Kehidupan

Anak Yatim dan Fakir Miskin… dan Iman Kita

Pernahkah anda mendengar mengenai berapa banyak anak yatim yang ada di Indonesia sekarang ini? Mungkin tidak. Tahukah anda mengapa ada sedemikian banyak anak yatim di Indonesia? Mungkin juga tidak. Data yang dikumpulkan oleh organisasi kemanusiaan Save the Children, bekerja sama dengan UNICEF, menunjukkan sekitar 6% dari 500 ribu anak yang berada dalam pengasuhan rumah yatim piatu, benar-benar yatim piatu. Bagaimana dengan sisa 94% yang lainnya? Penelitian ini dilakukan pada akhir tahun 2009 yang lalu.

Tentu angka 500.000 anak yang diasuh di yatim piatu tersebut belumlah jumlah total dari keseluruhan anak yatim di Indonesia. Data tersebut merupakan data yang dikumpulkan menggunakan metode statistik modern untuk mengambil sebuah kesimpulan umum. Dan angka 6% dari 500.000 anak asuhan yatim piatu tersebut yang merupakan benar-benar anak yatim, mungkin masih belum akurat. Namun angka tersebut seharusnya sudah dapat menjadi acuan kita untuk mengambil sebuah kesimpulan, dan mencari tahu alasan mengapa 94% anak asuhan yatim piatu di Indonesia tidak berada bersama dengan orang tua mereka.

Menurut hasil penelitian Save the Children tersebut, 94% dari anak asuhan yatim piatu di Indonesia “menjadi” yatim piatu karena alasan kemiskinan. Orang tua mereka tidak mampu untuk menafkahi mereka dengan layak, sehingga mereka “menitipkan” anak-anak mereka di rumah-rumah pengasuhan yatim piatu. Kemiskinan rakyat Indonesia tenyata berdampak sangat besar terhadap jumlah anak asuhan yatim piatu.

Berdasarkan data yang diberikan oleh BPS, jumlah populasi Indonesia adalah 206,3 juta jiwa. BPS memberikan data jumlah penduduk miskin di Indonesia sebesar 32,5 juta jiwa yang tersebar di seluruh propinsi di Indonesia. Standar kemiskinan yang diterapkan adalah penghasilan rata-rata dibawah Rp 200.000 per bulannya.

Berdasarkan data yang diperoleh dari tabloid The Economist pada tahun 2006, jumlah penduduk yang hidup dengan dengan daya beli dibawah US$ 1 perhari adalah sebanyak 10 juta jiwa. Dan jumlah penduduk yang hidup dengan daya beli dibawah US$ 2 perhari adalah 100 juta jiwa. Artinya, pada tahun 2006 yang lalu sebanyak lebih dari 50% penduduk Indonesia hidup dengan daya beli dibawah kurang lebih Rp 20.000 perhari. Dan dengan membandingkan dengan jumlah populasi Indonesia pada tahun 2006 dan data yang yang disediakan oleh BPS pada tahun 2009, artinya angka kemiskinan di Indonesia meningkat lebih dari 300% sejak tahun 2006.

Lalu bagaimana sikap yang diambil oleh masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim dan berpegang kepada Al Quran?

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian.” (QS. 51:19)

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah: “Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu menggauli mereka, maka mereka adalah saudaramu dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jika Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. 2:220)

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. 107:1-3)

Melihat kondisi masyarakat Indonesia dengan tingginya tingkat kemiskinan dan banyaknya anak yatim, perlukah kita mempertanyakan keimanan kita?

Wallahu a’lam bish-shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s