Kehidupan

Menguraikan Isi Benak

Taqlid Adalah Penutup Akal Pikiran

Taqlid itu adalah suatu penghalang besar untuk kemerdekaan akal. Itulah pengekang utama terhadap kebebasan berpikir dan oleh sebab itulah maka Allah Ta’ala memuji sekali kepada orang-orang yang dapat menjernihkan sesuatu tentang hakikatnya, disisihkannya dari benda-benda lain, dibedakan dan dimurnikan benda-benda itu setelah dibahas, diperiksa, diteliti dan disaring oleh akal pikirannya. Selanjutnya diambillah mana-mana yang dianggapnya terbaik dan ditinggalkanlah yang lainnya.

Allah Ta’ala berfirman :

“Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. 39:17-18)

Allah Ta’ala benar-benar mencela dan mengejek serta menyalahkan kepada orang-orang yang suka mengekor, mengembik, yakni ahli taqlid yang tidak suka menggunakan akal pikirannya sendiri. Yang mereka ikuti hanyalah akal orang-orang lain. Mereka betul-betul beku, sebab hanya mengikuti alam pikiran kuno yang sudah terbiasa dan berlangsung sejak dulu disekitarnya, sekalipun yang baru itu sebenarnya lebih tepat, lebih cocok, lebih sesuai dan lebih dapat dipertanggungjawabkan karena sesuai dengan petunjuk dari Tuhan.

Allah Ta’ala berfirman :

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab: ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.’ (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. 2:170)

– oleh Sayyid Sabiq, Aqidah Islam

———-

Fenomena yang sering ditemui belakangan ini adalah banyak di antara kita yang kehilangan pemahaman yang diawali dari kemalasan berpikir dan kelalaian dalam memahami. Tulisan Syaikh Sayyid Sabiq, semoga Allah merahmatinya, menggambarkan dengan jelas bahwa pemahaman akan sesuatu berdasarkan penelaahan, penelitian dan upaya kritis mengenai sesuatu itu perlu dilakukan sebelum kita dapat lanjut mengambil kesimpulan dan menerima sesuatu. Artinya ada dasar analisis yang dapat kita jadikan patokan, standar dan pegangan, terhadap setiap perilaku kita. Inilah kebebasan akal dalam kerangka aqidah, menurut Syaikh Sayyid Sabiq.

Yang kemudian menjadi masalah adalah ketika umat Islam gagal membebaskan akal mereka dari kungkungan tradisi, lingkungan sosial masyarakat, stigma-stigma kaku, rantai komando yang dogmatis, kebijakan organisasi, perintah atasan dan lain sebagainya. Hal ini adalah sebuah musibah dimana akal mati dan gagal memenuhi perannya untuk berpikir, menelaah, mengkritisi dan mengkoreksi kesalahan, yang kemudian memungkinkan hal yang awalnya adalah sebuah ijtihad menjadi sebuah kemungkaran. Diawali dari kemungkaran yang terlihat ringan namun memiliki efek bola salju, yang kemudian semakin besar dan terus membesar sehingga kemudian menghancurkan bangunan aqidah yang ringkih karena landasannya bukan lagi tauhid.

Ada sebuah fenomena ketika seseorang yang memilih untuk belajar dari salah seorang ustadz, mengikuti pengajian-pengajiannya, mendengarkan siaran radionya namun menolak untuk mencari rujukan lain selain dari sang ustadz tersebut. Ia bahkan menolak untuk membaca kitab apa yang dikaji oleh sang ustadz, untuk sekedar cross check, berusaha memahami dan melengkapi pemahaman yang ia miliki. Menurutnya apa yang dikatakan oleh sang ustadz sudah tentu benar karena sang ustadz adalah seorang ahli hadits, ahli fiqih, ahli-ahli lainnya.

Fenomena yang menarik lainnya adalah ketika seorang aktivis dakwah bisa berdebat dan membantah dengan penuh retorika dan argumen yang sangat logis dan tajam, ketika berhadapan dengan aktivis liberal, namun gagal mencerna ketika logika liberal yang sama digunakan oleh organisasi yang menaunginya. Berbagai bantahannya terhadap logika liberal yang sesat dan menyesatkan tidak ujung terpakai jika yang menggunakan logika liberal tersebut adalah organisasinya sendiri. Terlebih lagi sang aktivis dakwah ini dapat dikatakan mumpuni secara ilmu, namun ada kegagalan dalam menggunakan akal ketika berhubungan dengan kebijakan organisasinya, keputusan pemimpinnya dan atau pernyataan dari gurunya.

Kemudian dalam skala yang lebih besar adalah ketika sekelompok orang dalam sebuah organisasi gagal memahami peran mereka sebagai muslim yang berdakwah, karena mereka kehilangan makna dari dakwah itu sendiri. Mereka kemudian melihat dakwah dalam sebuah kacamata sempit. Kalau anda sedang mengadakan kegiatan sosial, maka anda sedang berdakwah. Jika anda sedang sama-sama mengaji, maka anda melestarikan dakwah. Kalau anda sedang menikmati nuansa demokrasi negara ini, maka anda sedang berdakwah. Bila anda bersama-sama berperan aktif dalam masyarakat, maka anda sedang berdakwah. Kalau anda tidak bersama kami dalam gerbong dakwah kami, maka anda belum berdakwah. Dakwah menjadi parsial dan terbagi dalam lingkup yang kecil-kecil. Kegagalan mereka untuk memahami makna dari dakwah itu sendiri, berpikir kreatif, optimis, sabar, kritis, dan terutama menggunakan akal, menyebabkan kesemuan dan efek fatamorgana dalam aktivitas yang mereka sebut sebagai ‘dakwah’.

Mengejutkan bahwa pernyataan diatas keluar dari seorang tokoh masyarakat, aktivis sosial, aktivis dakwah dan seorang yang dikenal bijak pemikirannya. Yang benar-benar mengejutkan adalah, jika pada level setingkat beliau ini mengalami kegagalan pemikiran semacam ini, perlu ditanyakan bagaimana dengan mereka-mereka yang tingkat pemahamannya berada di bawah beliau. Dan juga perlu untuk ditanyakan adalah darimana awal kegagalan memahami esensi demokrasi, Tuhan, dan penetapan prioritas kesejahteraan masyarakat sebagai hal yang lebih substansial dibandingkan aqidah masyarakat.

—–

“Substansi ada pada sesuatu dibalik nama, bukan pada nama itu sendiri” – Imam Hasan al Banna

Imam Al Banna dengan sederhana menjelaskan panduan pola pikir dalam memahami sesuatu terletak pada apa yang berada di balik nama itu, bukan semata-mata pada nama itu sendiri. Pemahaman ini membutuhkan sebuah upaya untuk melakukan analisa terhadap segala sesuatu berdasarkan pengamatan, penelusuran sejarah, penelaahan akan sesuatu untuk memahami sesuatu tersebut. Satu kalimat yang menggambarkan tingkatan pemahaman sang Imam yang tinggi terhadap ilmu.

Dengan acuan berpikir seperti ini, maka kita akan melihat segala sesuatunya dari perspektif yang berbeda. Seperti demokrasi bukan hanya sekedar pemilu semata, dakwah bukan sekedar kegiatan baksos, belajar bukan sekedar mengekor dan pemahaman aka berlaku universal jika dipandang secara obyektif. Selama beberapa minggu terakhir, pemikiran mengenai hal-hal ini berkecamuk di dalam angan-angan dan agak mulai mengganggu, hingga apa yang dikatakan Imam Al Banna terbersit. Acuan inilah yang kurang dalam memahami dan yang kemudian berujung kepada kegagalan akal untuk membebaskan pikiran, memerdekakan pikiran untuk memilah apa yang baik dan buruk, apa yang haq dan apa yang bathil.

Demokrasi jika kita lihat apa yang berlaku dibalik namanya, maka akan terlihat sebuah praktik penuhanan dan pengkultusan terhadap suara rakyat. Tentu kita harus pahami terlebih dahulu apa makna al-Ilaah dan ar-Rabb untuk kemudian dapat kita definisikan siapa tuhan dalam demokrasi, siapa hamba dalam demokrasi, dan bagaimana perilaku ibadah dalam demokrasi. Perenungan ini akan berujung kepada sebuah kesimpulan sederhana, bahwa demokrasi adalah sebuah agama secara utuh dimana ada tuhan yang disembah dan diikuti syariatnya dan ada syariat yang dilakukan sebagai bentuk ibadah. Lucunya, ada seorg kader dakwah dan aktivis politik kampus yang tertawa mendengar demokrasi didefinisikan sebagai agama. Sebuah contoh akan pemikiran yang terpaku dan taqlid terhadap apa yang diajarkan kepadanya, hingga kemudian menolak untuk kreatif dan kritis dalam berpikir.

Menuntut ilmu membutuhkan lebih dari sekedar membaca, mendengarkan pengajian atau ceramah, menghafal namun semua dikerjakan tanpa ada maksud untuk memahami. Terlebih lagi jika apa yang dilakukan hanya terhenti pada tahap mendengarkan ceramah pengajian tanpa ada niat untuk membaca kitab yang dikaji, melakukan klarifikasi terhadap isi ceramah, membandingkan dengan pendapat dari guru yang lain. Tentu akan semakin jauh dari keberhasilan dan semakin mendekati kegagalan akal, yang kemudian berujung pada kejumudan dan taqlid. Kejumudan dan taqlid akan berujung kepada penerimaan mutlak terhadap apa yang diajarkan, diinformasikan, doktrin, perintah dari guru, ustadz, pemimpin, dan lain sebagainya tanpa ada rasa ingin tahu, kritis untuk memahami apa yang sebenarnya diminta dari kita, apa yang sebenarnya terjadi dari kacamata yang obyektif. Maka jadilah si aktivis dakwah hanya dapat mengkritisi pemikiran orang lain dan seakan tutup mata jika pemikiran yang sama diterapkan oleh organisasinya.

Al Qur’an telah tegas menjelaskan mengenai dakwah agar kita melihat apa substansi di balik kata “dakwah” :

“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.'” (QS. 12:108)

1. Penegasan akan identitas diri, tidak menyamarkan dengan aqidah yang lain, tidak mengaku-aku sebagai yang lain.

2. Ajakan yang nyata kepada orang lain untuk menuju jalan Allah.

3. Memberikan hujjah yang nyata, berupa hikmah dari ayat-ayat Allah dan sunnah Rasulullah

4. Ditujukan kepada Allah semata, bukan demi prestise, kehormatan, kekayaan, kejayaan kelompok atau organisasi, atau apapun itu.

5. Pengingkaran akan thogut sehingga ada pernyataan diri bukan seorang yang musyrik.

Dakwah dapat dijabarkan secara ringkas dengan ayat QS 12:108 menjadi lima poin sederhana seperti diatas. Kalau apa yang dilakukan kurang dari lima poin diatas, maka dapat dipastikan bahwa itu hanya bagian dari dakwah atau malah bukan dakwah sama sekali. Sayangnya, aktivis dakwah sekarang ini seringkali melupakan satu bagian paling penting dari dakwah, yaitu poin ke 5 dimana mereka harus menyatakan diri mengingkari thogut dan menyatakan dirinya bukan orang yang menyekutukan Allah.

Permasalahan dengan poin ke 5 ini adalah banyak aktivis dakwah yang tidak memahami apa itu thogut. Mereka secara sederhana menganggap bahwa patung berhala adalah thogut, tapi menolak untuk mengkritisi pemikiran mereka itu dengan pemikiran-pemikiran yang baru dan maju. Mereka menolak untuk menerima bahwa thogut telah hadir di dunia modern dengan tampilan baru, berpakaian, berdasi, bersepatu, menaiki kendaraan merk luar negeri dan lain sebagainya. Pemikiran para aktivis dakwah ini menyempitkan makna dakwah dan kemudian bahkan menghilangkan makna dakwah dari aktivitas mereka, walaupun mereka masih beranggapan bahwa mereka sedang berdakwah. Hanya karena mereka tidak mengenali yang mana thogut. Atau sebagian dari mereka menyadari kalau sebenarnya mereka sedang bekerja untuk thogut, namun mereka mengingkarinya dengan mengatasnamakan maslahat umat. Dan dakwah pun ditinggalkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s