Tausiyah

Ikhlas dan Sabar

Ikhwah fillah, ujian terberat bukanlah jalan yang dipenuhi dengan duri-duri tajam dan cambuk penguasa zhalim, bukan pula jalan yang dipenuhi duka cita dan surau tangis, bukan juga jalan yang penuh dengan kehinaan di mata manusia dan kerendahan di mata orang fasik. Jalan-jalan diatas adalah ujian dalam kehidupan yang sebagian besar kita sudah dipersiapkan untuk menghadapinya.

Sungguh, ada banyak orang mulia yang menempuh jalan di atas dan mereka ikhlas dan ridha karena kebenaran. Dan tidaklah pantas bagi kita untuk meragukan kemuliaan mereka. Sebutlah budak Habsyi bernama Bilal nan mulia, atau Maula Rasulullah Saw Zaid bin Haritsah. Mereka telah mendapatkan kemenangan yang agung di sisi Allah Swt.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw justru menyatakan kekhawatiran akan umatnya, bukan pada jalan-jalan tersebut. Namun pada jalan yang penuh keharuman dunia, bergelimangan kilauan emas, berada diatas gunung-gunung kekuasaan. Inilah jalan yang dikhawatirkan oleh Rasulullah Saw atas umatnya. Tipuan fana dunia yang menjadi kesenangan pemenuh syahwat.

Dalam setiap kesengsaraan dunia, ada pintu yang terbuka bagi kita untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Swt. Kuncinya adalah keikhlasan dan kesabaran. Ikhlas bangkitkan kesadaran akan kemuliaan surga jauh berada di atas dunia ini. Dan sabar menumbuhkan harap dan rindu yang hilangkan getir pahit kesengsaraan. Namun, ujian terkadang datang dalam bentuk yang justru menjadi kesenangan dan kenikmatan bagi kita.

Ada sebuah pelajaran berharga dalam sejarah yang tercatat dalam ayat-ayat Allah Swt. Bagaimana segolongan umat memperdayai diri mereka demi kesenangan mereka. Bagaimana para pemuda Yahudi mengakali ketentuan Allah atas mereka dengan melanggar Sabat. Mereka lancang dan membangkang atas ketentuan Allah Swt dan berusaha memperdayai Allah Swt dengan akal hina mereka. Adakah kita lihat keikhlasan dan kesabaran dalam pribadi-pribadi angkuh ini?

Ikhwah fillah, ikhlas dan bersabar menjadi kunci kemenangan yang agung. Baik dalam menghadapi kesengsaraan dunia maupun dalam mengarungi nikmat-Nya.

Adakah kita bersabar dalam menerima limpahan nikmat Allah Swt? Dengan bersyukur, kemudian mengikhlaskan sebagian rezeki dan nikmat tersebut di jalan Allah Swt. Adakah kita ber-azzam untuk memenuhi panggilan shodaqoh dan infaq, walaupun kita sadar hujjah Allah Swt berada dibalik hikmah keduanya?

Wallahu a’lam bish-showab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s