untuk si istri dalam menjalani kesibukkan harinya. Dan inilah ibadah yang mengawali hari si suami. Setelah sore, sang istri membuatkan secangkir teh atau kopi hangat, menyambut suaminya dengan senyuman penuh ikhlas yang kemudian menghilangkan lelah si suami. Sebuah senyuman dan secangkir minuman hangat yang penuh keikhlasan telah menyegarkan penat si suami, dan ini adalah sebuah bentuk ibadah. Hanya amalan2 yang diniatkan dengan keikhlasanlah yang akan mendapatkan hasil yang lebih memuaskan daripada rasa keberhasilan itu sendiri.

Ikhlas adalah penerimaan kondisi diri kita sebagai manusia yang tidak sempurna yang telah diciptakan oleh sebuah kekuasaan dari Dzat Yang Maha Agung. Dengan keikhlasan., tiap insan akan hidup dalam sebuah nuansa yg bersih dari segala penyakit hati, seperti riya, sombong ujub, dengki dan iri.

Nuansa keikhlasan dari seseorg akan terpancar keluar dari dirinya. Ada sikap rendah hati, ramah, pantang putus asa, mengasihi, dan zuhud dlm dirinya. Dia tidak akan terlarut dalam kesedihan, tidak mudah kecewa, tenang, tidak khawatir akan hari ini dan hari esok, ceria dan cerahnya menandingi matahari pagi. Semua ini karena dia sadar, tahu dan yakin akan kehendak Dzat yang telah menciptakannya adalah yang terbaik untuknya.

Dia menyikapi kekecewaan dan kesedihan sebagai penebus kesalahannya di masa lalu, dan karenanya dia dapat tersenyum bahagia. Dia menyikapi nikmat sebagai sebuah ujian yang harus ia lewati, dan karenanya dia tidak larut dan hanyut dalam kenikmatan itu.

Seringkali kita menemukan kesalahan persepsi mengenai makna kata IKHLAS. Kata ini seringkali dimaknakan dengan makna kepasrahan semata. Tentu pasrah dan ridha kepada kehendak Allah Swt adalah bagian yang tidak kalah penting dalam agama, dan termasuk ke dalam kategori ikhlas. Namun ikhlas memiliki makna yang jauh lebih dalam dari itu.

Ikhlas adalah kata kerja aktif, sama sekali bukan pasif. Ikhlas memiliki arti mengakui segala sesuatu berasal dari Allah Swt, dan dari pemahaman inilah kepasrahan dan keridhaan akan segala sesuatu muncul. Karena ia berasal dr Allah Swt Yang Maha Mengetahui, maka kita meridhai apa yang dikehendaki-Nya dengan harapan bahwa Allah Swt akan juga meridhai keikhlasan kita.

Tapi makna ikhlas tidak berhenti sampai disitu, ikhwah fillah rahimahullah. Ikhlas juga berarti segala sesuatu akan kembali kepada-Nya. Dan jika segala sesuatu kembali kepada-Nya termasuk amal ibadah, daya upaya kita, maka tidakkah kita ingin memberikan yang terbaik? Jadi dengan ikhlas kepada Allah Swt kita tidak bersikap pasif dan ‘nrimo’ semata, tapi sebaliknya kita aktif dan giat berusaha melakukan yang terbaik untuk-Nya.

“…, mereka itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan merekalah org-org yang lebih dahulu memperolehnya.” (QS. 23 : 61)

Sebuah renungan di tengah malam, dan semoga kita dapat merengkuh nuansa yang penuh keikhlasan dalam hati kita, kemudian kita pancarkan kepada suami istri kita, anak kita, saudara kita, rekan kantor, teman dan setiap insan yang berjodoh dgn kita. Selamat malam dan semoga kita senantiasa berada dalam naungan-Nya.

Satu pemikiran pada “Nuansa Ikhlas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s